Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Sekarat

Trump Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Sekarat
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump menolak proposal Iran dan menyebut gencatan senjata Timur Tengah sekarat, memicu lonjakan harga minyak serta kekhawatiran krisis energi global.
  • Iran menegaskan kesiapan menghadapi agresi AS dan menuntut penghentian blokade laut serta pembebasan aset yang dibekukan, sementara Selat Hormuz kembali jadi titik panas dunia.
  • Ketegangan di Teluk mengguncang pasar energi dan pangan global; para pejabat memperingatkan potensi krisis kemanusiaan besar jika jalur perdagangan tidak segera dipulihkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan gencatan senjata dalam konflik Timur Tengah kini berada di ujung tanduk setelah ia menolak proposal balasan terbaru dari Iran. Pernyataan keras Trump langsung memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran terhadap krisis energi global.

Ketegangan terbaru muncul setelah Iran menyerahkan respons atas proposal Washington terkait upaya perdamaian dan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur pelayaran komersial. Namun, Trump menyebut jawaban Teheran sama sekali tidak bisa diterima.

Trump bahkan menggambarkan kondisi gencatan senjata yang selama lebih dari sebulan terakhir menahan eskalasi perang di kawasan Teluk berada dalam kondisi kritis.

“Gencatan senjata sekarang berada di alat penunjang hidup besar-besaran, seperti ketika dokter masuk dan berkata, ‘Tuan, orang yang Anda cintai punya peluang hidup sekitar satu persen’,” kata Trump kepada wartawan, dilansir dari France24, Selasa (12/5/2026).

Sebelumnya, Trump juga mengecam proposal Iran sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima. Trump menegaskan, Amerika Serikat akan meraih kemenangan penuh atas Iran.

Pernyataan tersebut langsung memperburuk kekhawatiran pasar global yang sebelumnya berharap kesepakatan baru bisa membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

1. Iran tegaskan siap balas serangan

Ilustrasi Peta tentara dan bendera Iran,Amerika Serikat dan israel
Ilustrasi Peta tentara dan bendera Iran,Amerika Serikat dan israel

Tak lama setelah pernyataan Trump, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya siap menghadapi segala kemungkinan “Angkatan bersenjata kami siap merespons dan memberi pelajaran atas setiap agresi,” tulis Ghalibaf di platform X.

Ia juga menyindir strategi Washington yang dinilai justru memperburuk situasi. “Strategi yang buruk dan keputusan yang buruk selalu menghasilkan akibat yang buruk dunia sudah memahami hal ini,” ujarnya.

Pemerintah Iran sendiri menyatakan proposal balasan mereka meminta penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Iran juga menuntut pembebasan aset-aset milik Iran yang selama bertahun-tahun dibekukan di bank asing.

“Kami tidak meminta konsesi apa pun. Satu-satunya yang kami minta adalah hak sah Iran,” kata Baqaei.

2. Selat Hormuz jadi titik panas dunia

Selat Hormuz
Selat Hormuz (Wikipedia.com)

Kegagalan mencapai kesepakatan baru membuat perhatian dunia kembali tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang kini berada di bawah tekanan besar. Iran diketahui membatasi lalu lintas kapal di wilayah tersebut dan mulai menerapkan mekanisme pembayaran bagi kapal yang melintas.

Pemerintah AS menilai langkah Iran mengendalikan jalur pelayaran internasional itu tidak bisa diterima. Trump mengatakan, dirinya sedang mempertimbangkan kembali operasi militer AS untuk mengawal kapal tanker minyak dan kapal komersial melewati Selat Hormuz, namun hingga kini, keputusan final belum diambil.

Sebelumnya, sumber Saudi mengatakan Arab Saudi pernah melarang AS menggunakan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk operasi serupa karena khawatir justru akan memperparah konflik.

Di tengah situasi itu, juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei memperingatkan, kesabaran Iran telah habis. “Kesabaran kami berakhir mulai hari ini,” tulis Rezaei di media sosial.

“Setiap serangan terhadap kapal kami akan memicu respons Iran yang kuat dan tegas terhadap kapal serta pangkalan Amerika,” lanjutnya.

3. Dunia khawatir krisis energi dan pangan

Industri pengolahan minyak dan gas.
ilustrasi energi (pexels.com/Tom Fisk)

Memanasnya konflik membuat pasar energi global semakin terguncang. Gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk disebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.

CEO dan Presiden perusahaan minyak Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan dampaknya tidak akan cepat pulih meski Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat.

“Guncangan pasokan energi yang dimulai pada kuartal pertama adalah yang terbesar yang pernah dialami dunia,” ujar Nasser.

“Jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang,” sambungnya.

Selain energi, dunia juga mulai menghadapi ancaman krisis pupuk dan pangan karena banyak pasokan berasal dari pelabuhan-pelabuhan di kawasan Teluk.

Direktur Eksekutif Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Layanan Proyek (UNOPS) Jorge Moreira da Silva memperingatkan dunia hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk mencegah bencana kemanusiaan besar.

“Kita mungkin akan menyaksikan krisis yang memaksa 45 juta orang tambahan masuk ke dalam kelaparan dan kelaparan ekstrem,” kata Silva.

Di tengah ketidakpastian itu, pembicaraan antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung, sementara dunia menunggu apakah jalur diplomasi masih mampu menyelamatkan situasi yang kian memburuk.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More