Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Trump mempertimbangkan opsi militer dan pemulihan internet di Iran.

  • Korban tewas akibat represi aparat mencapai 500 orang.

  • Teheran mengancam serang pangkalan AS jika ikut campur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk intervensi militer, untuk merespons gelombang protes di Iran. Trump dijadwalkan menerima pengarahan dari pejabat tinggi pertahanan pada Selasa (13/1/2026), terkait situasi di Teheran.

Langkah ini diambil menyusul laporan tewasnya ratusan demonstran akibat tindakan keras aparat keamanan Iran. Washington menegaskan tidak akan tinggal diam jika rezim terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap warganya sendiri.

1. Trump kaji opsi militer dan pemulihan internet

ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Para pejabat administrasi Trump sedang menyusun daftar opsi militer dan non-militer untuk diajukan kepada Presiden. Opsi tersebut mencakup serangan siber ofensif hingga serangan militer terbatas yang menargetkan simbol rezim atau infrastruktur minyak.

Trump secara terbuka menyatakan dukungan terhadap para demonstran melalui media sosial Truth Social. Ia menyebut Iran sedang memperjuangkan kebebasan dan AS siap membantu proses tersebut jika diperlukan.

Selain opsi militer, Gedung Putih juga menjajaki cara memulihkan akses internet yang diputus total oleh pemerintah Iran. Trump berencana berbicara dengan Elon Musk mengenai penyediaan layanan internet satelit Starlink bagi para aktivis.

Namun, sejumlah pejabat internal memperingatkan risiko serangan militer langsung pada tahap ini. Mereka khawatir tindakan tersebut justru dapat merusak momentum protes atau menyatukan rakyat Iran di belakang rezim penguasa.

“Kami sedang melihatnya dengan sangat serius, militer sedang mengkajinya, dan kami mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” ujar Trump kepada awak media di Air Force One, dilansir The Independent.

2. Korban tewas akibat represi aparat capai 500 orang

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Kelompok hak asasi manusia HRANA melaporkan jumlah korban tewas dalam kerusuhan ini telah mencapai sedikitnya 538 orang. Angka tersebut mencakup 490 demonstran dan 48 personel keamanan yang tewas selama bentrokan.

Pihak berwenang Iran juga telah menangkap lebih dari 10.600 orang sejak protes meletus akhir Desember lalu. Gelombang penangkapan terus meningkat seiring upaya rezim membungkam perbedaan pendapat di berbagai kota.

Demonstrasi ini dipicu oleh jatuhnya nilai mata uang rial ke rekor terendah yang menghancurkan daya beli masyarakat. Aksi protes yang bermula dari isu ekonomi kini berubah menjadi tuntutan politik untuk menggulingkan pemerintahan teokratis.

Informasi rinci mengenai situasi lapangan sulit diverifikasi karena pemadaman internet nasional yang telah berlangsung selama empat hari. Aktivis mengandalkan jaringan satelit terbatas untuk mengirimkan bukti kekerasan aparat ke dunia luar.

3. Teheran ancam serang pangkalan AS jika ikut campur

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengeluarkan ancaman keras sebagai respons atas potensi intervensi AS. Ia menegaskan Teheran akan membalas setiap serangan asing dengan kekuatan penuh.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan pemerintahannya tidak akan mundur menghadapi tekanan eksternal maupun internal. Ia menuduh protes tersebut didalangi oleh musuh asing yang ingin mengguncang stabilitas negara.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menuding AS dan Israel sengaja memanaskan situasi. Pezeshkian mengklaim pihak asing memanfaatkan kesulitan ekonomi rakyat untuk agenda mereka.

Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas mengingat kehadiran ribuan tentara AS di Timur Tengah. Dilansir CBS, Iran sebelumnya pernah menyerang pangkalan AS di Irak dan Qatar sebagai balasan atas tindakan militer Washington.

“Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pusat militer, pangkalan, dan kapal Amerika di kawasan akan menjadi target sah kami,” tegas Qalibaf, dikutip Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team