Serangan di pusat perdagangan Nikopol terjadi tepat pukul 09.50 waktu setempat. Sejumlah drone jenis FPV milik Rusia menghantam area pasar yang sedang ramai. Ledakan pertama memicu kebakaran hebat dan meruntuhkan kios-kios pedagang, menyebabkan warga terluka akibat serpihan logam dan hantaman ledakan.
Situasi makin parah karena Rusia diduga menggunakan taktik serangan ganda (double tap). Serangan kedua menghantam lokasi yang sama saat petugas penyelamat dan warga sedang menolong para korban. Pihak hukum Ukraina menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran berat aturan perang internasional.
"Ini adalah satu lagi kejahatan perang oleh Rusia. Mereka menyerang pasar di Nikopol menggunakan UAV pada Sabtu pagi, yang menyebabkan warga sipil yang tidak bersalah tewas dan terluka," demikian bunyi pernyataan Kantor Kejaksaan Agung Ukraina.
Tim investigasi kini sedang mendata kerusakan dan jenis amunisi yang digunakan. Sementara itu, petugas pemadam kebakaran terus bekerja di tengah ancaman serangan susulan. Kepala Administrasi Militer Wilayah Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, memastikan serangan ini memang menyasar pusat perbelanjaan warga.
"Korban luka akibat serangan drone di pasar Nikopol naik menjadi 25 orang. Delapan orang harus dirawat di rumah sakit, termasuk seorang remaja 14 tahun yang kondisinya sangat serius. Rusia juga merenggut nyawa lima warga sipil dalam serangan kejam ini," kata Oleksandr Hanzha, dilansir Pravda.