Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Uganda Pulangkan Pasien Ebola Terakhir, Wabah Segera Berakhir!
Relawan pekerja medis Ebola. (Photo by Maj. Francis Obuseh, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Uganda memulangkan pasien Ebola terakhir dan kini tanpa kasus aktif, namun masih menjalani masa pemantauan 42 hari sesuai pedoman WHO sebelum dinyatakan bebas wabah.
  • Pemerintah Uganda melobi negara lain untuk mencabut pembatasan perjalanan yang melemahkan ekonomi, sambil menyoroti keberhasilan respons cepat dan rendahnya tingkat kematian akibat Ebola.
  • Uganda memperkuat kerja sama dengan Kongo dalam penanganan lintas perbatasan serta menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam penelitian vaksin Ebola strain Bundibugyo bersama lembaga internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Uganda telah memulangkan pasien Ebola terakhir yang menjalani perawatan pada Kamis (16/7/2026). Dengan keluarnya pasien tersebut, negara Afrika Timur itu kini tidak lagi memiliki kasus Ebola aktif yang terkonfirmasi.

Menteri Kesehatan, Chris Baryomunsi, menyebut perkembangan tersebut sebagai momen yang membahagiakan. Meski demikian, Baryomunsi menegaskan bahwa Uganda belum dapat dinyatakan bebas Ebola sepenuhnya karena masih harus melewati masa pemantauan selama 42 hari tanpa kasus baru sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dilansir BBC, kasus pertama wabah Ebola di Uganda terdeteksi pada Mei lalu. Pasien pertama merupakan seorang pria yang datang dari Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk mencari pengobatan. Selama wabah berlangsung, negara Afrika itu telah mencatat 20 kasus, termasuk 15 warga negara Kongo, dengan dua korban meninggal dunia.

1. Uganda serukan negara lain cabut pembatasan perjalanan

ilustrasi Ebola (flickr.com/Focal Foto)

Uganda mulai melobi sejumlah negara untuk mencabut pembatasan perjalanan yang diberlakukan selama wabah berlangsung. Kampala menyebut hingga kini masih ada 15 negara yang mempertahankan pembatasan perjalanan, baik secara penuh maupun sebagian. Kebijakan tersebut dinilai telah melumpuhkan sektor pariwisata, perdagangan, dan aktivitas bisnis negara tersebut.

Dikutip dari The Guardian, Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara yang masih menempatkan Uganda pada tingkat peringatan perjalanan keempat, yakni tingkat peringatan tertinggi yang meminta warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke negara tersebut. Dalam kategori yang sama terdapat Korea Utara, Somalia, Afghanistan, dan Rusia.

Tingkat kematian akibat Ebola di Uganda berada di bawah 10 persen dan menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah. Perwakilan WHO di Uganda, Kasonde Mwinga, mengatakan rendahnya tingkat kematian tersebut menunjukkan respons negara Afrika Timur itu terhadap investasi jangka panjang dalam kesiapsiagaan menghadapi epidemi.

Menurut Mwinga, Uganda telah menyiapkan fasilitas perawatan, melatih tim medis darurat, dan menempatkan peralatan kesehatan sebelum wabah terjadi. Hal ini membuat respons negara tersebut dapat dilakukan dengan cepat saat kasus pertama terdeteksi.

2. Uganda dan Kongo perkuat kerja sama lintas perbatasan

Bendera Uganda (unsplash.com/Roman Derrick Okello)

Meski situasi di dalam negeri membaik, Kampala menilai ancaman Ebola masih tinggi karena wabah di Kongo belum terkendali. Presiden Uganda, Yoweri Museveni, dan Presiden Kongo, Félix Tshisekedi, telah menyepakati kerja sama untuk memperkuat penanganan lintas perbatasan.

Uganda telah mengirim 50 tenaga kesehatan beserta empat laboratorium bergerak yang ditempatkan di empat lokasi berbeda di wilayah Kongo. Pihaknya juga sepakat akan mengirim personel tambahan apabila situasi membutuhkannya.

Per 14 Juli, Kongo mencatat 2.073 kasus Ebola terkonfirmasi, termasuk 796 kematian. Wabah yang disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo itu pertama kali diumumkan oleh WHO pada 17 Mei lalu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sekitar dua pertiga kematian terjadi di masyarakat karena banyak pasien tidak pernah mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Tedros mengingatkan bahwa jumlah infeksi sebenarnya diperkirakan bisa mencapai empat kali lipat lebih besar daripada angka resmi.

3. Uganda siap partisipasi dalam pengembangan vaksin Ebola

Ilustrasi vaksin (magnific.com/freepik)

Komisaris Layanan Klinis Kementerian Kesehatan Uganda, Ronnie Bahatungire, mengatakan negaranya siap berpartisipasi dalam penelitian vaksin Ebola apabila mendapat kesempatan. Menurutnya, negara Afrika Timur itu sebelumnya telah ikut serta dalam uji coba terapi eksperimental selama wabah berlangsung dan akan melanjutkan kontribusinya pada pengembangan vaksin.

Pekan ini, Oxford Vaccine Group dari Universitas Oxford memulai uji klinis fase pertama vaksin BD-Ebov, kandidat vaksin pertama di dunia yang secara khusus dikembangkan untuk melawan virus Ebola strain Bundibugyo. Seorang peserta pertama telah menerima vaksin tersebut.

Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk strain Bundibugyo. WHO memperingatkan wabah di Republik Demokratik Kongo masih berkembang sangat cepat, sementara petugas kesehatan di lapangan menghadapi keterbatasan tempat tidur, pelacakan kontak, kapasitas pengujian, serta tantangan keamanan akibat konflik bersenjata yang masih berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article