Comscore Tracker

Mewarisi Budaya Persia, Ini Kisah Menarik Ramadan dari Iran

Berikut wawancara lengkap IDN Times dengan Dubes RI di Iran

Jakarta, IDN Times – Ada banyak hal unik mengenai Iran. Bukan hanya mewarisi budaya Persia, Iran juga merupakan negara dengan penganut aliran syiah terbayak di dunia. Selain itu, Indonesia-Iran ternyata memiliki hubungan diplomatik yang sangat baik.

Melalui platform Ambassador Talk: 30 Minutes Around the World, IDN Times bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mewawancarai Duta Besar RI di Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro. Selain Ronny, kami juga berbincang dengan Yanti, diaspora Indonesia yang sudah tinggal di Iran selama belasan tahun.

Keduanya bercerita mengenai banyak hal, mulai dari tradisi Ramadan di Iran, citra masyarakat Indonesia di Iran, hingga peluang apa yang bisa diambil di tengah hubungan baik kedua negara.

“Orang Iran saya lihat ramah-ramah. Kita kebanyakan baca media yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di sini. Katanya Iran itu perang, gak aman, nyatanya beda banget di sini. Jadi perbedaan antara media dengan apa yang ada di sini yang membuat saya agak terkejut,” kata Ronny.

Lebih lengkapnya, berikut dialog lengkap dengan Dubes Ronny dan Yanti.

Bagaimana rasanya berpuasa di Iran dan apa yang dirindukan dari berpuasa di Indonesia, Pak Dubes?

Mewarisi Budaya Persia, Ini Kisah Menarik Ramadan dari IranDuta Besar RI di Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro (Instagram/Indonesiaintehran)

Secara umum gak ada perbedaan ya. Bulan Ramadan bulan yang ramah, berkah, kami juga puasa dan melaksanakan amalan-amalan yang disarankan dalam Islam.

Kalau dari sisi waktu, untuk saat ini memasuki musim semi, dan perbedaan puasa dengan Indonesia tidak cukup banyak, sekitar 15 jam. Kalau di Indonesia buka jam 6 sore, di Iran buka jam 7.30-an

Jadi yang dikangenin adalah jajanan dadakan itu. Takjil. Kalau di Iran itu gak ada. Karena kebudayaan, kebiasaan masyarakat setempat itu buka puasa di rumah masing-masing. Tidak di restoran, karena bakalan tutup siangnya, baru buka malam hari. Dan gak ada yang jualan takjil.

Ibu Yanti, sudah 19 tahun lebih di Iran, apa yang dirindukan dari berpuasa di Indonesia?

Kalau ngomog rindu tentang Indonesia, itu banyak sekali. Karena kenyataannya banyak yang ada di Indonesia, tapi gak ada di sini. Terutama pada bulan Ramadan. Seperti kata pak dubes, takjilnya. kalaupun ada kue-kue khas Ramadan itu pun beda, yang jelas kolak sangat dikangenin.

Kalau orang di sini itu jenis makanannya berbeda. Mereka tidak suka kuah-kuah, bahkan makan nasi mereka lauknya kering. Jadi memang beda banget, kalau di sini makannya kebab. Kalau pun ada makanan kuah, itu akan dipisah, gak akan dimakan bersama nasi.

Baca Juga: Iran Ancam Akan Serang Israel jika Menganggu

Pak Dubes, apa kegiatan KBRI selama Ramadan di saat pandemik?

Jadi saya sudah 2 kali menjalankan Ramadan di Iran dan tentunya pada saat yang pertama masih COVID-19 tinggi, segala kegiatan dibatasi. Nah untuk tahun ini, kita ada tarawih bersama masyarakat Indonesia, tentu dengan protokol kesehatan yang ketat.

Di sini memang pembatasannya sudah dilonggarkan. Contohnya beberapa waktu lalu, tanggal 21 Maret ada hari Tahun Baru Iran. Nah mereka selama 2 minggu melakukan perjalanan kemana-mana, dan itu diperbolehkan. Meskipun masih pakai protokol kesehatan.

Bagaimana kegiatan Ramadan di Iran, Pak Dubes?

Di Iran, tarawih tidak dilaksanakan di masjid. Itu juga yang buat kami kangen, kangen salatnya, jalan ke masjid, tarawih. Itu yang bikin rindu. Nah di sini gak ada tarawih jamaah di masjid-masjid.

Selama pengalaman saya di Iran, Ramadan itu malamnya gak terlalu ramai-ramai amat, kecuali kalau menjelang libur. Di sini liburnya Jumat, jadi malam Jumat atau Jumat malamnya baru ramai di jalan.

Ibu Yanti, adakah kegiatan Ramadan di KBRI yang dirindukan saat kondisi tidak pandemik?

Salat tarawih dan buka bersama di KBRI. Juga sebagai gongnya Idulfitri, di mana disajikan makanan Indonesia dan kita bisa bertemu masyarakat Indonesia di sini, ada pelajar atau pekerja. Itu kebahagiaan tersendiri bagi kita. Jadi kita silaturahmi di situ.

Adakah tradisi unik di Iran saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri?

Mewarisi Budaya Persia, Ini Kisah Menarik Ramadan dari IranDuta Besar RI di Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro (Instagram/Indonesiaintehran)

Kalau untuk Lebaran tidak, tapi untuk Tahun Baru Iran iya. Jadi mereka melakukan kunjungan, silaturahmi. Saya bandingkan dengan Idul Fitri, di Indonesia kan semuanya mudik, di Iran gak ada. Jadi libur hanya 1 hari saja, hanya saat hari raya Idul Fitri.

Kebiasaan menarik yang sebetulnya ada di Iran tapi tidak dilaukan di Teheran, tapi di derah provinsi, ada yang namanya mengambil dan membawa. Jadi ada satu jalan, di situ ada rumah. Nah, pada saat puasa, di rumah yang paling ujung itu memasak mengeluarkan asap di atas rumah. Baunya ini tercium sampai rumah kelima dari 10 rumah misalnya. Nah rumah kelima yang terbaui ini bisa meminta makanan. Jadi yang masak wajib memberikan makanan itu. Itu terjadi di desa. Ini budaya berbagi bagi masyarakat yang kekurangan untuk buka puasa bersama.

Bagaimana dengan proses penetapan awal Ramadan di sana, Pak Dubes?

Di sini ada kantor yang di bawah Rakhbar, itu (kantor) pemimpin agung, supreme leader. Itu ada kantornya yang melakukan rukyat. Terakhir (rukyat) kemarin tanggal 1 kalau gak salah, itu ternyata ditetapkan tanggal 3.

Jadi malam (tanggal 1) sudah diberi tahu. Sama seperti Indonesia. Saat Isya disampaikan bahwa puasa akan dilakukan tanggal 3, bukan tanggal 2. Dan KBRI puasanya mengikuti jadwal di negara setempat.

Ibu Yanti, makanan Indonesia yang paling disukai di Iran apa?

Sate, rendang, bakwan sayur. Saya pernah masak bakwan sayur di festival makanan di Iran. Masyaallah orang Iran sangat suka, dan mereka menanyakan resepnya. Sate dan rendang pasti. Mie juga. Indomie sampai di Iran.

Baca Juga: 7 Potret Mengintip Suasana Itikaf Jelang Idul Fitri di Masjid Istiqlal

Pak Dubes, bagaimana peran kuliner dalam mempererat hubungan Indonesia-Iran?

Kita memang perlu untuk mempromosikan kuliner Indonesia. Tapi paling tidak kopi instan Indonesia cukup terkenal. Itu sangat terkenal di tataran masyarakat mulai dari pasar sampai elite itu juga terkenal. Kopi instan yang 3 in 1, yang sachet, yang dijual keliling pakai sepeda kalau di Jakarta.

Kopi itu diperkenalkan oleh perusahaan Indonesia beberapa tahun lalu dan sekarang kan zamannya anak-anak millennial minum kopi. Justru kopi Indonesia yang dikenal dan banyak ditiru oleh perusahaan kopi Iran. Yang favorit di sini yang robusta, yang tidak asam. Beberapa waktu lalu juga ada perusahaan UMKM Indonesia yang sempat mempromosikan kopi di sini, ternyata langsung minat. Satu bulan kemudian mereka langsung mengirim 1 kontainer ke Iran.

Ibu Yanti, apa culture shock ketika sudah hidup di Iran?

Mewarisi Budaya Persia, Ini Kisah Menarik Ramadan dari IranDuta Besar RI di Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro (Instagram/Indonesiaintehran)

Di Indonesia, saya orang yang termasuk suka tersenyum, ketawa, bebas banget. Di sini karena memang perbedaan budaya, mereka itu seperti menyanyi di sembarang tempat gak bisa, sedangkan saya suka bernyanyi di mana-mana, apalagi kalau happy. Nah di sini gak bisa seperti itu. Sama juga kalau di antrean, atau lagi ke dokter, kita cenderung ngobrol atau ramai biasanya. Kalau di sini gak bisa. Makanya saya bisa ambil istilah ini semua orang pada sakit gigi apa ya. Kok seperti diam semua, sedangkan saya orangnya ramai.

Kalau Pak Dubes, apa nih culture shock-nya?

Kalau perbedaan (Indonesia-Iran) tidak ada. Orang Iran saya lihat ramah-ramah. Hanya saja kita kebanyakan baca media yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di sini. Katanya Iran itu perang, gak aman, nyatanya beda banget di sini. Semuanya bisa diperoleh di sini, dalam arti kita butuh apa, makanan bisa, minuman bisa, baju. Jadi perbedaan antara media dengan apa yang ada di sini yang membuat saya agak terkejut begitu tiba.

Mungkin banyak yang belum tahu perbedaan antara Arab dengan Iran yang mewariskan budaya Persia. Boleh dijelaskan, Pak Dubes?

Dari sisi bangsa, memang ada perbedaan. Tapi kalau kita lihat komposisi masyarakat Iran, cukup beragam. Kalau kita lihat Timur Tengah mayoritas Arab. Jadi Timur Tengah itu kadang kita membedakannya dari segi geografis saja. Kalau wilayah teluk itu sudah Timur Tengah, sebelum teluk masih wilayah Asia Tengah.

Nah kalau dlihat di pesisir Iran, di selatan Iran, sampai ke perbatasan Irak di sebelah barat, mereka lebih berbudaya Arab. Di situ sangat kuat budaya Arabnya. Di sisi timur, di perbatasan dengan Afghanistan, Pakistan, di situ sangat kuat budaya Pakistan dan Afghanistan-nya. Di utara ada budaya Armenia. Jadi Iran mix betul. Sama seperti di Indonesia. Di sini suku bahasanya juga banyak. Ada juga masyarakat Yahudi.

Untuk Pak Dubes juga, apa kesempatan yang bisa diambil masyarakat Indonesia di tengah hubungan kedua negara?

Mewarisi Budaya Persia, Ini Kisah Menarik Ramadan dari IranDuta Besar RI di Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro (Instagram/Indonesiaintehran)

Di sini Iran menawarkan beasiswa. Meskipun banyak beasiswa agama, tapi tidak sedikit juga beasiswa untuk sains. Kalau kita bicara sains yang cukup maju ada nano teknologi, kedokteran, alat kesehatan. Ini pas banget dengan Indonesia yang sedang menggalakkan kapasitas kesehtan di Indonesia. Ada beberapa mahasiswa di Iran yang mengambil nano teknologi, kedokteran. Bahkan ada juga diaspora Indonesia yang bekerja di perusahaan penerbangan Iran. Sudah lama jadi teknisi. Jadi banyak hal-hal yang bisa dieksplor untuk peningkatan hubungan bilateral.

Bagaimana dengan imej masyarakat Indonesia di Iran, Pak Dubes?

Citra masyarakat Indonesia sangat baik, mungkin karena hubungan kita sudah dilaksanakan beberapa ratus tahun lalu. Ada budaya di Indonesia yang itu memang budaya Iran. Ada satu perayaan di Sumatera, namanya budaya Tabuik, adalah perayaan Asyura. Itu dilakukan di Indonesia sampai saat ini. Jadi citra Indonesia di sini sangat positif. Apalagi sama-sama negara muslim. Hubungan kita dekat. Jadi kalau kita bilang Indonesia, ya kami sangat bangga dengan citranya.

Baca Juga: 6 Hadis yang Menganjurkan Umat Muslim Menyayangi Sesama 

Kalau Ibu Yanti, bagaimana rasanya menjadi warga Indonesia di tengah komunitas Iran?

Masyarakat Iran itu sangat amat menerima bangsa Indonesia. Misalnya berkenalan, ditanya dari mana, kita jawab dari Indonesia, wah mereka sangat welcome, muslim, brother. istiilahnya saudara. Mereka sangat senang, apalagi kalau kita di pedesaan, semua makanan (yang ada di rumah) bisa keluar. Karena budaya ramah tamahnya hampir sama, masyarakat Iran sangat amat menerma Indonesia, sebagai sesama muslim.

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya