Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Tegaskan Lebanon Tak Masuk Gencatan Senjata AS-Iran
Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran karena konflik di sana melibatkan Hizbullah dan akan diselesaikan secara terpisah.
  • Iran memperingatkan bahwa pengecualian Lebanon dapat mengancam stabilitas gencatan senjata, bahkan berpotensi memicu respons militer dan gangguan jalur minyak di Selat Hormuz.
  • Serangan besar Israel ke Lebanon menewaskan ratusan warga sipil, memicu krisis kemanusiaan, serta kecaman dari pemerintah Lebanon dan Hizbullah yang menyebutnya sebagai kejahatan perang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Ia menilai konflik yang terjadi di wilayah tersebut berdiri sendiri karena melibatkan Hizbullah dan akan diselesaikan secara terpisah.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada penyiar publik AS, PBS pada Rabu (8/4/2026).

“Karena Hizbullah, mereka tidak dimasukkan dalam kesepakatan. Itu juga akan ditangani. Itu adalah pertempuran terpisah” katanya, seperti dikutip Euro News.

1. Gedung Putih tegaskan posisi AS soal Lebanon

Gedung Putih (pexels.com/Chris)

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan dukungan terhadap pernyataan Trump. Ia menjelaskan kepada wartawan bahwa Lebanon memang tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata yang telah disampaikan kepada seluruh pihak terkait serta menegaskan posisi Israel sebagai sekutu utama AS.

Namun, sikap Washington tersebut tak sejalan dengan pernyataan Pakistan sebagai mediator. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui platform X menyebut kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu berlaku untuk semua wilayah termasuk Lebanon.

Sharif menyampaikan bahwa dengan kerendahan hati yang terbesar ia mengumumkan Iran dan AS bersama sekutu mereka telah sepakat menjalankan gencatan senjata segera di berbagai wilayah termasuk Lebanon.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arghchi membagikan pernyataan Sharif dan menekankan bahwa ketentuan kesepakatan Iran-AS bersifat jelas. Ia menyebut AS harus menentukan pilihan antara menghentikan konflik atau melanjutkan perang melalui Israel, serta menyoroti perhatian dunia terhadap situasi di Lebanon dan komitmen Washington.

2. Iran nilai pengecualian Lebanon berisiko besar

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa tidak dimasukkannya Lebanon dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata secara menyeluruh. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa kesepakatan tersebut sejatinya mencakup seluruh wilayah dan Teheran akan memberikan balasan atas tindakan Israel di Lebanon.

“Jika agresi terhadap Lebanon yang tercinta tidak dihentikan segera, kami akan melaksanakan tugas kami dan memberikan respons yang disesalkan kepada para agresor jahat di wilayah tersebut,” ujar Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), dikutip Al Jazeera.

Selain itu, media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan potensi penghentian lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Laporan tersebut juga menyebut kemungkinan penarikan dari perjanjian jika serangan Israel terus berlanjut, meski belum ada konfirmasi resmi dari pejabat Iran.

3. Serangan Israel picu korban besar dan krisis kemanusiaan

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Israel melancarkan serangan skala besar ke berbagai wilayah Lebanon yang menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.160 lainnya. Target serangan meliputi kawasan padat seperti permukiman, masjid, fasilitas kesehatan, kendaraan, hingga area pemakaman di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan wilayah selatan, termasuk serangan di Shmestar yang menewaskan sedikitnya 20 orang.

Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menjelaskan kebutuhan terus meningkat di tengah luasnya serangan. Ia menyebut pihaknya menghadapi eskalasi berbahaya dengan lebih dari 100 serangan udara yang menyasar warga sipil di berbagai wilayah.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam meminta komunitas internasional segera mengambil tindakan. Ia menyatakan Israel tidak menunjukkan kepedulian terhadap upaya penghentian perang serta mengabaikan prinsip hukum internasional dan hukum humaniter.

Hizbullah menilai serangan tersebut sebagai bentuk kekejaman ekstrem yang menargetkan kawasan sipil. Kelompok itu menyebutnya sebagai kejahatan perang dan genosida serta menegaskan haknya untuk melakukan perlawanan.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 target Hizbullah seperti peluncur rudal, pusat komando, dan fasilitas intelijen. Mereka juga menuduh Hizbullah memanfaatkan warga sipil sebagai perisai manusia serta menyerukan agar masyarakat Lebanon menolak aktivitas kelompok tersebut di area sipil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team