Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jerman Setujui Proyek Nuklir Prancis-Rusia Meski Menuai Kritik

Jerman Setujui Proyek Nuklir Prancis-Rusia Meski Menuai Kritik
Ilustrasi Bendera Jerman (unsplash.com/Mark König)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jerman mengizinkan proyek kerja sama nuklir antara perusahaan Prancis, Framatome, dan BUMN nuklir Rusia, Rosatom. Keputusan yang diumumkan pada Rabu (22/7/2026) ini memicu perdebatan karena melibatkan Rusia di tengah sanksi Barat akibat perang di Ukraina.

Pemerintah daerah Lower Saxony menyatakan persetujuan tersebut diberikan sesuai aturan hukum yang berlaku. Meski begitu, sejumlah politisi dan pengamat menilai proyek ini berisiko menimbulkan ancaman keamanan serta memperkuat pengaruh Rusia di sektor energi Eropa.

1. Produksi bahan bakar reaktor nuklir di Pabrik Lingen

Proyek ini akan berjalan di fasilitas Advanced Nuclear Fuels (ANF), Kota Lingen, negara bagian Lower Saxony. ANF merupakan anak perusahaan Framatome yang bekerja sama dengan Rosatom untuk memproduksi bahan bakar reaktor nuklir tipe VVER yang banyak digunakan di Eropa Timur.

Permohonan izin perluasan produksi telah diajukan sejak Maret 2022, tidak lama setelah Rusia menginvasi Ukraina. Bahan bakar buatan Lingen ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara Eropa yang masih mengoperasikan reaktor era Uni Soviet.

"Keputusan ini memperkuat keamanan energi Eropa, mendukung kedaulatan industri, dan menegaskan komitmen kami dalam menyediakan pasokan bahan bakar yang aman," kata juru bicara Framatome.

Framatome menyatakan proyek ini dapat membantu negara-negara pengguna reaktor VVER mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar langsung dari Rusia.

2. Alasan pemerintah Jerman memberikan izin proyek

Kementerian Lingkungan Hidup Jerman menjelaskan bahwa izin diberikan karena tidak ada dasar hukum untuk menolaknya. Otoritas daerah juga telah berkonsultasi dengan pemerintah federal sebelum mengambil keputusan.

Pemerintah Jerman mencatat bahwa sektor nuklir sipil Rusia hingga kini belum terkena sanksi Uni Eropa. Alhasil, proyek kerja sama dengan Rosatom masih sah secara hukum.

Pemerintah Jerman menegaskan akan terus mendorong penerapan sanksi terhadap sektor nuklir Rusia di tingkat Uni Eropa. Namun, selama belum ada aturan baru, otoritas wajib mematuhi hukum yang berlaku saat ini.

3. Potensi risiko keamanan dan ancaman spionase

Persetujuan proyek ini memicu kekhawatiran sejumlah politisi terkait risiko keamanan, termasuk potensi spionase. Rosatom dikenal sebagai BUMN Rusia yang memiliki hubungan sangat dekat dengan pemerintah Kremlin.

Guna mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah Jerman menerapkan syarat ketat bagi personel maupun peralatan yang berasal dari Rusia. Pengawasan khusus juga akan diberlakukan sepanjang proyek berjalan.

"Keputusan tersebut membahayakan keamanan dan harus dibatalkan," kata anggota parlemen dari Uni Demokratik Kristen (CDU), Roderich Kiesewetter, dikutip dari Channel News Asia.

Kritik senada disampaikan anggota parlemen Marc Henrichmann yang mendesak Framatome mencari mitra selain Rosatom. Menurutnya, langkah tersebut lebih sejalan dengan upaya Eropa dalam memangkas ketergantungan energi dari Rusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More