Jakarta, IDN Times - Presiden Iran Masoud Pezeshkian merilis surat terbuka yang ditujukan untuk rakyat Amerika Serikat. Ia menegeskan, menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi dan industri dalam negeri hingga menargetkan rakyat Iran membawa konsekuensi yang sangat serius.
Ia mengingatkan, Iran merupakan salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Terlepas dari keunggulan historis dan geografisnya, Iran tidak pernah, dalam sejarah modernnya, memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi.
Bahkan setelah mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan berkelanjutan dari kekuatan global, meskipun memiliki keunggulan militer, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran tegas dan berani telah menolak agresi militer dari musuh mereka.
Pezeshkian menegaskan, dampak destruktif dari agresi militer AS terhadap kehidupan rakyat Iran yang tangguh tak boleh diremehkan.
"Kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan perspektif masyarakat," kata Pezeshkian dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
"Ini mencerminkan kebenaran mendasar manusia: ketika perang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan, rumah, kota, dan masa depan, orang-orang tidak akan tetap acuh tak acuh terhadap mereka yang bertanggung jawab," imbuhnya.
Menurutnya, agresi AS yang diluncurkan dari pangkalan-pangkalan militer telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer tersebut. Tentu saja, tidak ada negara yang menghadapi kondisi seperti itu akan tinggal diam, mengabaikan kekuatan dan kemampuan pertahanannya.
"Apa yang telah dilakukan Iran—dan terus dilakukan—adalah respons terukur yang didasarkan pada dalam pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi," kata dia.
Pertempuran selama sebulan lebih ini membawa pertanyaan besar bagi rakyat Iran. Pezeshkian mempertanyakan kepentingan rakyat AS mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini.
"Apakah ada ancaman objektif dari Iran yang dapat membenarkan perilaku tersebut? Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom sebuah negara dapat membenarkan tindakan tersebut?" kata dia.
