Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tentara Suriah
tentara Suriah (U.S. Army photo by Sgt. Trenton Pallone, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Integrasi militer dan penyerahan ladang minyak

  • SDF menarik pasukan dari wilayah strategis di barat Sungai Efrat

  • Pemerintah Suriah mengendalikan ladang minyak dan gas, termasuk Al-Omar

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengumumkan gencatan senjata nasional dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin etnis Kurdi. Pengumuman pada Minggu (18/1/2026) menandai berakhirnya pertempuran sengit selama dua minggu terakhir di wilayah timur laut negara itu.

Kesepakatan mencakup integrasi pasukan SDF ke dalam struktur militer negara serta pengembalian kendali pemerintah pusat atas wilayah strategis. Lembaga-lembaga negara Suriah akan kembali beroperasi di provinsi Raqqa, Deir Az Zor, dan Al-Hasakah yang sebelumnya dikuasai otoritas otonom Kurdi.

Gencatan senjata tercapai setelah pertemuan tingkat tinggi di Damaskus yang melibatkan Utusan Khusus Amerika Serikat (AS), Tom Barrack. Presiden al-Sharaa menyebut perjanjian ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Suriah untuk melangkah maju dari perpecahan masa lalu.

1. Integrasi militer dan penyerahan ladang minyak

pasukan Suriah di Kota Sweida. (Syrian Ministry of Interior, Public domain, via Wikimedia Commons)

Berdasarkan perjanjian 14 poin, SDF sepakat untuk menarik pasukannya dari wilayah strategis di barat Sungai Efrat, termasuk Raqqa dan Deir Az Zor. Pemerintah Suriah akan mengambil alih pos-pos perbatasan serta seluruh lembaga sipil di kawasan.

Aset ekonomi vital menjadi poin penting dalam negosiasi. Pemerintah pusat akan kembali mengendalikan ladang minyak dan gas, termasuk Al-Omar yang merupakan terbesar di Suriah dan kilang gas Conoco. Sebelumnya, al-Sharaa menegaskan bahwa satu kelompok milisi tidak boleh menguasai seperempat sumber daya negara.

Personel SDF tidak akan dibubarkan, melainkan diintegrasikan ke dalam Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah setelah melalui proses verifikasi. Petinggi SDF juga akan mengajukan daftar nama komandan mereka untuk mengisi jabatan senior di militer dan keamanan pemerintah pusat.

"Ini adalah kemenangan bagi warga Suriah dari semua latar belakang. Semoga Suriah akan mengakhiri keadaan perpecahan dan bergerak menuju persatuan dan kemajuan," ujar Presiden al-Sharaa, dilansir The Guardian.

2. Bahasa Kurdi diakui dan Newroz jadi hari libur nasional

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebagai bagian dari rekonsiliasi politik, pemerintah Damaskus menerbitkan dekret yang mengakui bahasa Kurdi sebagai bahasa nasional mendampingi bahasa Arab. Bahasa Kurdi kini diizinkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah, sebuah pengakuan budaya yang bersejarah sejak Suriah merdeka pada 1946.

Pemerintah menetapkan perayaan tahun baru Kurdi, Newroz, sebagai hari libur nasional. Hak kewarganegaraan juga dipulihkan bagi warga Kurdi yang sebelumnya kehilangan status akibat sensus bermasalah pada tahun 1962 di provinsi Hasakah.

Tanggung jawab keamanan atas ribuan tahanan ISIS beserta keluarganya kini beralih ke tangan pemerintah pusat. Penjara dan kamp penahanan yang sebelumnya dijaga ketat oleh sipir Kurdi akan dikelola langsung oleh otoritas Damaskus.

“Kami menyetujui kesepakatan itu untuk menghentikan pertumpahan darah. Kami akan menjelaskan ketentuan perjanjian tersebut kepada masyarakat kami dalam beberapa hari mendatang,” kata Panglima SDF, Mazloum Abdi, dilansir The Guardian.

3. Peran mediator AS di tengah tekanan militer

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Kesepakatan damai terjadi setelah militer Suriah melancarkan serangan cepat dan berhasil merebut kota strategis Tabqa serta Bendungan Efrat. Tekanan militer membuat posisi SDF terdesak dan kehilangan kendali atas beberapa wilayah kunci sebelum negosiasi final tercapai.

AS memfasilitasi pertemuan antara sekutu lamanya, SDF, dengan pemerintah baru Suriah. Utusan Khusus AS, Tom Barrack, hadir langsung di Damaskus untuk memastikan transisi berjalan mulus dan kedua pihak menyepakati kemitraan.

“Kesepakatan dan gencatan senjata ini mewakili titik balik yang sangat penting, di mana mantan musuh merangkul kemitraan alih-alih perpecahan,” tulis Barrack dalam unggahannya, dilansir Al Jazeera.

Turki turut mendukung langkah Damaskus karena perjanjian mewajibkan pengusiran elemen Partai Pekerja Kurdistan (PKK) non-Suriah dari wilayah perbatasan. Ankara selama ini menganggap SDF sebagai perpanjangan tangan kelompok teror PKK yang mengancam keamanan nasional mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team