Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Minta Ukraina Ganti Presiden usai Sepakat Beli Solar Rusia

3 min read
Trump Minta Ukraina Ganti Presiden usai Sepakat Beli Solar Rusia
Donald Trump (instagram.com/realdonaldtrump)
  • Trump mendesak Ukraina mengganti presiden demi membuka peluang kesepakatan damai, sekaligus meminta penghentian serangan terhadap kilang minyak Rusia yang dinilai memicu kenaikan harga bahan bakar.
  • AS menyetujui pembelian jutaan ton solar Rusia dan menunda sanksi pengiriman hingga April 2027 untuk menekan harga domestik, memicu kritik dari anggota parlemen.
  • Zelensky menolak kesepakatan tersebut karena pendapatan minyak Rusia dinilai membiayai perang, setelah serangan bom luncur Rusia menewaskan warga sipil di Zaporizhzhia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Ukraina kembali menegang pada Sabtu (10/10/2026) setelah Gedung Putih menyoroti kepemimpinan di Kyiv. Pemerintah AS secara terbuka mendesak adanya pergantian pemimpin tertinggi di Ukraina agar peluang negosiasi damai dapat terbuka.

Ketegangan tersebut meningkat usai AS menyepakati kerja sama pembelian bahan bakar solar dari Rusia. Keputusan ekonomi ini pun memicu perdebatan panas di tengah krisis energi global dan kondisi perang yang masih berlangsung.

  1. 1. Trump minta Ukraina ganti pemimpin demi akhiri perang

    Trump meminta Ukraina untuk segera mengganti pemimpinnya karena dinilai tidak mampu mencapai kesepakatan damai guna mengakhiri perang. Kepada para jurnalis, Trump menegaskan bahwa sekarang adalah saat yang tepat bagi Ukraina untuk memiliki presiden baru.

    "Saya menyarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena ia sebenarnya bisa bersepakat tetapi tidak pernah mau melakukannya," tegas Trump, dilansir Times of India.

    Selain menuntut pergantian pemimpin, Gedung Putih juga mengecam serangan militer Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Serangan drone tersebut dinilai memicu lonjakan harga yang membebani para petani dan sektor transportasi di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Washington meminta militer Ukraina menghentikan serangan ke fasilitas kilang demi menjaga kestabilan pasokan bahan bakar dunia.

  2. 2. AS sepakat beli solar dari Rusia demi tekan harga bahan bakar domestik

    Pemerintah AS sepakat membeli jutaan ton solar dari Rusia demi menekan harga bahan bakar di dalam negeri. Lonjakan harga eceran tersebut menjadi beban politik yang berat bagi Partai Republik menjelang pemilihan umum sela.

    Menindaklanjuti kesepakatan itu, Departemen Keuangan AS menunda sanksi terhadap pengiriman solar Rusia hingga April 2027, yang menjadi kelonggaran aturan energi terbesar sejak perang pecah pada 2022. Kebijakan pengendalian harga bahan bakar ini menuai penolakan keras dari kalangan anggota parlemen. Pemimpin Mayoritas Senat, Chuck Schumer, mengkritik tajam arah kebijakan pemerintah tersebut.

    "Presiden seharusnya mengakhiri perangnya dengan Iran, bukan malah mendanai mesin perang Rusia," tegas Schumer.

  3. 3. Presiden Zelensky tolak keras kesepakatan dagang bahan bakar dengan Rusia

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak keras kesepakatan dagang tersebut karena dinilai merugikan pertahanan negaranya. Zelensky menegaskan bahwa keuntungan dari penjualan minyak akan digunakan kembali oleh Moskow untuk membiayai kelanjutan perang.

    "Hadiah bagi Putin ini tidak akan membawa perdamaian atau keuntungan apa pun untuk dunia yang beradab," ujar Zelensky.

    Kekhawatiran Kiev semakin menguat setelah serangan bom luncur Rusia menewaskan warga sipil di kawasan permukiman Zaporizhzhia, tak lama usai pengumuman kerja sama tersebut. Serangan ini dinilai membuktikan bahwa Kremlin memanfaatkan pelonggaran sanksi untuk melipatgandakan gempuran militernya.

    Sementara itu, Rusia mulai melonggarkan pembatasan ekspor solar ke pasar global setelah Wakil Perdana Menteri Alexander Novak memastikan pasokan minyak mencukupi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More