Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tegas! RI Tolak Ancaman di Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran-AS
Juru bicara II Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl Mulachela. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Pemerintah Indonesia menegaskan penolakan terhadap segala bentuk ancaman di Selat Hormuz dan menuntut keselamatan pelayaran internasional dijadikan prioritas utama sesuai hukum internasional.
  • Dua kapal Pertamina, Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Teluk Arab, sementara Kemlu terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk menjamin keselamatan kapal dan awaknya.
  • Proses perizinan bagi kedua kapal tersebut masih berlangsung, dengan diplomasi aktif antara Kemlu, Kedutaan Besar RI di Teheran, dan Pertamina guna memastikan kelancaran pelayaran di tengah konflik Iran-AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pertengahan Maret

Kemlu RI menerima sinyal positif dari pihak Iran terkait keselamatan dua kapal Pertamina yang tertahan di kawasan Teluk Arab. Komunikasi intensif dilakukan dengan Angkatan Bersenjata dan Kementerian Luar Negeri Iran.

15 April 2026

Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, menyampaikan penolakan terhadap segala bentuk ancaman di Selat Hormuz dalam konferensi pers di Jakarta. Ia menegaskan pentingnya menjaga keselamatan pelayaran dan kebebasan navigasi sesuai hukum internasional.

kini

Dua kapal milik Pertamina masih tertahan di kawasan Teluk Arab. Proses perizinan dan negosiasi dengan otoritas Iran terus berjalan untuk memastikan jalur keluar tetap terbuka.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Indonesia menegaskan penolakan terhadap segala bentuk ancaman di Selat Hormuz dan berupaya melindungi dua kapal Pertamina yang tertahan akibat meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
  • Who?
    Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui juru bicara Vahd Nabyl, bersama Pertamina serta Kedutaan Besar RI di Teheran, terlibat dalam upaya diplomatik dan koordinasi dengan otoritas Iran.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta, sementara situasi utama terjadi di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Arab atau Teluk Persia tempat dua kapal Pertamina berada.
  • When?
    Pernyataan resmi disampaikan pada Kamis, 15 April 2026, di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
  • Why?
    Sikap tegas Indonesia bertujuan menjaga keselamatan pelayaran internasional, memastikan kebebasan navigasi sesuai hukum internasional, serta melindungi kepentingan nasional dalam perdagangan energi global.
  • How?
    Kemlu melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran dan pihak terkait untuk memastikan keselamatan kapal Pertamina serta mempercepat proses perizinan agar dapat kembali berlayar dengan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada masalah di laut bernama Selat Hormuz karena ada konflik antara Amerika, Israel, dan Iran. Indonesia bilang tidak mau ada ancaman untuk kapal yang lewat di sana. Dua kapal Pertamina masih tertahan dan belum bisa jalan. Pemerintah Indonesia terus bicara dengan Iran supaya kapal itu aman dan bisa lanjut berlayar lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sikap tegas Indonesia dalam menolak ancaman di Selat Hormuz menunjukkan komitmen kuat terhadap keselamatan pelayaran internasional dan kepatuhan pada hukum internasional. Melalui komunikasi intensif dengan otoritas Iran serta koordinasi antara Kemlu, Kedutaan Besar, dan Pertamina, pemerintah memperlihatkan diplomasi aktif yang berfokus pada perlindungan awak kapal dan kepentingan nasional di tengah situasi global yang kompleks.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia angkat suara di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang kini terdampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan penolakan terhadap segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga yang melintas di kawasan tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah situasi keamanan yang semakin kompleks, termasuk penutupan jalur oleh Iran dan blokade oleh Amerika Serikat.

Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, menekankan keselamatan pelayaran internasional harus menjadi prioritas utama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sesuai hukum internasional.

“Dalam hal ini kita juga menolak segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga dan menekankan bahwa keselamatan pelaut itu harus menjadi prioritas yang utama,” ujar Nabyl dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/4/2026).

Di saat yang sama, Indonesia juga tengah menghadapi persoalan konkret, yakni tertahannya dua kapal milik Pertamina di kawasan tersebut.

1. Indonesia soroti keamanan Selat Hormuz

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi global. Jalur ini dilalui sebagian besar pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas ekonomi internasional.

Dalam konteks konflik yang memanas, posisi Indonesia menekankan pentingnya menjaga jalur ini tetap aman dan dapat diakses. Nabyl menegaskan, kebebasan navigasi harus dihormati oleh semua pihak.

Ia juga menyoroti situasi saat ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat konflik, tetapi juga negara lain yang bergantung pada jalur tersebut, termasuk Indonesia.

“Menekankan betapa penting menjaga selat tetap aman, terbuka, dan bisa dilalui pelayaran internasional sesuai dengan ketentuan dan hukum internasional,” kata Nabyl.

Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Indonesia terhadap potensi gangguan lebih luas, terutama bagi distribusi energi global dan keselamatan pelayaran.

2. Dua kapal Pertamina masih tertahan

ilustrasi Selat Hormuz (pixabay.com/Bergadder)

Di tengah ketegangan tersebut, dua kapal milik Pertamina, yakni Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persia.

Kemlu memastikan, koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk otoritas Iran, untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.

Nabyl menyebut komunikasi intensif dilakukan dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran, menyusul adanya sinyal positif yang sempat disampaikan pada pertengahan Maret lalu.

“Kita akan terus memantau dan memastikan kesiapan teknis, termasuk kesiapan kru, asuransi, dan sebagainya agar kedua kapal tersebut tetap melintas dengan lancar,” ujarnya.

Upaya ini untuk menunjukkan Indonesia tidak hanya mengambil posisi diplomatik, tetapi juga aktif melindungi kepentingan nasional di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

3. Proses negosiasi dan perizinan masih berjalan

Juru Bicara II Kemlu RI Vahd Nabyl Mulachela dalam jumpa pers mingguan, Kamis (8/1/2026). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Hingga kini, proses perizinan bagi kedua kapal tersebut masih berlangsung. Pemerintah Indonesia terus berupaya memastikan jalur keluar bagi kapal-kapal tersebut tetap terbuka.

Kemlu bersama Kedutaan Besar RI di Teheran dan pihak Pertamina menjaga komunikasi yang erat guna mempercepat proses tersebut. “Kalau ditanya negosiasinya ada progres, yaitu proses perizinan masih terus berjalan,” ungkap Nabyl.

Situasi di Selat Hormuz sendiri semakin rumit setelah Iran menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Iran dan yang berafiliasi dengan mereka.

Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis di kawasan tersebut, menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling rawan dalam konflik global saat ini, sekaligus menguji kemampuan diplomasi negara-negara seperti Indonesia dalam menjaga kepentingannya.

Editorial Team