Virus Ebola Menyebar Lagi ke Dua Provinsi di Republik Demokratik Kongo

- Virus Ebola di RD Kongo meluas ke provinsi Haut-Uele dan Tshopo dengan total 1.926 kasus serta 702 kematian, sementara WHO memperingatkan potensi penyebaran lebih besar.
- Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Rwampara melakukan mogok kerja karena belum menerima gaji dan bonus sejak awal penularan Ebola pada Mei lalu.
- Kelompok pemberontak AFC dan M23 memanfaatkan situasi wabah untuk menunjukkan kemampuan mereka mengelola wilayah, mengklaim tidak ada kasus baru dalam 21 hari terakhir.
Jakarta, IDN Times - Penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo terus meluas. Institusi kesehatan setempat melaporkan penyebaran di dua provinsi lain di bagian barat daya RD Kongo, yakni Haut-Uele dan Tshopo.
Sejauh ini, penularan virus Ebola di RD Kongo terus bertambah menjadi 1.926 kasus, termasuk 702 orang di antaranya tewas. Penularan terakhir tercatat berjumlah 4 orang di Tshopo, di mana 2 orang tewas dan 1 tewas di Haut-Uele.
1. Pemerintah berupaya tingkatkan pelacakan Ebola

Otoritas kesehatan setempat mengatakan akan terus berupaya untuk melacak orang yang terduga terjangkit Ebola, terutama di Tshopo dan Haut-Uele. Sebab, virus mematikan tersebut mayoritas menyebar lewat kontak cairan tubuh dari manusia maupun hewan.
“Meskipun saat ini, investigasi menunjukkan semua kasus yang terdeteksi di dua provinsi tersebut diimpor dari Niania di Ituri, penting untuk melihat kedua provinsi tersebut sebagai zona epidemik,” tutur Institut Nasional Kesehatan Masyarakat Kongo, dikutip dari CNBC, Selasa (14/7/2026).
Sementara, WHO sudah memperingatkan bahwa skala penyebaran bisa 2 hingga 4 kali lebih besar dibanding kasus yang tercatat. Saat ini, terhitung 4 dari 5 kasus Ebola baru tidak tahu dari masa asalnya.
2. Tenaga kesehatan Kongo gelar mogok kerja karena tak dibayar

Puluhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Rwampara menggelar mogok kerja. Aksi ini sebagai bentuk protes karena tidak menerima upah dan bonus sesuai yang dijanjikan oleh pemerintah dalam mengatasi penyebaran Ebola.
Dilansir Africa News, beberapa nakes mengatakan sudah menggelar mogok kerja sejak pekan lalu. Sementara, mereka menyebut bahwa otoritas RD Kongo tidak membayar gaji mereka sejak dimulainya penularan Ebola pada Mei.
“Kami sudah tidak dibayar. Ini sudah 45 hari. Seperti yang mereka katakan, kami belum dibayar hingga kini,” tutur Oliver Duciel yang bekerja dalam tim penanganan Ebola.
3. Pemberontak RD Kongo mencari kesempatan untuk menangani Ebola

Pemberontak RD Kongo, yakni AFC dan M23 disebut telah memanfaatkan situasi di teritori terdampak penyebaran Ebola. Mereka berusaha menunjukkan kemampuannya dalam mengatur dan menangani penularan Ebola.
Sebulan lalu, kedua pemberontak itu sudah mengadakan pengecekan berkala untuk mencegah penularan Ebola. Keduanya mengklaim bahwa penyebaran di wilayah kekuasaannya melambat dan tidak ada kasus baru dalam 21 hari terakhir.
Kedua kelompok pemberontak tersebut diketahui menguasai Provinsi Kivu Selatan dan Kivu Utara setelah merebutnya pada 2025. Keduanya bahkan sudah merebut dua kota besar, yakni Goma dan Bukavu.




















