Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Bakal Akhiri Gencatan Senjata AS jika Israel Terus Serang Lebanon

Iran Bakal Akhiri Gencatan Senjata AS jika Israel Terus Serang Lebanon
potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)
Intinya Sih
  • Iran mengancam akan mengakhiri gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon, menegaskan bahwa kesepakatan tersebut juga mencakup perlindungan terhadap Lebanon.
  • Wakil Presiden AS JD. Vance menilai ancaman Iran sebagai keputusan yang keliru dan menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran.
  • Gencatan senjata antara AS dan Iran disepakati Donald Trump setelah Iran membuka Selat Hormuz, namun Israel tetap melanjutkan serangan ke Lebanon yang telah menewaskan lebih dari 1.500 orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Iran dikabarkan bakal mengakhiri gencatan senjata dengan Amerika Serikat jika Israel terus menyerang Lebanon. Kabar tersebut disampaikan oleh seorang sumber anonim dari Iran pada Rabu (8/4/2026). 

“Iran akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis terus berlanjut melalui serangan terhadap Lebanon,” bunyi pernyataan sumber tersebut kepada Tasnim News yang kemudian dikutip oleh Anadolu Agency.

1. Menteri Luar Negeri Iran mendesak Israel setop serang Lebanon

Abbas Aragchi sedang menghadiri pertemuan.
potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi (commons.wikimedia.org/محمد برنو)

Dalam kesempatan lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, mendesak Israel untuk berhenti menyerang Lebanon. Sebab, menurutnya, dokumen kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran juga secara eksplisit melibatkan Lebanon. 

“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS sudah jelas dan eksplisit: AS harus memilih—gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak bisa mendapatkan keduanya,” tulis Aragchi dalam unggahan di X.

“Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” lanjut Aragchi.

2. Wakil Presiden AS mengecam ancaman dari Iran

JD Vance sedang melakukan upacara pelantikan.
JD Vance sedang melakukan upacara pelantikan sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2025 (commons.wikimedia.org/Office of Vice President of the United States)

Ancaman Iran tadi menuai respons dari Wakil Presiden AS, JD. Vance. Ia mengatakan akan membiarkan Iran untuk memilih pilihannya sendiri. Jika Iran memang ingin menyudahi gencatan senjata, maka AS akan membiarkannya. Namun, Iran harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi.

"Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekali pun disebut oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka," kata Vance dilansir Al Jazeera.  

“Menurut kami, itu bodoh. Namun, itu tetap menjadi pilihan mereka. Saya pikir, ini berasal dari kesalahpahaman yang sah. Saya pikir, Iran mengira gencatan senjata itu termasuk Lebanon. Padahal tidak,” lanjut Vance.

3. Donald Trump sebelumnya sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran

Donald Trump sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran pada Selasa (7/4/2026). Langkah ini diambil karena Iran kini sudah bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Gencatan senjata ini juga termasuk Israel

“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata Aragchi.

AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak disertakan dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. 

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 1.530 orang. Sementara itu, lebih dari 1,2 juta orang lainnya terpaksa mengungsi untuk menghindari serangan Israel.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More