Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Suriah Tetapkan Bahasa Kurdi Jadi Bahasa Nasional di Tengah Konflik

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Bahasa Kurdi ditetapkan sebagai bahasa nasional di Suriah.
  • Presiden Suriah mengeluarkan dekret yang memulihkan kewarganegaraan bagi warga Kurdi dan menetapkan hari libur resmi untuk perayaan budaya Kurdi.
  • Pengumuman dekret ini muncul bersamaan dengan eskalasi militer antara pasukan pemerintah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin oleh Kurdi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengeluarkan dekret bersejarah yang menetapkan bahasa Kurdi sebagai bahasa nasional pada Jumat (16/1/2026). Dekret ini mengizinkan bahasa Kurdi diajarkan di sekolah-sekolah umum di wilayah yang memiliki populasi Kurdi yang besar.

Pemerintah Suriah dinilai sedang berupaya menunjukkan isyarat niat baik kepada kelompok minoritas tersebut setelah terjadinya bentrokan senjata yang mematikan dalam beberapa hari terakhir. Dekret ini juga menandai pengakuan formal pertama atas hak-hak nasional Kurdi sejak kemerdekaan Suriah pada tahun 1946.

1. Pemulihan kewarganegaraan dan hari libur resmi

ilustrasi warga Suriah
ilustrasi warga Suriah (unsplash.com/Omar Ramadan)

Selain pengakuan bahasa, dekret Presiden al-Sharaa juga memulihkan kewarganegaraan bagi warga Kurdi. Keputusan ini membalikkan dampak sensus kontroversial tahun 1962 yang mencabut status kewarganegaraan 20 persen populasi Kurdi di negara tersebut.

Pemerintah menegaskan bahwa warga Kurdi adalah bagian penting dan tak terpisahkan dari rakyat Suriah. Pengakuan ini bertujuan untuk mengakhiri puluhan tahun marginalisasi di bawah pemerintahan sebelumnya.

"Warga Kurdi Suriah adalah bagian penting dan tak terpisahkan dari rakyat Suriah, dan identitas budaya serta bahasa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari identitas nasional Suriah yang beragam dan bersatu," bunyi dekret tersebut, dilansir The Straits Times.

Dilansir The New Aran, Presiden al-Sharaa juga menetapkan Tahun Baru Kurdi atau Nowruz, yang jatuh pada tanggal 21 Maret, sebagai hari libur resmi negara. Sebelumnya, perayaan budaya ini sering kali dibatasi atau dilarang, termasuk pelarangan penerbitan dan penyiaran dalam bahasa Kurdi.

2. Pasukan pemerintah dan SDF masih tegang

pasukan Suriah di Kota Sweida. (Syrian Ministry of Interior, Public domain, via Wikimedia Commons)
pasukan Suriah di Kota Sweida. (Syrian Ministry of Interior, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pengumuman dekret ini muncul berbarengan dengan eskalasi militer antara tentara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi. Tentara Suriah baru saja mengusir pasukan Kurdi dari lingkungan di Aleppo dan mengerahkan pasukan tambahan ke Deir Hafer di sebelah timur.

Merespons situasi tersebut, Pemimpin SDF Mazloum Abdi mengumumkan penarikan pasukannya ke wilayah timur Sungai Efrat. Keputusan ini diambil untuk menghindari pertempuran lebih lanjut setelah adanya seruan dari negara-negara sahabat dan mediator internasional.

Situasi di lapangan berdampak buruk bagi warga sipil, di mana sekitar 4 ribu orang terpaksa melarikan diri dari area konflik karena ultimatum militer. Warga dilaporkan menggunakan jalur belakang pertanian dan jembatan reyot untuk menyeberangi sungai demi menyelamatkan diri.

"SDF menghalangi kami untuk pergi, itulah sebabnya kami menggunakan jalan belakang pertanian dan kemudian menyeberangi jembatan," ungkap Abu Mohammad, seorang warga berusia 60 tahun yang mengungsi, dilansir France 24.

3. Skeptisisme di kalangan tokoh Kurdi

sudut kota Aleppo, Suriah. (unsplash.com/Aladdin Hammami)
sudut kota Aleppo, Suriah. (unsplash.com/Aladdin Hammami)

Meskipun dekret ini terlihat positif, sejumlah tokoh Kurdi menanggapi langkah tersebut dengan skeptis. Tokoh senior Kurdi, Salih Muslim, mencurigai kebijakan ini sebagai taktik untuk memecah belah persatuan Kurdi dan menghindari tuntutan utama mereka mengenai sistem desentralisasi federal.

Ketegangan ini sendiri dipicu oleh mandeknya kesepakatan bulan Maret untuk mengintegrasikan administrasi otonom Kurdi ke dalam negara Suriah. Kurdi menginginkan otonomi yang lebih luas, sementara pemerintah pusat di Damaskus menolak konsep federalisme tersebut.

Para pengamat menilai, meskipun dekret ini memutus tradisi pengucilan era Assad, penerapannya di lapangan masih diragukan karena tingginya tingkat kecurigaan. Pemerintah pusat dinilai menggunakan tekanan militer untuk memaksakan kehendak ketika negosiasi politik mengalami kebuntuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

4 Astronaut ISS Kembali ke Bumi Lebih Awal karena Masalah Medis

17 Jan 2026, 23:08 WIBNews