Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PM Inggris Tuduh Rusia Campuri Referendum Brexit 2016
PM Inggris Andy Burnham (LBJLibraryNow, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • PM Inggris Andy Burnham menuduh Rusia mencampuri referendum Brexit 2016 berdasarkan penjelasan penasihatnya, tetapi belum membeberkan bukti atau metode intervensi tersebut.
  • Kelompok pro-Brexit mengecam tuduhan itu sebagai upaya merusak legitimasi referendum, sementara Rusia membantah dan laporan parlemen 2020 menyoroti minimnya penyelidikan propaganda serta bot.
  • Survei YouGov menunjukkan 60 persen warga Inggris kini menilai Brexit sebagai kesalahan; Burnham ingin menata ulang kerja sama Eropa dan membuka peluang kampanye bergabung kembali ke UE.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Inggris Andy Burnham menuduh Rusia ikut campur dalam referendum Brexit pada 2016. Pernyataan ini menjadi pengakuan terbuka pertama dari seorang pemimpin Inggris terkait dugaan campur tangan Moskow dalam pemungutan suara tersebut.

Burnham menyampaikan pernyataan tersebut dalam podcast The Rest is Politics yang dirilis pada Minggu (11/10/2026). Ia menilai temuan ini perlu dibuka ke publik demi memperingatkan negara-negara Eropa lain, terutama Jerman dan Prancis, tentang ancaman disinformasi dari Rusia.

1. Burnham belum memberi bukti terkait keterlibatan Rusia

Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

Burnham mengaku langsung meminta penjelasan kepada para penasihatnya begitu mulai menjabat sebagai PM pada Juli. Dari penasihat tersebut, ia menerima jawaban tegas bahwa Moskow memang ikut campur dalam referendum sepuluh tahun lalu.

"Saya bertanya ketika tiba di Downing Street, apakah ada campur tangan dari Rusia dalam referendum 2016? Saya mendapat jawaban yang jelas bahwa ya, memang ada," kata Burnham, dilansir BBC.

Meski mengonfirmasi adanya intervensi, Burnham belum membeberkan bukti nyata atau rincian metode yang digunakan Rusia dalam memengaruhi pemilih. Ia menilai informasi ini tetap penting disampaikan agar publik memahami upaya pihak asing dalam mengacaukan proses demokrasi.

Kekhawatiran serupa juga ia sampaikan kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz saat berkunjung ke Berlin pekan lalu. Burnham menyebut Merz turut mencurigai partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) memiliki hubungan dekat dan menerima pendanaan dari Rusia.

2. Kubu pro-Brexit kecam pernyataan PM

ilustrasi bendera Inggris. (unsplash.com/simon frederick)

Pernyataan Burnham langsung menuai kritik dari kelompok pendukung Brexit di Inggris. Kelompok kampanye Britain Unbound menuding sang PM sengaja merusak legitimasi keputusan referendum 2016.

"Tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa intervensi Rusia memengaruhi hasil referendum pada 2016. Sungguh menghina jika menganggap para pemilih begitu mudah dibodohi," kata perwakilan Britain Unbound, dilansir BBC.

Di sisi lain, pemerintah Rusia berulang kali membantah tuduhan campur tangan dalam pemilu maupun referendum negara barat. Moskow menilai para politisi di London sengaja menyebarkan tuduhan tersebut karena terus terjebak dalam histeria anti-Rusia.

Isu intervensi ini sebenarnya pernah disorot dalam laporan Komite Intelijen dan Keamanan Parlemen Inggris pada 2020. Laporan tersebut mengkritik pemerintah karena tidak pernah menyelidiki secara mendalam dampak propaganda media pemerintah Rusia maupun jaringan akun bot saat referendum Brexit berlangsung.

3. Survei: 60 persen warga Inggris menyesal keluar UE

demonstran penentang Brexit (ChiralJon, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Referendum pada Juni 2016 berakhir dengan kemenangan kubu Brexit lewat perolehan 52 persen suara berbanding 48 persen. Namun setelah satu dekade berjalan, pandangan masyarakat Inggris terhadap keputusan tersebut mulai berubah drastis.

Hasil jajak pendapat terbaru YouGov mencatat rekor penyesalan publik, dengan 60 persen responden kini menilai keputusan keluar dari UE adalah sebuah kesalahan. Pihak penentang memandang Brexit justru melemahkan perekonomian nasional serta memperburuk penanganan isu imigrasi.

Burnham sendiri menilai kepergian Inggris dari blok tersebut membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat. Oleh sebab itu, ia berencana membangun konsensus politik baru untuk menata ulang arah kerja sama dengan negara-negara di Eropa.

Ia bahkan membuka peluang untuk mengampanyekan wacana bergabung kembali dengan UE pada pemilu mendatang. Sementara itu, negara mitra seperti Prancis dan Spanyol menyambut baik sinyal positif yang ditunjukkan London.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article