Comscore Tracker

Miliarder Meksiko Sebut Petugas Kesehatan Merusak Perekonomian

Pliego minta publik dibebaskan untuk membuat keputusan

Mexico City, IDN Times - Miliarder Meksiko Ricardo Salinas Pliego menyebut para petugas kesehatan dari lembaga pemerintah sebagai perusak perekonomian negara di tengah pandemik COVID-19. Seperti dilaporkan Bloomberg, Pliego meminta mereka untuk berhenti memberlakukan kebijakan "otoriter" seperti lockdown, karantina, dan jaga jarak.

Menurutnya, dengan memerintahkan hal-hal tersebut untuk dilakukan warga, mereka telah merusak perekonomian. Komentar ini sendiri sangat berlawanan dengan pedoman kesehatan berbasis ilmu pengetahuan untuk menekan laju penyebaran virus corona, yang di Meksiko sendiri telah menginfeksi 146.837 orang dan mengambil nyawa 17.580 orang sampai sekarang.

Baca Juga: Di Tengah COVID-19, Puluhan Ribu Orang Padati Festival Musik Meksiko

1. Miliarder Salinas Pliego minta publik dibebaskan untuk membuat keputusan

Miliarder Meksiko Sebut Petugas Kesehatan Merusak PerekonomianPenumpang komuter di Kota Meksiko, Meksiko, melakukan jaga jarak pada 29 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Jasso

Salinas Pliego sendiri merupakan pemilik bank dan perusahaan penjual perangkat rumah tangga Grupo Elektra. Ia juga merupakan pemilik jaringan stasiun televisi terbesar kedua Meksiko yaitu TV Azteca.

Ia mengatakan, warga Meksiko sebaiknya dibebaskan untuk memutuskan apa saja langkah pencegahan yang ingin mereka lakukan di tengah pandemik ini.

Artinya, jika masyarakat mau tetap berkumpul secara beramai-ramai tanpa masker sehingga akan sangat mudah tertular virus, maka menurut Salinas Pliego, pemerintah sebaiknya membiarkan saja.

Lebih lanjut, dia meminta para petugas kesehatan berhenti membuat peraturan-peraturan baru. Lockdown, kata dia, menyebabkan "kerusakan luar biasa terhadap perekonomian kita yang sedang genting".

2. Ia menyebut para petugas kesehatan "menyebarkan kepanikan"

Miliarder Meksiko Sebut Petugas Kesehatan Merusak PerekonomianCalon penumpang di Bandara Internasional Benito Juarez, Mexico City, Meksiko, pada 11 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Edgard Garrido

Salinas Pliego menyampaikan komentarnya tersebut melalui Twitter di mana ia kemudian mengatakan, "berhenti menyebarkan kepanikan dan rasa takut dengan kampanye publisitas masif kalian. Biarkan kami memutuskan, jangan paksakan visi otoriter kalian."

Sebagai miliarder, Salinas Pliego sejak awal sangat vokal meminta pemerintah untuk tidak membuat bisnis berhenti beroperasi sementara seperti di banyak negara di dunia. Ia bahkan menggunakan medianya untuk memengaruhi publik agar tidak mematuhi pedoman-pedoman kesehatan. 

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador memang enggan memberlakukan lockdown, sebelum akhirnya menetapkan aturan pembatasan pada Maret dan berakhir pada Mei lalu. Ia juga membantah telah membuat kebijakan otoriter.

"Jika kita bisa menjaga diri, kita bisa maju ke depan, tidak terus lumpuh di dalam rumah," ucapnya.

Pada saat yang sama, Kementerian Tenaga Kerja mengkritik Salinas Pliego karena jaringan toko Elektra miliknya masih beroperasi sepanjang dua bulan tersebut. Padahal, ia sudah mendapatkan instruksi agar melakukan penutupan sementara.

3. Lockdown berdampak pada penurunan risiko infeksi virus corona

Miliarder Meksiko Sebut Petugas Kesehatan Merusak Perekonomian(Ilustrasi lockdown) IDN Times/M. Tarmizi Murdianto

Sementara, dua studi yang baru dipublikasikan di jurnal Nature pada awal Juni lalu, menggarisbawahi pentingnya lockdown untuk menekan laju penyebaran virus corona. Menurut para peneliti di UC Berkeley yang meneliti enam negara, lockdown mampu mencegah atau memperlambat sekitar 531 kasus COVID-19.

Studi oleh Imperial College London juga menemukan bahwa di 11 negara Eropa yang memberlakukan lockdown dengan tingkatan masing-masing, penularan virus berkurang drastis dan kurang lebih 3,1 juta diselamatkan. Meski begitu, mengingat pandemik masih terjadi, hasil studi itu akan bergantung pada bagaimana masyarakat berperilaku.

Samir Bhatt, salah satu peneliti Imperial College London mengatakan, isolasi, penutupan bisnis sementara dan lockdown wilayah adalah langkah-langkah yang paling berpengaruh. Ia pun mengingatkan agar pemerintah dan publik terus waspada, meski pelonggaran terjadi di sejumlah negara.

"Risiko terjadinya gelombang kedua jika semua intervensi dan pencegahan ditinggalkan adalah sangat nyata," kata Bhatt kepada Reuters. Dalam wawancara dengan Science News, data scientist UC Berkeley Solomon Hsiang mengatakan, situasinya akan berbeda jika lockdown tak dijalankan.

"Tanpa penerapan kebijakan-kebijakan itu, kita mungkin akan melalui April dan Mei yang sangat berbeda," ucapnya.

Baca Juga: Takut Penyebaran COVID-19 Meluas, Beijing Lockdown 10 Area Permukiman

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya