Kecelakaan fatal kerap terjadi di ratusan tambang informal di pedesaan Kolombia yang beroperasi tanpa izin pemerintah dan minim infrastruktur keselamatan memadai. Tragedi di Santa Barbara de Iscuande ini menyusul insiden longsor serupa pada Agustus lalu di Kota Policarpa, Provinsi Narino, yang menewaskan 13 orang dan melukai tujuh lainnya. Sumber pemerintah menyebutkan bahwa praktik ekstraksi bijih yang tidak tepat telah melemahkan struktur dasar tambang hingga memicu keruntuhan lereng.
"Keadaan darurat ini kembali menyoroti risiko yang berkaitan dengan penambangan informal. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, dua tambang yang runtuh di Narino telah menewaskan 27 orang," bunyi pernyataan resmi Pemerintah Provinsi Narino, dikutip dari ABC News.
Selain dua insiden di Narino, ledakan gas akibat penumpukan gas di tambang batu bara Kota Sutatausa, sekitar 70 kilometer di utara Bogota, juga menewaskan sembilan pekerja pada Mei lalu. Insiden tambang emas lainnya di Kota Marmato, Provinsi Caldas, turut melukai 19 orang pada awal Agustus. Rentetan kecelakaan ini mendorong Gubernur Escobar mendesak pemerintah nasional, Badan Pertambangan Nasional, serta Kementerian Pertambangan dan Energi untuk mempercepat formalisasi penambang skala kecil guna meningkatkan standar keselamatan kerja.
Sementara itu, Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kolombia pada Selasa meminta otoritas terkait dalam Sistem Manajemen Risiko Bencana Nasional untuk segera membantu keluarga terdampak. PBB juga mendesak negara menerapkan langkah pencegahan, penyelidikan, serta pemberian sanksi terhadap aktivitas tambang ilegal yang merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.