Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

116 Orang Tewas dalam Demo, Iran Ancam AS dan Israel

Orang-orang sedang berdemo.
ilustrasi protes di Iran (pexels.com/Kelly)
Intinya sih...
  • Ancaman Iran dan tekanan Amerika Serikat
    • Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengancam AS dan Israel
    • Presiden Donald Trump kembali menyatakan dukungan kepada para demonstran Iran
    • Departemen Luar Negeri AS memperingatkan Teheran agar tidak meremehkan ancaman Washington
    • Protes meluas di Teheran, Mashhad, dan kota lainnya
      • Demonstrasi terjadi di beberapa kota besar di Iran
      • Rekaman video menunjukkan konfrontasi antara demonstran dan aparat keamanan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Aksi protes nasional yang menantang sistem teokrasi Iran terus meluas dan memasuki pekan kedua, dengan demonstran kembali memadati jalanan di Teheran dan Mashhad hingga Minggu. Gelombang unjuk rasa yang diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan itu dilaporkan telah menewaskan 116 orang.

Di tengah pemadaman internet dan pemutusan jaringan telepon oleh pemerintah, pemantauan situasi dari luar negeri menjadi semakin sulit. Namun, kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut lebih dari 2.600 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai.

Situasi semakin memanas setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, melontarkan ancaman terbuka terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut kedua pihak akan menjadi “target sah” apabila Washington melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran, seperti yang sebelumnya diisyaratkan Presiden AS Donald Trump.

Ancaman tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran komunitas internasional bahwa pemadaman informasi akan memberi ruang bagi kelompok garis keras di dalam negeri untuk melancarkan penindakan berdarah terhadap demonstran.

1. Ancaman Iran dan tekanan Amerika Serikat

Bendera Amerika Serikat sedang berkibar.
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/David Dibert)

Pidato Qalibaf disiarkan langsung oleh televisi pemerintah Iran, di mana para anggota parlemen tampak meneriakkan slogan ‘Matilah Amerika!’ sambil mengerumuni podium. Dalam pidatonya, Qalibaf memuji aparat kepolisian dan Garda Revolusi Iran, khususnya pasukan relawan Basij, karena dinilai berdiri teguh menghadapi demonstrasi.

“Kami akan bertindak dengan cara paling keras dan menghukum mereka yang ditangkap,” kata Qalibaf, dilansir dari NPR, Minggu (11/1/2026).

Ia memperingatkan Israel dan seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah akan menjadi sasaran jika Iran diserang.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump kembali menyatakan dukungannya kepada para demonstran Iran. Dalam unggahan media sosial, Trump menulis bahwa Iran tengah melihat kebebasan seperti belum pernah terjadi sebelumnya dan mengatakan AS siap membantu.

Sejumlah media AS melaporkan Trump telah menerima berbagai opsi militer terkait Iran, meski belum mengambil keputusan akhir. Departemen Luar Negeri AS turut memperingatkan Teheran agar tidak meremehkan ancaman Washington.

2. Protes meluas di Teheran, Mashhad, dan kota lainnya

ilustrasi Teheran (Unsplash.com/Alena Vavrdova)
ilustrasi Teheran (Unsplash.com/Alena Vavrdova)

Rekaman video yang beredar dari dalam Iran, diduga dikirim menggunakan jaringan satelit Starlink, memperlihatkan demonstran berkumpul di kawasan Punak, Teheran utara. Dalam video tersebut, jalan-jalan terlihat diblokade aparat, sementara warga mengangkat ponsel menyala, membunyikan logam, dan menyalakan kembang api.

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran dan lokasi makam Imam Reza yang dianggap suci oleh umat Syiah, rekaman menunjukkan konfrontasi antara demonstran dan aparat keamanan. Api terlihat membakar puing-puing dan tempat sampah yang digunakan untuk menghalangi jalan.

Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di Kerman. Sementara itu, televisi pemerintah Iran menayangkan gambar jalanan yang tampak tenang di beberapa kota lain, serta demonstrasi tandingan yang mendukung pemerintah di Qom dan Qazvin.

3. Pemadaman informasi dan seruan aksi lanjutan

ilustrasi internet loading (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)
ilustrasi internet loading (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)

Pemerintah Iran memutus akses internet nasional dan sambungan telepon internasional sejak Kamis, meski tetap mengizinkan media milik negara untuk beroperasi. Al Jazeera menjadi satu-satunya jaringan media internasional besar yang dilaporkan masih bisa menyiarkan langsung dari Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelumnya mengisyaratkan akan ada pengetatan keamanan. Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad bahkan memperingatkan, siapa pun yang terlibat dalam protes akan dicap sebagai “musuh Tuhan”, tuduhan yang dapat berujung hukuman mati.

Sementara itu, Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, kembali menyerukan demonstrasi lanjutan pada akhir pekan. Ia meminta massa membawa bendera singa-matahari, simbol Iran sebelum Revolusi Islam 1979, untuk merebut kembali ruang publik.

Demonstrasi ini bermula pada 28 Desember, dipicu anjloknya nilai mata uang rial, yang kini diperdagangkan di atas 1,4 juta per dolar AS, di tengah tekanan sanksi internasional. Seiring waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi seruan terbuka untuk menantang kekuasaan teokrasi Iran.

Share
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More

TOP 5: KPK Tak Lagi Pajang Tersangka Korupsi hingga RI Pertama Blokir Glok

12 Jan 2026, 05:00 WIBNews