Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Kenya turun ke jalan untuk memprotes rencana pembangunan fasilitas karantina Ebola di sebuah pangkalan militer yang akan menampung warga negara Amerika Serikat (AS). Aksi ini berlangsung di kota Nanyuki pada Senin (1/6/2026), hanya beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan penangguhan rencana tersebut.
Rekaman menunjukkan sekitar 100 orang berkumpul sekitar 4 kilometer dari lokasi fasilitas yang direncanakan sambil meneriakkan slogan-slogan anti-Ebola dan menuntut agar rencana tersebut dibatalkan. Asap juga terlihat membumbung dari sesuatu yang dibakar di jalan. Sementara itu, polisi dan tentara memperketat penjagaan di jalan-jalan menuju pangkalan militer tersebut.
Dilansir dari The Straits Times, para pejabat senior AS mengatakan bahwa unit berkapasitas 50 tempat tidur yang rencananya dibangun di Pangkalan Udara Laikipia dekat Nanyuki akan menampung warga AS yang terpapar virus Ebola tapi masih belum menunjukkan gejala. Pemerintah Kenya juga telah mengonfirmasi rencana pembangunan fasilitas tersebut, dengan Menteri Kesehatan Aden Duale menyatakan bahwa langkah itu merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat sistem respons darurat.
Menurut pejabat AS, fasilitas itu diperkirakan mulai beroperasi pada Jumat (29/5/2026) lalu. Sejumlah pesawat militer dilaporkan terlihat keluar-masuk Nanyuki pada akhir pekan lalu.
Sejauh ini, Kenya belum mencatat kasus Ebola, yang wabahnya telah menewaskan lebih dari 200 orang di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Oleh sebab itu, warga menolak rencana AS untuk menampung orang-orang yang terpapar virus di negara mereka karena dinilai dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
