Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prancis Hubungi Taliban untuk Deportasi Imigran Afghanistan
ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky)
  • Prancis menghubungi Taliban untuk membahas teknis deportasi imigran Afghanistan ilegal yang dinilai berisiko bagi keamanan, tanpa negosiasi pengakuan terhadap pemerintahan Taliban.
  • Pemerintah Prancis belum mengungkap jumlah deportan, meski dilaporkan ratusan warga Afghanistan dapat dipulangkan sebagai bagian percepatan kebijakan tersebut.
  • Langkah Prancis mengikuti sejumlah negara Eropa, sementara kasus seorang penerima suaka Afghanistan yang diduga terkait terorisme turut menjadi sorotan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Prancis mengakui telah menghubungi pemerintah Taliban di Afghanistan pada Jumat (9/10/2026). Langkah ini untuk menindaklanjuti proses deportasi imigran Afghanistan yang masuk ke Prancis secara ilegal dan dianggap sebagai ancaman keamanan. 

Tak hanya Prancis, Jerman juga sudah menghubungi pemerintah Taliban untuk mendeportasi warga Afghanistan yang divonis atas kasus kriminalitas. Alhasil, sudah ada beberapa penerbangan untuk memulangkan imigran dari Jerman ke Afghanistan. 

1. Sebut langkah ini untuk mengamankan warga Prancis

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/nimbus_vulpis)

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux mengungkapkan bahwa diskusi dengan Taliban hanya mengenai teknis pemulangan imigran. Ia memastikan tidak ada negosiasi soal pengakuan Taliban di Afghanistan. 

“Inisiatif ini untuk memastikan keamanan warga Prancis. Ini hanya mengenai teknis untuk memfasilitasi pemulangan imigran Afghanistan yang masuk ke Prancis secara ilegal dan berisiko membahayakan keamanan negara,” terangnya, dikutip dari RFI. 

Akan tetapi, pemerintah Prancis tidak menyebutkan berapa jumlah imigran yang akan dideportasi. Namun, kabarnya terdapat ratusan imigran Afghanistan yang akan dipulangkan. 

2. Ikuti kebijakan negara Eropa lainnya

ilustrasi bendera Jerman (unsplash.com/iamateapot)

Negosiasi dengan Taliban ini menunjukkan niat Prancis untuk mempercepat pemulangan warga Afghanistan. Kebijakan ini mengikuti sekitar 20 negara anggota Uni Eropa (UE) yang memulangkan imigran yang divonis kasus kriminalitas. 

Sebelumnya, Jerman, Belgia, dan Swedia sudah membuka komunikasi dengan Taliban. Diketahui Jerman sudah menerbangkan dua penerbangan khusus untuk memulangkan imigran Afghanistan yang terbukti melakukan tindak kriminalitas.

3. Prancis tetapkan warga Afghanistan dalam kasus terorisme

ilustrasi imigran anak (unsplash.com/salahdarwish)

Pada awal Agustus, Prancis sudah menetapkan seorang pemuda Afghanistan, bernama Awalkhan K, yang menerima suaka sejak 2023. Pemuda 28 tahun tersebut diduga sempat kembali ke Afghanistan untuk berlatih militer dan menjadi anggota kelompok teroris. 

Sebelumnya, ia sudah pergi dari Afghanistan setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Awalnya, ia berada di Turki selama 2 tahun dan berencana pindah ke Inggris. Sayangnya, kapalnya rusak di Selat Inggris dan memutuskan tetap berada di Prancis. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article