Gedung Putih di Amerika Serikat (unsplash.com/René DeAnda)
Sementara itu, Israel dan Lebanon saat ini tengah menjalani perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Para pejabat dari kedua negara bertemu di Washington DC pada Jumat (29/5/2026) untuk membahas implementasi gencatan senjata. Negosiasi diperkirakan akan dilanjutkan pekan depan.
Filippo Dionigi, dosen senior hubungan internasional di Universitas Bristol, mengatakan bahwa pemerintah Lebanon berada dalam posisi yang sangat sulit karena Israel dinilai tidak tertarik pada perdamaian. Penolakan Hizbullah terhadap perundingan damai juga semakin menambah tekanan.
“Di satu sisi, mereka harus bernegosiasi dengan Israel, sementara Israel pada dasarnya menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki rencana politik signifikan untuk Lebanon dan saat ini hanya menjalankan strategi militer. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan dari dinamika politik domestik,” ujar Dionigi kepada Al Jazeera.
Baik Lebanon maupun Israel sama-sama ingin senjata Hizbullah dilucuti. Namun, Beirut kesulitan mewujudkan hal tersebut. Hizbullah, yang dinilai lebih kuat dibanding militer resmi negara, berpendapat bahwa mereka merupakan satu-satunya pertahanan Lebanon terhadap Israel.