"Kita berpacu dengan waktu untuk menghadapi penyakit mematikan ini," kata CEO CEPI, Dr. Richard Hatchett, dalam pengumuman resmi organisasi tersebut.
Ancaman Ebola, Tiga Kandidat Vaksin Dikebut

Wabah Bundibugyo ebolavirus di Kongo dan Uganda menimbulkan lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian, memicu kekhawatiran global karena belum ada vaksin yang disetujui.
CEPI mempercepat pengembangan tiga kandidat vaksin menggunakan teknologi rVSV dari IAVI, mRNA dari Moderna, dan ChAdOx1 dari Oxford-SII untuk menghadapi ancaman Bundibugyo ebolavirus.
Ketiga platform vaksin memiliki rekam jejak keamanan kuat dan pernah digunakan melawan virus serupa, memberi harapan uji klinis cepat menuju otorisasi darurat demi pengendalian wabah.
Dunia kembali dihadapkan pada ancaman Ebola. Kali ini penyebabnya adalah Bundibugyo ebolavirus (BDBV), salah satu jenis virus Ebola yang relatif jarang dibahas dibandingkan Zaire ebolavirus, tetapi mampu menimbulkan wabah dengan angka kematian yang tinggi.
Wabah yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Menurut data yang dikutip Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), wabah tersebut telah menyebabkan lebih dari 900 kasus suspek dan lebih dari 220 kematian suspek. Angka tersebut menjadikannya salah satu wabah filovirus terbesar yang pernah tercatat.
Situasi makin mengkhawatirkan karena belum ada vaksin yang disetujui untuk BDBV, beda dengan Zaire ebolavirus yang sudah memiliki vaksin berlisensi. Karena itulah CEPI mengumumkan langkah darurat untuk mempercepat pengembangan tiga kandidat vaksin sekaligus.
Keputusan tersebut juga mendapat dukungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC Afrika yang menilai pengembangan vaksin menjadi salah satu alat penting untuk mengendalikan wabah di samping upaya kesehatan masyarakat yang sudah berjalan.
Tiga teknologi vaksin yang diuji sekaligus
CEPI mendanai tiga kandidat vaksin yang menggunakan teknologi berbeda. Strategi ini umum digunakan dalam pengembangan vaksin penyakit menular berisiko tinggi. Jika satu pendekatan gagal, masih ada kandidat lain yang berpotensi berhasil.
- Kandidat vaksin dari IAVI
Kandidat pertama dikembangkan oleh organisasi riset vaksin global IAVI.
Vaksin ini menggunakan platform recombinant vesicular stomatitis virus (rVSV), teknologi yang juga menjadi dasar bagi vaksin Ebola yang sudah digunakan untuk melawan Zaire ebolavirus.
Keunggulan utama platform rVSV adalah kemampuannya menghasilkan respons imun yang relatif cepat setelah satu kali dosis. Dalam situasi wabah, kecepatan perlindungan menjadi faktor yang sangat penting karena dapat membantu memutus rantai penularan.
- Kandidat vaksin mRNA dari Moderna
Moderna dikenal luas selama pandemi COVID-19 berkat vaksin berbasis mRNA yang dikembangkannya. Kini teknologi yang sama akan digunakan untuk menghadapi BDBV.
Salah satu kelebihan teknologi mRNA adalah fleksibilitasnya. Platform ini memungkinkan ilmuwan merancang kandidat vaksin dengan lebih cepat dibanding beberapa teknologi konvensional.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan vaksin mRNA dapat dikembangkan dalam waktu yang relatif singkat tanpa mengorbankan standar keamanan dan efektivitas.
- Kandidat vaksin Oxford dan Serum Institute of India
Kandidat ketiga dikembangkan oleh Universitas Oxford dan akan diproduksi oleh Serum Institute of India (SII).
Vaksin ini menggunakan platform ChAdOx1, teknologi yang juga digunakan dalam vaksin Oxford-AstraZeneca untuk COVID-19.
Platform ChAdOx1 sudah memiliki rekam jejak yang cukup panjang dalam pengembangan vaksin penyakit infeksi sehingga dianggap memiliki dasar keamanan yang kuat.
Mengapa pengembangan vaksin ini penting?

Tidak semua virus Ebola identik. Saat ini vaksin yang tersedia dirancang untuk Zaire ebolavirus. Perlindungan terhadap Bundibugyo ebolavirus belum bisa dipastikan karena perbedaan karakteristik biologis antarspesies virus. Ini membuat para ahli menilai pengembangan vaksin spesifik Bundibugyo mendesak.
Kabar baiknya, ketiga platform vaksin yang dipilih CEPI bukan teknologi baru. Semuanya sudah memiliki data keamanan yang luas dan pernah digunakan untuk mengembangkan vaksin terhadap filovirus lain, termasuk Zaire Ebola, Sudan virus, dan Marburg virus.
Berdasarkan pengalaman tersebut, para peneliti optimistis vaksin yang aman dan efektif untuk Bundibugyo ebolavirus dapat dikembangkan.
Jika hasil uji klinis fase 1 menunjukkan profil keamanan dan respons imun yang baik, CEPI berencana melanjutkan ke uji klinis tahap lanjutan untuk mendukung otorisasi penggunaan darurat atau perizinan penuh.
Di saat yang sama, CEPI membuka peluang supaya lebih banyak kandidat vaksin Ebola masuk ke pipeline, sehingga ada beberapa opsi cadangan jika satu kandidat gagal, dan ketersediaan vaksin di masa depan jadi lebih kuat dan cepat.
Referensi
Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). "CEPI Fast-Tracks Three Bundibugyo Ebolavirus Vaccine Candidates." Diakses Juni 2026.
World Health Organization (WHO). "Ebola Disease Caused by Bundibugyo Virus – Democratic Republic of the Congo and Uganda." Disease Outbreak News, 2026. Diakses Juni 2026.
WHO. "Ebola Virus Disease." Diakses Juni 2026.
Heinz Feldmann and Thomas W Geisbert, “Ebola Haemorrhagic Fever,” The Lancet 377, no. 9768 (November 16, 2010): 849–62, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(10)60667-8.
Shevin T. Jacob et al., “Ebola Virus Disease,” Nature Reviews Disease Primers 6, no. 1 (February 20, 2020): 13, https://doi.org/10.1038/s41572-020-0147-3.
Ana Maria Henao-Restrepo et al., “Efficacy and Effectiveness of an rVSV-vectored Vaccine in Preventing Ebola Virus Disease: Final Results From the Guinea Ring Vaccination, Open-label, Cluster-randomised Trial (Ebola Ça Suffit!),” The Lancet 389, no. 10068 (December 23, 2016): 505–18, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(16)32621-6.
Lindsey R. Baden et al., “Efficacy and Safety of the mRNA-1273 SARS-CoV-2 Vaccine,” New England Journal of Medicine 384, no. 5 (December 30, 2020): 403–16, https://doi.org/10.1056/nejmoa2035389.
Merryn Voysey et al., “Safety and Efficacy of the ChAdOx1 nCoV-19 Vaccine (AZD1222) Against SARS-CoV-2: An Interim Analysis of Four Randomised Controlled Trials in Brazil, South Africa, and the UK,” The Lancet 397, no. 10269 (December 8, 2020): 99–111, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(20)32661-1.









![[QUIZ] Cek Kebutuhan Air Harian Berdasarkan Gaya Hidup Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260526/tips-efektif-minum-air-untuk-detoks-pasca-idul-adha_968e84b8-5723-485e-b544-dde813648a5c.jpeg)

![[QUIZ] Dari Cara Kamu Menyikapi Rasa Haus, Ini Kebutuhan Cairan Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250604/pexels-maumascaro-907865-98578fc533dc034ea3dc70254c5ffc9d-6806676fc951453ca0eb738eb04487e0.jpg)

![[QUIZ] Dari Olahan Daging Favoritmu, Ini Penyakit yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20260505/resep-daging-panggang-ala-maroko_57a5c686-b9fa-44df-856c-249f30b1b27a.jpg)
![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Kamu Capek atau Mulai Stres](https://image.idntimes.com/post/20250602/img-20250602-232248-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-10d0d970fe707292815711bf6b95b641.jpg)




