SDF dan Pasukan Pemerintah Suriah Bentrok di Aleppo Utara

- Bentrokan bersenjata di Aleppo utara antara pasukan pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menewaskan prajurit, warga sipil, dan melukai anak-anak serta pegawai.
- Kebuntuan dialog integrasi SDF ke angkatan bersenjata reguler Suriah memicu ketegangan, setelah perundingan lanjutan berakhir tanpa titik temu.
- Aktivitas militer Israel meningkat di Suriah selatan dengan masuknya kendaraan militer ke desa Saida al-Golan di pedesaan Quneitra, yang dapat mengancam stabilitas wilayah tersebut.
Jakarta, IDN Times – Bentrokan bersenjata pecah pada Selasa (6/1/2026) antara pasukan pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di wilayah Aleppo utara. Pertempuran terkonsentrasi di distrik Ashrafiyah serta Sheikh Maqsoud yang didominasi warga Kurdi, dengan intensitas tembakan yang meningkat sejak awal hari.
Mengutip laporan jurnalis Al Jazeera, Resul Serdar Atas, kontak senjata masih berlangsung dan melibatkan mortir, roket, serta penggunaan pesawat tanpa awak untuk pertama kalinya oleh kedua pihak. Perkembangan ini menandai eskalasi baru di kawasan tersebut di tengah situasi keamanan yang sebelumnya relatif terkendali.
1. Korban militer dan sipil berjatuhan akibat serangan

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan satu prajurit tewas dan tiga lainnya mengalami luka akibat serangan yang dituding dilakukan pejuang SDF. Informasi itu disusul pernyataan televisi pemerintah yang menyebut tiga warga sipil tewas, termasuk dua perempuan, serta sejumlah korban luka akibat tembakan artileri ke area permukiman.
Dalam laporan yang sama, dua anak disebut termasuk di antara warga yang terluka, sementara sembilan pegawai Direktorat Pertanian Aleppo mengalami cedera setelah proyektil menghantam gedung kantor mereka. Rentetan insiden ini terjadi ketika tembakan berat menghantam wilayah sipil di tengah baku tembak yang belum mereda.
SDF kemudian membantah terlibat dalam serangan yang menewaskan warga sipil. Mereka menyatakan proyektil justru berasal dari faksi yang berafiliasi dengan pemerintah Damaskus dan jatuh di kawasan al-Midan, serta menyebutnya sebagai penembakan tanpa pandang bulu yang membahayakan warga.
SDF juga menuding serangan pesawat tanpa awak pasukan pemerintah menyebabkan satu warga Sheikh Maqsoud tewas dan dua anak lainnya terluka. Di sisi lain, warga sipil dilaporkan terjebak di lingkungan Kurdi yang terkepung akibat pertempuran sengit.
Di Rumah Sakit Al-Razi Aleppo, seorang ayah menunggu kondisi putrinya yang berusia empat tahun, Fatima, setelah serpihan peluru membuatnya kehilangan salah satu mata.
“Saya hanya ingin tahu apa yang bisa saya katakan kepada putri saya ketika saya bertemu dengannya? Ke mana mata nya pergi? Apa yang bisa saya katakan padanya?” ucapnya dengan suara pilu, dikutip dari ABC News.
2. Kebuntuan dialog integrasi SDF memicu ketegangan

Bentrok bersenjata ini terjadi tak lama setelah seorang pemimpin senior SDF bertemu pejabat pemerintah Suriah di Damaskus untuk membahas rencana penggabungan SDF ke dalam angkatan bersenjata reguler. Namun, perundingan lanjutan antara pejabat pemerintah dan komandan utama SDF dilaporkan berakhir tanpa titik temu.
Kesepakatan yang dicapai pada Maret 2025 terkait integrasi seluruh institusi sipil dan militer di wilayah timur laut Suriah ke dalam struktur negara hingga kini belum terealisasi. Situasi tersebut membuat proses penyatuan kekuatan bersenjata berjalan stagnan.
SDF menguasai sebagian besar wilayah utara dan timur laut Suriah serta memiliki puluhan ribu pejuang. Integrasi kelompok ini tetap menjadi persoalan rumit sejak Presiden Ahmed al-Sharaa berkuasa setahun lalu.
Sebagian unsur dalam angkatan bersenjata Suriah yang baru terbentuk diketahui berasal dari kelompok pemberontak yang sebelumnya didukung Turki. Kelompok-kelompok ini memiliki riwayat konflik panjang dengan pasukan Kurdi yang menjadi tulang punggung SDF.
3. Aktivitas militer Israel meningkat di Suriah selatan

Di tengah eskalasi di wilayah utara, sedikitnya 12 kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki desa Saida al-Golan di pedesaan Quneitra. Pergerakan itu berlangsung bersamaan dengan perundingan antara delegasi Suriah dan Israel yang digelar di Paris dan dijadwalkan berlanjut hingga hari kedua.
Israel mendorong demiliterisasi penuh Suriah selatan, mempertahankan pos militernya di Jabal al-Sheikh, serta meminta jaminan perlindungan bagi komunitas minoritas Druze. Tuntutan tersebut menjadi bagian dari agenda yang dibahas dalam pertemuan kedua pihak.
Marie Forestier, nonresident senior fellow Proyek Suriah Dewan Atlantik, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa perbedaan kepentingan antara Suriah, Israel, dan Amerika Serikat sangat lebar. Ia menilai upaya Israel yang terus menggoyang stabilitas Suriah justru bersifat kontraproduktif.
Forestier juga mengatakan langkah tersebut berisiko memicu kekacauan yang lebih luas dan dapat melahirkan kekuatan baru yang berpotensi mengancam keamanan Israel. Pandangan itu disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di wilayah Suriah.
Sejak Bashar al-Assad lengser, Israel memperluas kendali di luar Dataran Tinggi Golan dan kerap melancarkan serangan di bagian selatan Suriah. Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Israel hampir setiap hari melakukan penyusupan ke wilayah Quneitra, termasuk menangkap warga, mendirikan pos pemeriksaan, dan meratakan lahan.
Sepanjang setahun terakhir, Israel tercatat melancarkan lebih dari 600 serangan udara, pesawat tanpa awak, dan artileri di berbagai wilayah Suriah. Rentetan operasi tersebut berlangsung di tengah dinamika politik dan keamanan yang masih rapuh di negara itu.



















