Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Percaya Rusia Tidak Berniat Ciptakan Senjata Biologis
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)
  • Presiden AS Donald Trump menilai wabah pneumonia misterius di Siberia tidak terkait senjata biologis dan meyakini Rusia telah mengendalikannya, meski meminta penjelasan lebih lanjut.
  • Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Rusia memublikasikan informasi tentang kematian pekerja laboratorium di Irkutsk; hampir 200 orang telah menjalani observasi kesehatan.
  • Kedutaan Besar AS di Moskow meminta warga AS segera meninggalkan Rusia, mengikuti arahan otoritas lokal, dan menghindari area terdampak karena keterbatasan bantuan di luar Moskow.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Rabu (7/10/2026), memercayai bahwa wabah pneumonia misterius di Siberia tidak berkaitan dengan senjata biologis. Menurutnya, Rusia tidak sedang menciptakan senjata biologis. 

Pada akhir pekan lalu, Rusia digemparkan dengan tewasnya seorang pekerja laboratorium di Irkutsk. Pekerja perempuan berusia 28 tahun itu sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum meninggal dunia dengan gejala pneumonia. 

1. Trump berharap Rusia bersedia memberikan keterangan lebih

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Trump memercayai bahwa Rusia sudah berhasil menanggulangi wabah pneumonia di Siberia. Namun, ia masih berharap Rusia bersedia memberikan keterangan lebih kepada AS. 

“Sama seperti awal COVID-19, China tidak banyak mengatakan soal itu dan kini Rusia juga tidak banyak mengatakan soal penyakit itu. Namun, Rusia mengaku sudah dapat mengontrolnya,” terangnya, dikutip dari CNBC.

Trump mengaku bersedia membantu Rusia untuk mengontrol ancaman penyebaran pneumonia. Ia mengakui bahwa penyakit tersebut harus segera ditanggulangi karena semakin kuat dan mampu beradaptasi dari waktu ke waktu. 

2. Rubio desak Rusia memublikasikan informasi lebih soal pneumonia

ilustrasi bendera Rusia (pixabay.com/michel_van_der_vegt)

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mendesak Rusia memberikan informasi lebih terkait kematian pekerja laboratorium di Siberia. Menurutnya, terdapat sejumlah spekulasi soal tewasnya pekerja lab tersebut. 

“Saya pikir pemerintah Rusia harus memublikasikan lebih informasi ini kepada dunia. Kami mengawasi terus wabah pneumonia dari dekat, dari jam ke jam,” tuturnya, dikutip dari BBC.

Berdasarkan informasi pada Jumat pekan lalu, hampir 200 orang sudah menjalani observasi. Kebijakan ini sebagai prosedur pengecekan kesehatan menyusul tewasnya seorang pekerja lab. 

3. AS desak warganya segera meninggalkan Rusia

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/mck)

Pada saat yang sama, Kantor Kedutaan Besar AS di Moskow mendesak warganya untuk segera meninggalkan Rusia. Anjuran ini setelah merebaknya wabah pneumonia yang menyebabkan tewasnya seorang pekerja lab di Irkutsk. 

Dilansir The Moscow Times, Washington menganjurkan warga AS untuk mengikuti arahan dari otoritas lokal dan menghindari area terdampak. Sebab, pemerintah AS memiliki keterbatasan dalam membantu warga AS di Rusia, terutama di luar Moskow. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article