Pakistan Kembali Serang Afghanistan, Taliban: 9 Warga Tewas

- Pakistan melancarkan serangan udara di Kunar dan Helmand, mengklaim menewaskan sekitar 22 teroris, sementara Taliban melaporkan sembilan warga sipil tewas dan 11 terluka.
- Saksi menyebut serangan sekitar 30 menit terjadi dini hari, menghantam rumah warga; Taliban mengecamnya sebagai agresi dan pelanggaran prinsip yang berlaku umum.
- Ketegangan Pakistan-Afghanistan berlanjut setelah gencatan senjata Maret 2026 gagal bertahan; PBB mencatat lebih dari 500 warga sipil tewas sejak Oktober 2025.
Jakarta, IDN Times - Pakistan kembali melancarkan serangan udara ke Afghanistan, dengan mengklaim menargetkan kamp dan tempat persembunyian kelompok bersenjata. Sekitar 22 teroris dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Namun, pemerintah Afghanistan menyampaikan pernyataan berbeda. Pihaknya mengatakan bahwa serangan pada Kamis (1/10/2026) tersebut menghantam rumah-rumah warga di provinsi Kunar dan Helmand, menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dan melukai 11 lainnya.
"Kami mengecam tindakan tersebut dan menganggapnya sebagai agresi serta kejahatan yang melanggar semua prinsip yang berlaku umum," tulis juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, di akun X.
1. Serangan udara berlangsung selama sekitar 30 menit

pesawat tempur (pexels.com/Rafael Minguet Delgado) Qudratullah, seorang saksi mata dari desa Garmsir di Helmand, mengatakan bahwa serangan udara dimulai sekitar pukul 03.30 waktu setempat ketika warga masih terlelap. Serangan tersebut berlangsung selama 30 menit.
“Kami sedang tidur ketika pesawat jet datang. Setelah bom pertama meledak, kami terbangun. Setelah serangan kedua, kami membawa anak-anak kami dan melarikan diri dari daerah tersebut. Bom ketiga menghantam rumah tetangga kami. Empat hingga lima anggota keluarga mereka tewas, sementara yang lainnya terluka dan dibawa ke rumah sakit," tuturnya kepada BBC.
Mohammad Hashim, seorang petani di provinsi Kunar, mengatakan bahwa ia bergegas menyelamatkan warga setelah serangan tersebut.
"Ada seorang perempuan yang berteriak minta tolong agar dikeluarkan dari reruntuhan. Dia kesulitan bernapas dan memberi tahu kami bahwa masih ada orang lain di sana. Kami pergi ke sana untuk menggali, dan menemukan seorang pria serta empat anaknya yang telah tewas," ujarnya, dikutip AFP.
2. Pakistan tuding Taliban lindungi kelompok militan di Afghanistan

bendera Pakistan (unsplash.com/Abuzar Xheikh) Pakistan berulang kali menuduh Afghanistan menampung kelompok-kelompok bersenjata yang melancarkan serangan lintas batas ke wilayahnya. Namun, Taliban membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa serangan di Pakistan merupakan persoalan internal negara tersebut.
Konflik antara kedua negara ini meningkat tajam pada Februari 2026, ketika Pakistan mengumumkan perang terbuka dengan Afghanistan setelah terjadi peningkatan bentrokan mematikan dan serangan udara lintas perbatasan. Perundingan yang dimediasi China sempat membuahkan gencatan senjata pada Maret 2026, tetapi sayangnya gencatan senjata tersebut tidak bertahan lama.
3. Lebih dari 500 warga sipil tewas akibat konflik Pakistan-Afghanistan sejak Oktober 2025

anggota Taliban (isafmedia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons) Bulan lalu, sedikitnya 24 orang tewas akibat serangan mematikan terhadap sebuah fasilitas kepolisian di wilayah barat laut Pakistan. Pihak berwenang mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).
Pekan lalu, Pakistan juga melancarkan serangan udara di sejumlah provinsi di Afghanistan dengan mengklaim menargetkan kelompok militan. Pemerintah Taliban melaporkan sedikitnya empat warga sipil tewas dalam serangan tersebut.
Menurut data dari misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Afghanistan, lebih dari 500 warga sipil tewas akibat konflik antara kedua negara sejak Oktober 2025.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















