Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Suriah Demo, Protes Minimnya Jumlah Perempuan di Parlemen
potret aksi demonstrasi di Kota Idlib, Suriah. (unsplash.com/Norbu GYACHUNG)
  • Puluhan perempuan Suriah menggelar demo di Aleppo menuntut peningkatan jumlah perwakilan perempuan di Majelis Rakyat yang baru dibentuk Presiden Ahmed Al-Sharaa.
  • Aksi ini dipicu keputusan Al-Sharaa menunjuk 70 anggota parlemen yang mayoritas laki-laki, membuat kaum perempuan merasa kembali ditindas dan tidak diberi ruang setara.
  • Data SANA mencatat hanya 22 dari 206 anggota parlemen adalah perempuan, mendorong demonstran menuntut keadilan serta partisipasi lebih besar dalam pengambilan keputusan negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Puluhan warga perempuan Suriah dikabarkan menggelar aksi demonstrasi di Kota Aleppo pada Sabtu (4/7/2026). Demo tersebut digelar untuk memprotes minimnya jumlah perwakilan perempuan di Majelis Rakyat Suriah yang baru saja diresmikan Presiden Ahmed Al-Sharaa.

Demo tersebut dikabarkan digelar di sebuah alun-alun yang berada di seberang Aleppo University. Di sana, puluhan perempuan mendesak Pemerintah Suriah di bawah tampuk kepemimpinan Al-Sharaa untuk membuat ulang peraturan guna meningkatkan partisipasi perempuan di legislatif. 

1. Al-Sharaa menunjuk anggota parlemen yang didominasi laki-laki

potret Presiden Suriah, Ahmed Al-Sharaa (kanan) dan Komisioner Uni Eropa untuk Urusan Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib (kiri) (commons.wikimedia.org/EC - Audiovisual Service)

Demo ini dipicu tindakan Al-Sharaa pada Rabu (1/7/2026) lalu. Kala itu, ia menunjuk 70 anggota Majelis Rakyat Suriah. Penunjukkan ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali parlemen Suriah yang sempat vakum usai rezim Presiden Bashar Al-Assad runtuh pada akhir 2024 lalu.

Jadi, dalam masa transisi pemerintahan yang berjalan selama lima tahun, Suriah akan menghidupkan kembali parlemen mereka dengan jumlah 210 anggota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 anggota dipilih oleh Al-Sharaa yang menjabat sebagai Presiden Suriah. Sementara itu, anggota-anggota lainnya dipilih berdasarkan hasil voting. Namun, 70 anggota parlemen baru yang ditunjuk Al-Sharaa pada Rabu lalu kebanyakan adalah laki-laki. Perwakilan perempuan hanya sedikit.  

2. Perempuan Suriah merasa ditindas oleh negaranya sendiri

potret warga perempuan di Suriah (pexels.com/Ahmed akacha)

Dominasi laki-laki di Majelis Rakyat Suriah ini membuat kaum perempuan di sana merasa ditindas oleh negaranya sendiri. Padahal, selain laki-laki, para kaum wanita Suriah, terutama yang berada di lingkungan pemerintah, juga berperan penting untuk membawa negara menjadi lebih baik.  

“Perempuan Suriah telah lama dipinggirkan dan ditindas, baik di bawah pemerintahan Hafez maupun Bashar al-Assad dan di berbagai wilayah negara oleh berbagai aktor, termasuk di daerah-daerah yang berada di bawah kendali HTS (Hayyat Tahrir Al-Sham),” kata salah satu peserta demo bernama Ranim Ahmed kepada The New Arab.

3. Jumlah anggota parlemen perempuan di Suriah hanya 10 persen

ilustrasi parlemen (unsplash.com/Joakim Honkasalo)

Berdasarkan data terbaru dari Syria’s Arab News Agency (SANA), jumlah total anggota parlemen Suriah saat ini adalah 206 orang. Dari jumlah tersebut, 22 anggota di antaranya adalah perempuan. Jumlah tersebut sama dengan 10,5 persen dari jumlah total anggota parlemen Suriah.  

Oleh karena itu, para demonstran mendesak Pemerintah Suriah untuk berlaku adil. Mereka mendesak pemerintah agar perempuan dapat diberikan ruang lebih luas dalam hal pengambilan keputusan, terutama di parlemen. Sebab, para demonstran tidak mau perempuan di Suriah hanya berkutat dengan urusan kasur, dapur, dan sumur saja. Mereka ingin bebas berkarya layaknya kaum laki-laki.

“Para perempuan yang berdemonstrasi di Aleppo adalah pengingat akan ketahanan itu. Mereka tidak meminta representasi simbolis atau janji kosong, tetapi menuntut tempat yang seharusnya kami dapatkan, tempat yang telah kami raih melalui kepemimpinan, pengorbanan, dan perjuangan selama bertahun-tahun,” tutup Ahmed. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article