Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alexei Navalny (commons.wikimedia.org)
Alexei Navalny (commons.wikimedia.org)

Intinya sih...

  • Rusia dituduh meracuni Alexei Navalny dengan racun katak panah.

  • Hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya racun mematikan pada jasad Navalny.

  • Istri Navalny telah lama meyakini bahwa suaminya diracun dan Navalny pernah selamat dari upaya peracunan sebelumnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hasil penyelidikan dari beberapa badan intelijen mengungkap bahwa pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, tewas akibat racun katak panah yang diduga diberikan oleh pemerintah Rusia dua tahun lalu. Temuan ini disampaikan dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh lima negara, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda pada Sabtu (14/2/2026).

Rusia sebelumnya mengumumkan bahwa Navalny meninggal di sebuah penjara di Siberia pada Februari 2024, saat ia menjalani hukuman 19 tahun penjara atas tuduhan ekstremisme. Layanan Penjara Federal Rusia mengatakan, tokoh oposisi berusia 47 tahun itu merasa tidak enak badan setelah berjalan-jalan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Sebelum dimakamkan, sampel dari jenazahnya diamankan dan dikirim ke laboratorium di dua negara untuk dianalisis.

1. Rusia dianggap punya motif dan kesempatan untuk meracuni Navalny

Yulia Navalnaya, Alexei Navalny and Ilya Yashin dalam demonstrasi di Moskow (Bogomolov.PL, CC BY-SA 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut pernyataan tersebut, hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya racun mematikan yang terdapat pada kulit katak panah Ekuador (epibatidine) dalam sampel dari jasad Alexei Navalny dan sangat mungkin menjadi penyebab kematiannya.

"Hanya pemerintah Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun mematikan ini terhadap Alexei Navalny selama ia dipenjara di Rusia," demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari The Guardian.

Epibatidine secara alami ditemukan pada katak panah liar di Amerika Selatan. Sementara itu, katak panah yang dipelihara di penangkaran tidak menghasilkan racun ini, dan zat tersebut tidak ditemukan secara alami di Rusia.

Inggris menyebut peracunan terhadap Navalny sebagai tindakan barbar. Pihaknya mengatakan telah melaporkan Rusia ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) atas dugaan pelanggaran terang-terangan terhadap Konvensi Senjata Kimia.

2. Istri Navalny telah lama meyakini bahwa suaminya diracun

istri Alexei Navalny, Yulia Navalnaya (putnik, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Meski sejak awal banyak pihak menduga Navalny tewas akibat diracun oleh Rusia, terungkapnya jenis racun spesifik yang ditemukan dalam tubuhnya merupakan perkembangan terbaru dalam kasus ini. Pada September 2025, istri Navalny, Yulia Navalnaya, menyatakan bahwa hasil autopsi menunjukkan adanya jejak racun dalam tubuh suaminya

“Saya yakin sejak hari pertama suami saya diracun, tapi sekarang sudah ada buktinya. Saya berterima kasih kepada negara-negara Eropa atas kerja teliti yang mereka lakukan selama dua tahun dan mengungkap kebenaran,” kata Navalnaya setelah pengumuman tersebut.

Sementara itu, Moskow belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

3. Navalny pernah selamat dari upaya peracunan sebelumnya

ilustrasi warga Rusia (unsplash.com/Klaus Wright)

Navalny, mantan pengacara korporasi, memutuskan terjun ke dunia politik untuk memerangi praktik korupsi yang meluas dan dugaan kecurangan pemilu, yang menurut pengamat, selama ini membantu membuat Partai Rusia Bersatu pimpinan Presiden Vladimir Putin tetap berkuasa.

Dilansir dari DW, tokoh oposisi tersebut telah dua kali dipenjara atas tuduhan penggelapan dana, yang menurut dirinya dan istrinya sengaja direkayasa untuk membungkamnya. Pada 2020, ia diracuni dengan agen saraf Novichok, racun yang diketahui pernah digunakan oleh agen Rusia dalam pembunuhan bermotif politik. Ia menjalani perawatan di Jerman, lalu ditangkap di bandara saat kembali ke Rusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team