Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ribuan Warga Demo di Prancis, Protes Tewasnya Aktivis Sayap Kanan
ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/Mathurin NAPOLY / matnapo)
  • Ribuan warga di Lyon turun ke jalan memberi penghormatan kepada aktivis sayap kanan Quentin Deranque yang tewas akibat bentrokan politik, memicu ketegangan menjelang pemilu Prancis 2027.
  • Polisi menahan 11 orang terkait kematian Deranque, termasuk dua tersangka utama dengan dakwaan pembunuhan, sementara unjuk rasa berlangsung tertib meski muncul simbol dan ujaran kebencian.
  • Presiden Emmanuel Macron menyerukan ketenangan dan menolak segala bentuk kekerasan, sementara reaksi internasional dari AS dan Italia memperkeruh situasi politik di Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Setidaknya 3.200 orang menggelar unjuk rasa di Lyon, Prancis, pada Sabtu (21/2/2026). Massa memberikan penghormatan terakhir kepada aktivis sayap kanan Quentin Deranque yang tewas akibat bentrokan politik. Para peserta aksi mengenakan pakaian serba hitam sambil membawa spanduk menuntut keadilan bagi Quentin.

Kematian pemuda berusia 23 tahun tersebut memicu ketegangan antara kelompok sayap kanan dan sayap kiri radikal. Insiden ini terjadi tepat menjelang pemilihan presiden Prancis pada 2027 mendatang. Pemerintah menerjunkan pengamanan ketat untuk mencegah kerusuhan lanjutan.

1. Rincian insiden kematian Deranque yang mengguncang Prancis

Ilustrasi bendera Prancis. (unsplash.com/Rafael Garcin)

Quentin Deranque meninggal dunia usai menderita cedera otak parah. Korban sebelumnya diserang sekelompok orang di sela-sela protes terhadap politisi partai sayap kiri France Unbowed (LFI). Bentrokan tersebut terjadi pada 12 Februari di area dekat pusat konferensi Lyon.

Otoritas keamanan Prancis telah menahan 11 orang terkait insiden mematikan tersebut. Total tujuh tersangka kini tengah menghadapi rentetan dakwaan awal. Dua tersangka utama di antaranya dijerat dengan dakwaan pembunuhan.

Salah satu tersangka yang didakwa atas keterlibatan pembunuhan merupakan asisten parlemen berhaluan kiri radikal. Tersangka tersebut telah membantah keterlibatannya dalam aksi pengeroyokan, sementara lainnya mengakui terlibat perkelahian tanpa niat membunuh korban secara sengaja.

Pemimpin LFI Jean-Luc Melenchon mengecam aksi kekerasan yang menewaskan aktivis muda tersebut. LFI juga membantah bertanggung jawab atas pecahnya tragedi mematikan di Lyon. Berbagai kelompok oposisi sebelumnya menuduh LFI memicu eskalasi melalui manuver politik mereka yang agresif.

2. Unjuk rasa berjalan tanpa insiden

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/Vlad Tchompalov)

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menolak desakan wali kota Lyon untuk melarang penyelenggaraan demonstrasi. Aparat kepolisian mengerahkan pasukan cadangan dari luar kota demi mengamankan rute pawai.

Pesawat nirawak atau drone dikerahkan untuk memantau pergerakan ribuan massa di lapangan. Secara umum, pawai berlangsung tertib tanpa ada insiden kekerasan fisik serius. Aparat hanya sempat menahan satu individu yang kedapatan membawa senjata tajam dan palu.

Namun, pejabat berwenang mendeteksi adanya penggunaan salam Nazi selama aksi unjuk rasa tersebut berlangsung. Penyelidik kini tengah memburu para pelaku di balik rekaman video berisi ujaran-ujaran kebencian.

"Pada usia saya, saya tidak akan berlagak jagoan. Jika saya harus pergi keluar, saya akan menghindari tempat mereka berunjuk rasa," tutur seorang warga lokal, Jean Echeverria, menanggapi demonstrasi tersebut, dilansir France24.

3. Macron minta masyarakat untuk tenang

Presiden Prancis Emmanuel Macron (Spc. Thurnapuf Valle, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta masyarakat untuk tenang dan menahan diri. Macron telah merencanakan pertemuan kabinet khusus guna membahas penanganan kelompok aksi kekerasan di tengah ketegangan antar faksi.

"Di dalam Republik, tidak ada kekerasan yang sah. Tidak ada tempat bagi milisi, dari mana pun mereka berasal," ujar Emmanuel Macron, dilansir The Straits Times.

Kematian Quentin turut memicu reaksi keras dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Biro Kontraterorisme Departemen Luar Negeri AS menyebut aksi pembunuhan Deranque menunjukkan bahaya ideologi kiri radikal terhadap keselamatan masyarakat.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni menyebut insiden berdarah ini sebagai luka bagi seluruh Eropa dan turut menyalahkan kelompok kiri radikal. Meloni juga menyoroti iklim kebencian ideologis yang mulai menyapu berbagai negara. Pernyataan Meloni memicu ketegangan setelah Macron memintanya berhenti mencampuri urusan dalam negeri Prancis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team