Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Israel Bom Lebanon usai Gencatan Senjata AS-Iran, 254 Orang Tewas

Israel Bom Lebanon usai Gencatan Senjata AS-Iran, 254 Orang Tewas
serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Israel melancarkan serangan udara besar ke Lebanon beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan, menewaskan 254 orang dan melukai lebih dari seribu warga sipil.
  • Pemerintah Lebanon dan Hizbullah mengecam keras serangan tersebut sebagai kejahatan perang, sementara berbagai negara serta PBB menilai tindakan Israel melanggar hukum internasional.
  • Iran memperingatkan akan keluar dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus menyerang Lebanon, sedangkan AS menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama 2 pekan. Sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas dan 1.165 lainnya terluka.

Serangan udara tersebut menargetkan menargetkan wilayah Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon dan sejumlah desa di Lebanon selatan. Militer Israel mengatakan serangan tersebut merupakan serangan terkoordinasi terbesar terhadap Lebanon sejak mereka memulai operasi militer baru di negara itu pada 2 Maret 2026, dengan menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan situs militer Hizbullah.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya mengatakan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup Lebanon. Hal ini bertentangan dengan pernyataan mediator Pakistan, yang menyebut gencatan senjata itu juga mencakup Lebanon. Presiden AS, Donald Trump, kemudian buka suara, dengan mengatakan bahwa Lebanon merupakan kasus terpisah dan bukan bagian dari kesepakatan yang ada.

1. Rumah sakit minta masyarakat lakukan donor darah

ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)
ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)

Akibat pengeboman dahsyat tersebut, rumah sakit di Lebanon mengeluarkan seruan mendesak kepada masyarakat untuk melakukan donor darah. Dalam pernyataan tertulis, ketua sindikat dokter Lebanon, Elias Chlela, juga mengimbau semua dokter dari berbagai spesialisasi untuk segera menuju rumah sakit mana pun yang bisa mereka datangi guna memberikan bantuan.

Sementara itu, orang-orang bergegas pulang untuk memeriksa keadaan keluarga mereka. Seorang pria terekam berlari menuju bangunan yang terkena serangan di kawasan Chiyah sambil berteriak: “Ada orang di dalam!”

“Saya punya teman di gedung ini—Mahmoud. Saya tidak tahu dia di mana. Dia tidak menjawab teleponnya. Kita harus menghentikan perang ini, ini sudah keterlaluan,” kata Shaden Fakih, seorang pelatih calisthenics berusia 24 tahun, menunjuk sebuah bangunan yang runtuh di kawasan Barbour di pusat Beirut, dikutip dari The Guardian.

2. Pemerintah Lebanon dan Hizbullah kutuk serangan tersebut

Para pejuang Hizbullah dalam sebuah upacara (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
Para pejuang Hizbullah dalam sebuah upacara (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Dilansir dari Al Jazeera, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengutuk serangan Israel terhadap wilayah padat penduduk, dengan menyebutnya sebagai kejahatan perang besar-besaran.

“Kejahatan yang terjadi saat ini, bertepatan dengan perjanjian gencatan senjata yang diumumkan di wilayah tersebut – sebuah perjanjian yang gagal ditegakkan oleh Israel dan aparat politik dan keamanannya – adalah ujian serius bagi komunitas internasional dan merupakan tantangan besar terhadap semua hukum, norma, dan konvensi internasional, yang setiap hari dilanggar oleh Israel melalui kampanye pembunuhan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern,” kata Berri.

Sementara itu, kelompok Hizbullah mengatakan mereka mempunyai hak untuk membalas serangan tersebut.

“Kami menegaskan bahwa darah para syuhada dan korban luka tidak akan tertumpah sia-sia, dan bahwa pembantaian hari ini, seperti semua tindakan agresi dan kejahatan brutal lainnya, menegaskan hak alami dan sah kami untuk melawan pendudukan serta membalas agresinya,” kata Hizbullah dalam sebuah pernyataan.

Serangan Israel ini juga menuai kecaman dari komunitas internasional, termasuk Qatar, Mesir, Turki, Spanyol, Italia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka menyebut serangan itu sebagai eskalasi berbahaya sekaligus pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Lebanon dan aturan hukum humaniter internasional.

3. Iran ancam keluar dari perjanjian gencatan senjata

protes solidaritas terhadap Iran
protes solidaritas terhadap Iran (Matt Hrkac from Geelong / Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut kantor berita Tasnim, para pejabat Iran mengatakan bahwa negara tersebut siap keluar dari kesepakatan gencatan senjata jika Israel terus melakukan pelanggaran di Lebanon. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga memperingatkan akan merespons serangan di Lebanon jika Israel tidak menghentikan kekerasan.

"Persyaratan Gencatan Senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih – gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. AS tidak bisa melakukan keduanya," tulis Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan Iran akan melakukan tindakan bodoh jika mempertaruhkan gencatan senjata dengan Washington akibat serangan Israel di Lebanon.

"Jika Iran ingin membiarkan perundingan ini gagal – dalam konflik yang membuat mereka terpukul – karena Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan Amerika Serikat tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa itu adalah bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” kata Vance.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More