Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Zelenskyy Bersedia Adakan Pilpres jika Putin Setuju Gencatan Senjata
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. (commons.wikimedia.org/Офіс Президента)
  • Zelenskyy bersedia menggelar pilpres jika Putin menyetujui gencatan senjata 60 hari, menyusul dorongan Trump agar Ukraina memilih pemimpin baru demi kesepakatan damai.

  • Ukraina membutuhkan waktu mengorganisir pemilu dan jaminan keamanan sipil; warga di wilayah dudukan Rusia juga harus dapat memilih secara bebas dan adil.

  • Zelenskyy menyatakan Ukraina siap menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia apabila Rusia secara timbal balik menghentikan serangan ke fasilitas energi Ukraina.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Minggu (11/10/2026), mengatakan bahwa pemerintahannya bersedia menyelenggarakan pemilihan presiden (pilpres). Namun, dengan syarat Presiden Rusia, Vladimir Putin setuju gencatan senjata selama 60 hari. 

Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Putin setuju mengenai penjualan solar. Bahkan, Trump mendorong agar Ukraina memilih pemimpin baru agar dapat mencapai kesepakatan damai dengan Rusia. 

1. Perlu waktu untuk mengorganisir pilpres baru

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. (President.gov.ua, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

Zelenskyy mengatakan bahwa Ukraina membutuhkan waktu untuk mengorganisir pilpres baru. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah jaminan keamanan warga sipil dalam penyelenggaraan pemungutan suara. 

Tak hanya itu, Zelenskyy memastikan bahwa warga Ukraina di wilayah dudukan Rusia juga harus ikut dalam pilpres. Ia menyebut, warga di sana harus dapat memilih dengan bebas dan adil. 

Dilansir DPA International, masa jabatan Zelenskyy sebenarnya sudah berakhir pada 20 Mei 2024. Namun, di bawah aturan martial law, masa jabatan presiden dapat diperpanjang hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. 

2. Sebut pemilu berada di tangan rakyat Ukraina

ilustrasi bendera Ukraina (unsplash.com/photofixation)

Dalam wawancaranya dengan ABC News, Zelenskyy menyebut bahwa penyelenggaraan pilpres di Ukraina harus sesuai kehendak rakyat Ukraina. Ia menekankan bahwa Ukraina sebenarnya sangat menginginkan perdamaian. 

“Kami ingin damai, kami sudah siap gencatan senjata, kami siap untuk memulai segala langkah deeskalasi perang,” terangnya, dikutip dari Euronews.

Sementara, pernyataan Zelenskyy soal pilpres ini setelah Trump mendorong agar adanya presiden baru di Ukraina. Menurut Trump, Zelenskyy tidak mengupayakan lebih dalam mengakhiri perang di Ukraina. 

3. Ukraina setuju setop serangan ke fasilitas energi Rusia

ilustrasi bendera Ukraina (unsplash.com/madara_p)

Pada saat yang sama, Zelenskyy menekankan bahwa Ukraina setuju menghentikan serangan ke infrastruktur energi Rusia. Namun, syaratnya Rusia juga menghentikan serangan ke infrastruktur energi Ukraina. 

“Mungkin dapat menghentikan serangan ke infrastruktur energi hari ini. Namun, Putin tidak menginginkannya. Padahal, langkah ini resiprokal. Jangan serang kami, Jangan bunuh anak-anak kami. Kami akan menghentikan serangan ke kilang minyak dan saya pikir ini kesepakatan yang adil,” terangnya. 

Rusia dan Ukraina belakangan ini terjebak dalam perang jarak jauh menggunakan drone dan rudal. Sedangkan pasukan di garis depan juga mengalami kebuntuan usai berlangsungnya invasi skala besar Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article