Relaksasi pembatasan akibat virus corona membuat warga ke luar rumah saat libur panjang Memorial Day di Ocean City, Maryland, Amerika Serikat, pada 23 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque
Sampai hari ini, total ada lebih dari 1,6 juta kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan belum ada tanda kurva akan melandai dalam waktu dekat. Trump sendiri secara terbuka menolak melakukan lockdown dan masih bersikeras prioritasnya adalah soal ekonomi.
Berbagai pengamat menilai Trump khawatir kebijakan ketat untuk merespons virus corona akan mencederai peluangnya terpilih kembali sebagai presiden.Bahkan, ketika ditanya apa yang akan pemerintah federal lakukan seandainya Amerika Serikat mengalami gelombang kedua virus corona, Trump menegaskan "kami takkan menutup negara".
"Kami akan memadamkan api. Kami takkan menutup negara," ujar Trump, seperti dikutip CNBC pada Kamis (21/5). "Kami bisa memadamkan api. Entah itu bara api atau kobaran api, kami akan memadamkannya. Tapi kami takkan menutup negara," tegasnya.
Dr. Anthony Fauci selaku anggota gugus tugas COVID-19 Gedung Putih mengatakan kepada The Washington Post bahwa ia "tak ragu" akan ada gelombang berikutnya, bahkan mungkin sampai akhir tahun.
"Virus itu takkan menghilang," kata Fauci. "Itu adalah virus yang sangat mudah menular di berbagai waktu, tempat atau lainnya. Selama itu masalahnya, selalu ada risiko untuk muncul kembali," jelasnya lagi.