Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Terbang dari Kongo-Uganda ke Thailand? Wajib Karantina 21 Hari!
Bendera Thailand (unsplash.com/chris robert)
  • Pemerintah Thailand memberlakukan karantina wajib 21 hari bagi pelancong dari atau transit di Kongo dan Uganda untuk mencegah penyebaran virus Ebola mulai 27 Mei 2026.

  • Wabah Ebola varian Bundibugyo di DRC dan Uganda telah menyebabkan ribuan kasus dengan ratusan korban jiwa, sementara vaksin atau obat resmi belum tersedia.

  • Kebijakan karantina Thailand berdampak pada perjalanan internasional, mewajibkan isolasi bagi penumpang dari wilayah berisiko meski risiko global masih dinilai rendah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Thailand resmi memberlakukan karantina wajib selama 21 hari bagi pelancong yang datang dari atau pernah transit di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Kebijakan pencegahan penyebaran virus Ebola ini mulai berlaku pada Rabu (27/5/2026).

Langkah tersebut diambil oleh Departemen Pengendalian Penyakit (DDC) Thailand menyusul ditetapkannya status darurat kesehatan masyarakat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Melalui aturan ini, pemerintah setempat memperketat pengawasan di pintu masuk internasional guna memastikan virus tersebut tidak masuk ke wilayah mereka.

1. Pelaksanaan karantina terpusat di Bandara Suvarnabhumi

Proses karantina bagi para pelancong dilakukan di fasilitas khusus yang telah disiapkan. Bandara Suvarnabhumi Bangkok ditetapkan sebagai satu-satunya pintu masuk bagi penumpang yang berasal dari wilayah berisiko tersebut.

Seluruh pendatang, baik dalam kondisi sehat maupun sakit, wajib menjalani isolasi. Khusus bagi penumpang yang menunjukkan gejala sakit saat tiba, mereka akan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan milik pemerintah.

"Langkah pencegahan ini sangat penting untuk dilakukan, meskipun sampai saat ini belum ada laporan kasus Ebola yang ditemukan di wilayah Thailand," kata Direktur DDC Thailand, Montien Kanasawat, dilansir Channel News Asia.

2. Perkembangan kasus Ebola jenis Bundibugyo di Afrika

Wabah terbaru ini berawal dari provinsi bagian barat dan timur DRC, lalu menyebar hingga ke wilayah Uganda. Berdasarkan data terkini, terdapat lebih dari seribu kasus berstatus suspek dan positif di DRC dengan ratusan korban jiwa.

Sementara itu, Uganda mencatat sejumlah kasus terkonfirmasi dengan satu pasien meninggal dunia. Penyebaran kali ini melibatkan virus Ebola varian Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau obat resmi. Penularannya didorong oleh tingginya mobilitas warga di sekitar daerah perbatasan kedua negara.

3. Dampak kebijakan terhadap perjalanan internasional

Penerapan aturan ketat dari otoritas Thailand ini secara langsung memengaruhi rencana perjalanan internasional. Penumpang yang terbang dari atau sekadar transit di DRC dan Uganda harus siap mengikuti prosedur isolasi jika menjadikan Thailand sebagai tujuan akhir.

Beberapa negara lain juga mulai mengambil langkah serupa sebagai bentuk kewaspadaan global. Meski berbagai langkah pencegahan mulai diperketat, lembaga kesehatan internasional menilai risiko penyebaran virus ini di luar Benua Afrika saat ini masih tergolong rendah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article