Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

India Protes Keras usai Serangan Kapal, Diplomat AS Dipanggil

India Protes Keras usai Serangan Kapal, Diplomat AS Dipanggil
Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)
Intinya Sih
  • Pemerintah India memanggil diplomat AS untuk menyampaikan protes keras atas dua serangan militer AS terhadap kapal komersial berawak India di Teluk Oman yang menewaskan tiga pelaut.
  • Insiden tersebut memperlihatkan meningkatnya risiko bagi pelaut India di tengah konflik geopolitik dan blokade laut AS terhadap Iran, yang telah menelan korban jiwa serta mengganggu jalur perdagangan sipil.
  • Eskalasi serangan memicu kecaman internasional menjelang KTT G7, dengan PBB dan Iran menilai tindakan AS mengancam keamanan global serta mendorong kenaikan harga energi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan India memanas setelah militer AS menyerang dua kapal tanker komersial yang mempekerjakan awak asal India di Teluk Oman. Pemerintah India pun kembali memanggil perwakilan diplomatik AS untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut.

Insiden pertama terjadi pada Selasa (9/6/2026) malam saat Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyerang MT Settebello, kapal tanker produk kimia dan minyak berbendera Palau. CENTCOM menyebut serangan itu dilakukan secara presisi karena awak kapal dinilai tak mematuhi instruksi militer.

Serangan tersebut memicu kebakaran di ruang mesin ketika kapal berada sekitar 20 mil laut timur laut Pelabuhan Sohar, Oman. Angkatan Laut Oman kemudian menyelamatkan 21 pelaut India, sementara tiga awak lain sempat hilang dan kemudian dipastikan meninggal dunia menurut laporan Indian Express. Pada Kamis (11/6/2026), pasukan AS kembali meluncurkan rudal Hellfire ke ruang mesin MT Jalveer berbendera Guinea-Bissau di dekat pantai Oman, namun seluruh 20 pelaut India di kapal itu berhasil dievakuasi.

1. Kementerian India menyampaikan protes kepada AS

Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022.
Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)

Menanggapi rangkaian insiden tersebut, Sekretaris Tambahan Kementerian Luar Negeri India, Nagaraj Naidu, memanggil Charge d’Affaires Kedutaan Besar AS di New Delhi, Jason Meeks. Pertemuan itu digunakan untuk menyampaikan keberatan resmi India atas penggunaan kekuatan militer terhadap kapal sipil.

Kementerian menyebut Meeks dipanggil ke kantor mereka pada Jumat (12/6/2026) untuk membahas serangan lanjutan yang melibatkan kapal dengan awak India. India juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa.

Pihak kementerian menjelaskan isi keberatan yang disampaikan kepada diplomat AS tersebut.

“Protes keras diajukan kepadanya mengenai serangan lanjutan oleh pasukan angkatan laut AS terhadap kapal komersial yang membawa pelaut India di Teluk Oman, yang telah mengakibatkan hilangnya tiga nyawa orang India yang tragis dan dapat dihindari,” kata kementerian, dikutip Indian Express.

Melalui pertemuan tersebut, Naidu meminta Meeks meneruskan seluruh kekhawatiran India kepada pemerintah di Washington. India juga mendesak AS mengambil langkah agar warga sipil tak kembali menjadi korban.

2. Konflik laut mengancam keselamatan pelaut India

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Rangkaian kejadian di Teluk Oman kembali menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi pelaut India di tengah konflik geopolitik yang berlangsung. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026 dan diikuti kebijakan blokade laut Presiden Donald Trump pada pertengahan April, sedikitnya 13 warga India tewas dan satu orang lainnya masih hilang.

Blokade tersebut diberlakukan untuk menekan Iran agar menerima syarat penyelesaian perang. Kebijakan itu berhasil mengurangi ekspor minyak Iran, namun pada saat yang sama turut mengganggu keamanan jalur perdagangan sipil.

Kementerian Luar Negeri India menyebut pemanggilan Meeks merupakan bagian dari komunikasi diplomatik yang telah dilakukan sebelumnya.

“Kedutaan kami di Oman memantau situasi dengan cermat dan secara proaktif berkoordinasi dengan otoritas Oman dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang sedang berlangsung,” jelas perwakilan kementerian, sembari menegaskan bahwa penargetan terhadap kapal komersial dan infrastruktur sipil di wilayah tersebut harus segera dihentikan.

3. Reaksi dunia muncul menjelang KTT G7

Presiden Amerika Serikat , Donald Trump dan Perdana Menteri India, Narendra Modi
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri India, Narendra Modi (White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Eskalasi di jalur pelayaran internasional memicu respons dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Arsenio Dominguez, mengutuk tindakan yang membahayakan keselamatan pelaut dan pelayaran internasional.

Gangguan keamanan tersebut juga berdampak pada Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Situasi itu mendorong kenaikan harga minyak dan gas global serta memengaruhi pasokan gas minyak cair (LPG) ke India dan sejumlah negara lain.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmael Baqaei, menyebut serangan AS terhadap kapal komersial India yang menewaskan sedikitnya tiga warga India sebagai bukti praktik perampokan bersenjata dan pembajakan negara oleh Washington. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta meminta masyarakat internasional meminta pertanggungjawaban AS atas tindakan yang dinilai mengancam keamanan global dan keselamatan navigasi.

Situasi tersebut diperkirakan menjadi salah satu isu yang membayangi pertemuan pemimpin G7 di Prancis pekan depan. Perdana Menteri India Narendra Modi dan Trump dijadwalkan hadir dalam pertemuan itu, sementara isu keamanan maritim dan perlindungan warga sipil diperkirakan menjadi perhatian utama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More