Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tambang Emas Ilegal di Kolombia Runtuh, 14 Pekerja Tewas
ilustrasi tambang (unsplash.com/Team Kiesel)
  • Tambang emas ilegal di Santa Barbara de Iscuande, Narino, Kolombia, runtuh pada 19 Oktober 2026, menewaskan 14 penambang dan melukai tujuh orang.
  • Operasi pencarian dihentikan setelah seluruh korban ditemukan; empat korban luka kritis dievakuasi lewat udara, sementara medan terpencil dan kelompok bersenjata menghambat akses bantuan.
  • Tragedi ini menjadi kecelakaan tambang informal kedua di Narino dalam kurang dari tiga bulan, mendorong desakan formalisasi penambang kecil serta pencegahan dan penindakan tambang ilegal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebuah tambang emas ilegal di wilayah barat daya Kolombia runtuh dan menewaskan 14 penambang pada Senin (19/10/2026). Insiden mematikan ini terjadi di sektor pedesaan Chambero, Kota Santa Barbara de Iscuande, Provinsi Narino yang berbatasan dengan Ekuador. Selain korban tewas, kecelakaan pada tambang terbuka di sepanjang Sungai Iscuande tersebut turut melukai tujuh orang lainnya.

Laporan awal sempat menyebutkan sembilan orang tewas akibat tertimbun longsoran di bagian tambang terbuka itu. Namun, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 14 orang seiring berjalannya proses pencarian di lokasi kejadian. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga setempat bersama sebuah ekskavator mengevakuasi jenazah dari reruntuhan tambang ke atas kano kayu di tepi sungai.

1. Empat korban luka berat dievakuasi lewat udara

bendera Kolombia (unsplash.com/flacaral)

Sekretaris Perdamaian dan Hak Asasi Manusia Narino, Alex Gonzalez, mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dihentikan pada Senin malam karena seluruh korban telah berhasil ditemukan. Sebelumnya, pejabat tanggap bencana Narino, Jorge Tovar Castillo, sempat menyebutkan adanya laporan 12 hingga 15 penambang yang hilang.

"Sejauh ini, ada 14 kematian yang terkonfirmasi. Sebanyak 13 jenazah dievakuasi di Kota Santa Barbara de Iscuande dan satu jenazah berada di Kota Guapi. Selain itu, tujuh orang terluka," kata Gonzalez, dilansir Anadolu Agency.

Empat dari tujuh korban luka dilaporkan berada dalam kondisi kritis usai tertimbun material tambang. Kantor Gubernur Narino segera berkoordinasi dengan Divisi Ketiga Angkatan Darat Kolombia untuk mengevakuasi para korban luka berat tersebut melalui jalur udara menuju Tumaco guna mendapatkan perawatan medis. Gubernur Narino, Luis Alfonso Escobar, turut menyampaikan belasungkawa karena tragedi ini merenggut nyawa seluruh anggota dari beberapa keluarga.

2. Medan ekstrem dan kelompok bersenjata hambat evakuasi

ilustrasi baku tembak (unsplash.com/Taiwangun)

Proses pencarian oleh otoritas setempat sempat menghadapi kendala komunikasi dan akses geografis yang berat. Lokasi tambang yang berada di wilayah Dewan Komunitas Daerah Aliran Sungai Iscuande itu dikelilingi oleh hutan hujan lebat. Wilayah terpencil di pesisir Pasifik Kolombia tersebut hanya dapat dijangkau menggunakan perahu atau pesawat kecil.

Selain medan yang terjal, kehadiran aktif kelompok bersenjata di sekitar lokasi turut menghambat pergerakan tim tanggap darurat dan pekerja bantuan. Provinsi Narino dikenal sebagai pusat penambangan ilegal yang dikuasai kelompok kriminal untuk mendanai aktivitas mereka, berdampingan dengan perdagangan narkotika serta pemerasan. Warga Santa Barbara de Iscuande kerap melaporkan pembunuhan berencana oleh geng bersenjata terhadap orang-orang yang dicurigai mencuri emas atau bekerja sama dengan aparat keamanan maupun faksi lawan.

Dua kelompok pemberontak dilaporkan beroperasi di kawasan tersebut, salah satunya adalah Blok Jacobo Arenas. Kelompok ini dipimpin oleh mantan anggota Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang menolak bergabung dalam perjanjian damai tahun 2016 dengan pemerintah Kolombia. Kondisi ini membuat Kantor Ombudsman Kolombia mendesak kelompok bersenjata di sana agar mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke kota kecil tersebut.

3. Desakan formalisasi tambang di tengah berulangnya tragedi serupa

Kecelakaan fatal kerap terjadi di ratusan tambang informal di pedesaan Kolombia yang beroperasi tanpa izin pemerintah dan minim infrastruktur keselamatan memadai. Tragedi di Santa Barbara de Iscuande ini menyusul insiden longsor serupa pada Agustus lalu di Kota Policarpa, Provinsi Narino, yang menewaskan 13 orang dan melukai tujuh lainnya. Sumber pemerintah menyebutkan bahwa praktik ekstraksi bijih yang tidak tepat telah melemahkan struktur dasar tambang hingga memicu keruntuhan lereng.

"Keadaan darurat ini kembali menyoroti risiko yang berkaitan dengan penambangan informal. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, dua tambang yang runtuh di Narino telah menewaskan 27 orang," bunyi pernyataan resmi Pemerintah Provinsi Narino, dikutip dari ABC News.

Selain dua insiden di Narino, ledakan gas akibat penumpukan gas di tambang batu bara Kota Sutatausa, sekitar 70 kilometer di utara Bogota, juga menewaskan sembilan pekerja pada Mei lalu. Insiden tambang emas lainnya di Kota Marmato, Provinsi Caldas, turut melukai 19 orang pada awal Agustus. Rentetan kecelakaan ini mendorong Gubernur Escobar mendesak pemerintah nasional, Badan Pertambangan Nasional, serta Kementerian Pertambangan dan Energi untuk mempercepat formalisasi penambang skala kecil guna meningkatkan standar keselamatan kerja.

Sementara itu, Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kolombia pada Selasa meminta otoritas terkait dalam Sistem Manajemen Risiko Bencana Nasional untuk segera membantu keluarga terdampak. PBB juga mendesak negara menerapkan langkah pencegahan, penyelidikan, serta pemberian sanksi terhadap aktivitas tambang ilegal yang merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article