Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rusia Larang Warganya ke Negara yang Punya Perjanjian Ekstradisi AS

Rusia Larang Warganya ke Negara yang Punya Perjanjian Ekstradisi AS
Bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)
Intinya Sih
  • Pemerintah Rusia mengeluarkan peringatan perjalanan agar warganya tidak mengunjungi negara dengan perjanjian ekstradisi AS, demi mencegah penangkapan atas permintaan Washington.
  • Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh intelijen AS menggunakan jebakan berupa tawaran bisnis atau paket wisata untuk menangkap warga Rusia di luar negeri.
  • Negara berisiko tinggi termasuk Inggris, Swiss, Uni Eropa, Kanada, Australia, Israel, serta beberapa negara Amerika Latin dan Asia yang bekerja sama dalam ekstradisi dengan AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Rusia secara resmi mengeluarkan peringatan perjalanan (travel advisory) pada Rabu (1/4/2026). Seluruh warga negara Rusia diminta untuk tidak mengunjungi negara-negara yang memiliki perjanjian ekstradisi aktif dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil untuk melindungi warga Rusia agar tidak ditangkap secara semena-mena oleh otoritas asing atas permintaan Washington.

Kebijakan tegas ini merupakan jawaban atas hubungan internasional yang semakin memanas. Moskow melihat adanya peningkatan risiko "perburuan hukum" terhadap warga negaranya di luar negeri. Saat ini, setiap warga Rusia yang bepergian ke negara yang bekerja sama secara hukum dengan AS akan diawasi dengan ketat.

1. AS gunakan hukum domestik untuk incar warga Rusia di luar negeri

Fenomena ini merupakan bentuk penggunaan hukum domestik AS yang dipaksakan berlaku secara global untuk menekan warga Rusia. Para target diancam hukuman penjara yang sangat lama jika mereka berhasil dibawa dan diadili di wilayah AS.

"Cara AS menghukum orang, atau yang disebut sebagai 'punitive justice', sudah semakin parah dan mengkhawatirkan sejak konflik dimulai pada tahun 2022," jelas Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sanksi hukum dari AS kini bahkan menyasar sektor ekonomi strategis. Hal ini membuat banyak warga Rusia tanpa sadar masuk dalam pantauan intelijen dan kepolisian saat sedang berada di negara lain.

Rusia memperingatkan warganya akan risiko pengejaran hukum yang terencana. Mereka bisa saja ditahan di negara lain hanya karena permintaan sepihak dari AS, meskipun tidak ada bukti kuat di lokasi penangkapan.

2. Intelijen AS diduga pakai jebakan paket wisata untuk tangkap target

Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan bahwa pihak intelijen AS sering menggunakan taktik penipuan yang sangat rapi untuk menjebak target mereka.

"Agen intelijen Amerika sering kali memancing warga Rusia agar mau pergi ke luar negeri dengan memberikan tawaran bisnis yang menggiurkan atau paket wisata yang terlihat sangat menarik," kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

Strategi manipulatif ini dirancang agar target bisa langsung ditangkap segera setelah tiba di negara yang bekerja sama dengan pihak keamanan Washington. Penangkapan ini sering terjadi secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Akibatnya, warga Rusia yang sedang dalam perjalanan bisnis atau liburan berisiko kehilangan kebebasan mereka karena terjebak skenario intelijen tersebut.

Moskow mengklaim punya bukti bahwa intelijen AS terus berusaha menculik warga Rusia secara diam-diam dengan menyalahgunakan kerja sama polisi internasional (Interpol).

3. Daftar negara yang harus dihindari warga Rusia agar tidak ditahan

Rusia telah memetakan negara-negara yang dianggap sangat berisiko menyerahkan warganya ke AS melalui proses ekstradisi. Negara-negara tersebut antara lain Inggris, Swiss, sebagian besar negara Uni Eropa, Kanada, Australia, Israel, serta beberapa negara di Amerika Latin dan Asia.

Peringatan ini terutama ditujukan bagi warga Rusia yang merasa sedang dalam incaran hukum atau namanya masuk dalam daftar sanksi Washington. Sejak pengusaha Viktor Bout ditangkap di Thailand pada 2008, sudah lebih dari 100 warga Rusia yang dikirim ke AS untuk diadili. Pemerintah Rusia sangat menyarankan warganya untuk menghindari negara-negara yang bekerja sama dengan Washington demi mencegah penahanan yang bermotif politik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More