unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018 ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Trump menjadikan transisi kekuasaan di Venezuela sebagai acuan untuk rencananya di Iran. Awal tahun ini, pasukan khusus AS berhasil menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang kemudian dijebloskan ke penjara federal di Brooklyn atas tuduhan konspirasi narkoba.
Operasi kilat tersebut membuka jalan bagi Delcy Rodriguez untuk mengambil alih kursi kepresidenan Venezuela. Sempat menjabat sebagai wakil presiden di bawah Maduro, Rodriguez kini terbukti patuh pada tuntutan Washington. Rezim baru ini bahkan sudah memasok lebih dari 80 juta barel minyak ke AS.
"Saya harus dilibatkan dalam penunjukan ini, seperti halnya dengan Delcy di Venezuela. Mereka sedang membuang-buang waktu," tegas Trump kepada Al Jazeera.
Selain itu, Venezuela di bawah kepemimpinan Rodriguez juga memutus total aliran energinya ke Kuba. Pengamat dari Quincy Institute, Trita Parsi, menilai Trump akan kesulitan mencari figur sepatuh Rodriguez untuk memimpin Iran.
"Dia tidak keberatan jika tokoh simbolis mengambil alih Iran selama orang tersebut menjalankan kebijakan yang disukai Trump, seperti yang telah dilakukan Delcy. Tampaknya dia tidak akan menemukan orang seperti itu di dalam sistem Iran," kata Parsi.