Angkatan Laut Prancis Sita 2,4 Ton Kokain di Samudera Pasifik

- Angkatan Laut Prancis berhasil menyita 2,4 ton kokain dalam operasi maritim di Samudera Pasifik
- Prancis dan AS bekerja sama gagalkan penyelundupan kokain di Pasifik
- Penyitaan 100 bal kokain di Polinesia ungkap perluasan jaringan narkoba internasional
Jakarta, IDN Times - Otoritas maritim Prancis mengumumkan keberhasilan unit angkatan lautnya dalam menggagalkan upaya penyelundupan narkotika skala besar di wilayah Samudra Pasifik, pada Sabtu (14/2/2026). Operasi yang berlangsung di perairan Polinesia ini merupakan bagian dari penguatan strategi pengawasan untuk menekan aktivitas sindikat kriminal internasional.
Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam memutus jalur distribusi barang terlarang yang sering memanfaatkan koridor laut lintas negara.
Pencegatan tersebut dilakukan pada Kamis (12/2/2026) melalui operasi gabungan yang melibatkan koordinasi intelijen tingkat tinggi dengan pemerintah Amerika Serikat (AS). Melalui sinergi ini, petugas berhasil mengidentifikasi sebuah kapal mencurigakan yang membawa muatan ilegal dalam jumlah yang sangat besar.
1. Otoritas Prancis sita 2,4 ton kokain dalam operasi maritim di Samudra Pasifik
Angkatan Laut Prancis berhasil melakukan penggeledahan terhadap sebuah kapal mencurigakan di wilayah Samudra Pasifik, pada Kamis (12/2/2026). Dalam operasi yang berlangsung dengan presisi tinggi tersebut, petugas menemukan 100 bal kokain dengan berat total mencapai 2,4 ton. Meskipun seluruh kargo narkotika senilai jutaan dolar telah disita, otoritas mengizinkan kapal beserta krunya untuk tetap melanjutkan pelayaran menuju destinasi awal mereka demi mematuhi parameter hukum laut internasional.
Prosedur ini diambil untuk mematuhi konvensi maritim global sekaligus memastikan penegakan hukum tetap berjalan efektif tanpa mengganggu jalur navigasi internasional secara berlebihan.
Volume penyitaan ini menambah catatan panjang keberhasilan otoritas Prancis di Polinesia yang telah mengamankan hampir 12 ton kokain dalam satu bulan terakhir melalui berbagai operasi pencegatan. Tren pengawasan yang agresif ini merupakan kelanjutan dari pencapaian tahun 2025, di mana Angkatan Laut Prancis mencatatkan rekor dunia dengan menyita total 87,6 ton narkotika.
2. Prancis dan AS bekerja sama gagalkan penyelundupan kokain di Pasifik
Angkatan Bersenjata Prancis berhasil menyita 2,4 ton kokain melalui kolaborasi strategis dengan berbagai lembaga intelijen maritim dan anti-narkotika AS. Kemitraan ini melibatkan pertukaran data satelit serta pemantauan udara jarak jauh, yang memungkinkan unit patroli Prancis melakukan penyergapan tepat sasaran di wilayah perairan Pasifik yang sulit dijangkau. Komisi Tinggi di Polinesia Prancis menegaskan bahwa bantuan teknis dari AS berperan krusial dalam memastikan muatan terlarang tersebut tidak sampai ke pasar tujuannya di Australia dan Selandia Baru.
Keberhasilan operasi ini mencerminkan penguatan keamanan regional melalui kerja sama antara Prancis, AS, dan Australia dalam "Taskforce Thunder". Langkah ini merupakan bagian dari strategi baru pemberantasan narkotika yang melibatkan pengerahan aset militer, seperti pesawat Falcon 50 dan kapal perang kelas fregat, untuk menutup celah bagi organisasi kriminal internasional.
Pihak Komisi Tinggi dalam rilis persnya menyatakan bahwa integrasi kekuatan antarnegara adalah kunci utama untuk melumpuhkan jaringan narkotika global yang sangat terorganisir.
"Hal ini menggambarkan sifat strategis dari kerja sama regional yang dilakukan oleh Prancis dengan mitra terdekatnya, terutama AS dan Australia, dalam upaya memerangi perdagangan narkoba," ungkap Komisi Tinggi, dilansir RNZ.
3. Penyitaan 100 bal kokain di Polinesia ungkap perluasan jaringan narkoba internasional
Penemuan 100 bal kokain di lepas pantai Polinesia memberikan bukti kuat atas laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai meluasnya jaringan sindikat kriminal internasional di Samudra Pasifik. Saat ini, wilayah tersebut telah beralih fungsi menjadi jalan tol laut bagi pengiriman kokain dan metamfetamin dari Amerika Utara serta Selatan. Narkotika tersebut dikirim untuk memenuhi tingginya permintaan di pasar Australia dan Selandia Baru, di mana harga ecerannya jauh lebih mahal dibandingkan kawasan lainnya.
Peningkatan jumlah penyitaan dalam sebulan terakhir menunjukkan volume arus narkoba yang melintasi zona ekonomi eksklusif Polinesia sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Dalam tiga operasi besar saja, petugas berhasil mengamankan dua hingga lima ton barang bukti. Keberhasilan operasi di awal tahun 2026 ini menjadi kelanjutan dari ketegasan aparat internasional, setelah Angkatan Laut Prancis mencatat rekor penyitaan hingga 58 ton kokain sepanjang tahun 2025. Tekanan penegakan hukum terus ditingkatkan guna mengimbangi inovasi logistik yang dilakukan oleh para penyelundup.


















