Trump Sebut Imigran dan Islam Dalang Kerusuhan di Prancis

- Donald Trump menyebut kerusuhan terkait demonstrasi di Prancis dipicu migrasi massal dan Islam, bukan masalah sekolah seperti tuntutan para siswa.
- Demonstrasi siswa menuntut perbaikan pendidikan akibat kelas terlalu padat dan kekurangan guru; aksi meluas dengan dukungan serikat pekerja serta mahasiswa di sejumlah kota.
- Prancis menolak narasi Trump, sementara Emmanuel Macron menggelar pertemuan darurat saat jumlah demonstran dilaporkan mencapai 256 ribu menurut Kementerian Dalam Negeri.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Selasa (6/10/2026), mengatakan bahwa kerusuhan imbas demonstrasi di Prancis disebabkan oleh migrasi massal dan Islam. Menurutnya, demo kali ini tidak berkaitan dengan sekolah.
“Apa yang terjadi di Prancis tidak lebih dari migrasi massal yang tak terkontrol. Ini bukan soal sekolah, ini mengenai Islam yang ingin mengambilalih sebuah negara besar,” tuturnya, dikutip dari Politico.
Lebih dari sepekan terakhir, Prancis sudah dilanda demonstrasi siswa di seluruh penjuru negeri untuk memperbaiki pendidikan. Demonstrasi besar-besaran ini didorong kelebihan kapasitas ruang kelas dan kurangnya tenaga pengajar.
1. AS peringatkan warganya soal keamanan di Prancis

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/mck) Menyusul demonstrasi siswa yang semakin meluas, Kedutaan Besar AS di Paris memberikan peringatan bagi warga AS di Prancis. Dengan ini, Washington memperingatkan agar warganya menghindari area demonstrasi dan mencari rute alternatif.
Dilansir Newsweek, demonstrasi siswa di Prancis ini semakin meluas usai diikuti oleh persatuan pekerja. Bahkan, persatuan mahasiswa di Prancis, Union Etudiante juga ikut dalam aksi ini dan mengunggah daftar area demonstrasi di Paris, Lyon, Bordeaux, Nice, dan Marseille.
2. Prancis tolak pernyataan Trump soal demo siswa di negaranya

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky) Menanggapi tuduhan Trump, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot mengatakan bahwa Prancis harus menentukan ceritanya sendiri. Ia menilai tidak ada pihak lain yang dapat menentukan insiden di Prancis.
“Jika kami tidak menulis sendiri cerita kami, pihak lain yang akan menulisnya untuk kami. Prancis tidak akan membiarkan soal cerita-cerita yang dikarang oleh pihak lain,” terangnya, dikutip dari Anadolu Agency.
Barrot menambahkan, sejumlah pihak memang berupaya menginterpretasikan kejadian di Prancis sesuai cara mereka. Pihak asing tersebut dapat negara rival, pesaing, ataupun rekan Prancis sendiri.
3. Macron adakan pertemuan tangani demo siswa di Prancis

Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons) Pada saat yang sama, Presiden Prancis, Emmanuel Macron sudah mengadakan pertemuan darurat untuk mendiskusikan demonstrasi siswa yang kian meluas. Pertemuan ini dilakukan setelah Macron menghindari respons soal demo siswa dalam sepekan terakhir.
Pada Selasa, Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut bahwa demonstran di seluruh Prancis sudah menembus 256 ribu orang. Diketahui sebanyak 56 ribu demonstran sudah menyuarakan tuntutannya di Paris. Sedangkan, Union Etudiante memperkirakan peserta demo menembus 450 ribu orang.























