Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Chatham House, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Penolakan kehadiran Menlu Iran di Davos dipengaruhi desakan kelompok advokasi UANI.

  • Senator AS menyamakan Iran dengan Hitler, menilai undangan sebagai penghinaan terhadap para demonstran.

  • Laporan korban tewas akibat penumpasan demonstran di Iran terus bertambah, mencapai ribuan jiwa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Forum Ekonomi Dunia (WEF), pada Senin (19/1/2026), membatalkan undangan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk hadir dalam pertemuan tahunan di Davos, Swiss. Keputusan diambil menyusul tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang protes yang menewaskan ribuan warga sipil dalam beberapa pekan terakhir.

Pihak penyelenggara menilai kehadiran perwakilan pemerintah Teheran tidak etis di tengah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di negara tersebut. WEF menyoroti hilangnya nyawa warga sipil sebagai alasan utama pencabutan undangan yang sebenarnya telah dikirimkan kepada Araghchi sejak musim gugur lalu.

1. Iran tuding Israel di balik pembatalan

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Pembatalan dipengaruhi oleh desakan dari kelompok advokasi United Against Nuclear Iran (UANI) yang mengirimkan surat protes kepada Presiden WEF. UANI menyambut baik langkah tersebut karena menilai rezim Iran tidak pantas diberi panggung internasional.

Di sisi lain, Araghchi menuding adanya campur tangan asing yang sengaja menghalangi kehadirannya melalui penyebaran hoaks. Ia juga membela tindakan negaranya sebagai upaya perlindungan diri dari kelompok bersenjata yang ia sebut sebagai teroris.

“Forum Ekonomi Dunia membatalkan kehadiran saya di Davos berdasarkan kebohongan dan tekanan politik dari Israel serta proksi mereka yang berbasis di AS,” tulis Araghchi di platform X, dilansir Iran International.

2. Senator AS samakan Iran dengan Hitler

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Senator AS, Lindsey Graham, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menentang kehadiran pejabat Iran di forum global bergengsi tersebut. Ia menilai undangan kepada Araghchi sama saja dengan menghina para demonstran yang telah mempertaruhkan nyawa.

“Mengundang menteri luar negeri Iran untuk berbicara sekarang sama saja dengan mengundang Adolf Hitler ke acara dunia setelah peristiwa Kristallnacht, keputusan ini benar-benar tidak peka,” tegas Senator Lindsey Graham, dikutip Euronews.

Menurut mantan Direktur CIA, David Petraeus, Republik Islam Iran sedang menghadapi ancaman eksistensial serius dari dalam negeri. Ia menilai rezim saat ini sudah kehilangan legitimasi di mata rakyatnya dan hanya bertahan dengan membunuh demonstran.

3. Laporan korban tewas di Iran terus bertambah

ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Laporan mengenai jumlah korban tewas akibat tindakan represif aparat keamanan Iran terus bertambah seiring berjalannya waktu. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat sedikitnya 3.919 orang tewas, termasuk puluhan anak di bawah umur.

Angka yang jauh lebih tinggi diungkapkan oleh sumber medis dan pejabat pemerintahan yang memperkirakan korban jiwa mencapai 12 ribu orang. Beberapa orang dalam bahkan menyebutkan total kematian mungkin telah mencapai angka 15 ribu jiwa.

Saksi mata di berbagai kota melaporkan aparat keamanan tidak segan menggunakan peluru tajam untuk menargetkan para pengunjuk rasa. Aparat juga dilaporkan memblokir akses korban luka ke rumah sakit dan menolak memberikan perawatan medis yang dibutuhkan.

Kekerasan tidak pandang bulu menyasar berbagai kalangan, mulai dari pedagang pasar hingga keluarga yang sedang berada di luar rumah. Pengamat menilai penumpasan ini adalah yang paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team