Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rachmat Gobel dalam Kenangan, Mari Saya Ceritakan Kebiasaan Beliau...
Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel. (IDN Times/Aditya Mustaqim)
  • Rachmat Gobel wafat pada 10 Juli 2026 dalam tidur tenang; dikenal religius, disiplin, dan menjunjung hubungan tulus berbasis hati dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
  • Ia berkontribusi besar membangun Gorontalo lewat penataan wisata, festival rakyat, dan infrastruktur demi kebahagiaan serta kesejahteraan masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan pribadi.
  • Dalam politik, ia menolak politik uang dan menjadikannya sebagai ibadah untuk membantu rakyat; ketulusan dan kerja detailnya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

SEJAK kepergian Pak Rachmat Gobel pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB, saya benar-benar lunglai. Tak cukup energi untuk menulis status di sosmed, apalagi menulis obituari seperti biasanya jika ada kerabat, teman, atau orang penting yang wafat. Namun kali ini tak cukup daya.

Saya bukan orang yang mudah menangis, namun kali ini di saat sendiri atau di saat terkenang-kenang, saya tak kuasa untuk sesenggukan. Di hari Ahad, saya mulai mencoba menghimpun energi dan menguatkan diri. Dimulai dari tidak membuka sosmed atau membaca grup yang banyak membicarakan tentang Pak Rachmat. Namun ternyata butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Dan ternyata tetap tak sebagus yang saya inginkan.

Saya menjadi staf pribadi almarhum sejak 2021. Belum begitu lama. Namun dalam 5,5 tahun ini saya sangat intens berhubungan. Menurut subjektivitas saya, ini orang terbaik yang pernah saya kenal: lempeng, dermawan, rendah hati, sederhana, pemaaf, positif, ramah, hangat, murah senyum, detail, rapi, pekerja keras, disiplin, berkomitmen, perasa, dan hati-hati.

Di sosmed, yang ramai mengenang almarhum, disebut dengan satu frasa: orang baik. Cukup banyak yang bertanya kepada saya, “Bagaimana beliau meninggal?” “Tak terdengar ada kabar beliau sakit.” “Sakit apa? Jantung? Apnea?” Dan seterusnya. Saya bukan dokter. Jadi saya tak bisa menjawabnya.

Saya hanya menyampaikan: “Allah lebih sayang kepada Pak Rachmat Gobel. Sehingga Allah memanggilnya pulang.” Karena pada Kamis itu, Pak Rachmat beraktivitas seperti biasa. Ada kegiatan ini-itu. Pukul 10 malam pulang ke rumah. Pukul 12 malam masih mengirim pesan ke staf untuk koordinasi kegiatan. Setelah itu tidur. Namun kemudian Ibu Ade, istrinya, melihat ada ketakwajaran, sehingga dibawa ke rumah sakit. Pihak rumah sakit melakukan upaya tindakan medis, namun beliau memang telah pergi. Beliau wafat dalam kondisi tidur yang tenang. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfir lahu warchamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Pagi itu, pada pukul 03.25, saya ditelepon Pak Jimmy Tahir, adik ipar Pak Rachmat, dan saya langsung menuju ke rumah sakit. Beliau wafat di hari yang baik, hari Jumat.

Pada kesempatan ini, saya hanya akan bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan beliau, yang saya ketahui. Tentang hal-hal yang mungkin dianggap hal-hal biasa, kecil, dan remeh temeh. Tapi bagi saya, ini adalah justru kekuatan beliau. Izinkan saya menuliskan atribusi “Pak” dan “beliau”, sebagai rasa hormat, dan perspektif “saya”.

*

Bagian I

Berangkat dari Hati

Saya mulai dari hal satu ini: Saat bepergian jauh, Pak Rachmat Gobel selalu menenteng tas ransel kulit. Suatu kali, saya mencoba membantu menurunkan ransel tersebut dari bagasi kabin pesawat: berat sekali. Ya, di ransel itu ada Alquran ukuran jumbo, bukan ukuran standar. Biasanya juga membawa coklat yang sudah dikemas dalam endong, pouch, dari kain, yang ujungnya diikat. Ada beberapa endong. Dan tentu uang.

Dalam penerbangan ke Gorontalo atau ke luar negeri, Pak Rachmat meluangkan waktunya untuk membaca Alquran. Demikian pula saat di kantor, di kala tidak ada kegiatan. Bahkan di Bulan Ramahan, ia memang membuat jadwal khusus untuk membaca Al quran. Saya kadang iseng merekamnya, dan tanpa seizin beliau – memang tak pernah minta izin – menayangkannya di sosmed. Beliau memiliki target waktu untuk mengkhatamkan bacaan Al quran, apalagi jika di Bulan Ramahan.

Beliau juga rajin berzikir di saat tak ada kegiatan. Setiap masuk halaman rumah dan ke luar rumah selalu merapalkan doa. Pak Rachmat juga sangat tertib melaksanakan sholat lima waktu: di kantor, di mobil, di pesawat. Jika saya tak ikut sholat jama’ah, ia akan menegur, “Pak Nasihin tidak mau beramal pahala ke saya.” Sholat jama’ah dipercaya memiliki pahala berlipat dibandingkan dengan sholat munfarid, sendirian.

Pak Rachmat adalah orang yang konservatif. Di era digital ini sebetulnya banyak Al quran digital yang bisa terpasang di handphone. Dengan demikian, tak perlu berat menenteng Al quran, apalagi ini Al quran ukuran jumbo. Namun beliau orang yang mengikuti kata hati. Kata orang Sunda dengan Al quran digital menjadi kurang “resep”, atau kata orang Jawa kurang “marem”. Dengan Al quran biasa beliau bisa mendekap dan mengecupnya usai membaca Al quran. Tentu ganjil jika usai membaca Al quran kemudian mengecup handphone.

Kata hati, kenyamanan hati, bisikan hati, adalah kebiasaan Pak Rachmat dalam melakukan langkah. Selain pertimbangan praktis dan rasional, proses pengambilan keputusan Pak Rachmat juga mengikuti kata hati. Beliau memiliki prinsip heart to heart relationship. Semua hubungan harus selalu dimulai dari pertautan hati, termasuk dalam politik dan bisnis. Baginya, sesuatu yang dimulai dari pocket to pocket menjadi tidak langgeng, karena yang ada hanya kepentingan. Pertautan hati pula yang ia jalin dengan karyawan, bawahan, dan siapa pun, khususnya dengan masyarakat Gorontalo.

Karena itu, beliau selalu mengajarkan sesuatu agar dimulai dari mutual respect, lalu mutual trust, dan akhirnya mutual benefit. Suatu kali ia menyampaikan, orang ada saja salah dan kekurangannya, dan itu bisa diperbaiki. Namun jika berkhianat maka itu tak ada obatnya. Karena pengkhianatan dimulai dari cacatnya hati.

Dalam konteks ini, izinkan saya bercerita tentang diri saya sendiri. Mohon maaf sebelumnya. Terus terang saya tidak mengerti saya diminta menjadi staf khususnya saat beliau terpilih menjadi anggota DPR RI. Saat itu beliau belum dilantik, namun sudah pasti terpilih. Beliau menelepon agar saya bersedia menjadi stafnya. Saya bingung. Saya hanya kenal begitu saja sebagai pemimpin redaksi dengan seorang pengusaha dan seorang tokoh/menteri. Tak ada hubungan emosional apapun.

Saat itu saya sedang bekerja sebagai pegawai di BPJS Kesehatan. Saya tak tahu harus menjawab apa. Setelah dilantik menjadi wakil ketua DPR RI, saya diminta datang. Beliau menunjukkan ruang kerja yang sedang dibangun. Belum selesai. “Nanti Pak Nasihin menempati ruangan ini,” katanya menunjuk ruangan yang paling besar dari tiga ruangan itu. Kali lain menelepon lagi. Butuh waktu lebih dari satu tahun bagi saya untuk menyatakan iya. Saya bilang ke istri, “Mungkin ini sudah takdir kita.”

Akhirnya, setelah saya menjadi staf khususnya, beliau bercerita bahwa “Kehormatan saya merasa dikembalikan lagi dengan tulisan Pak Nasihin”. Waduh. Rupanya itu. Beliau memang selalu bilang kehormatan hanya bisa dibalas dengan kehormatan. Saya memang menulis tentang pencopotan beliau sebagai menteri perdagangan. Saya sepekan sekali menulis catatan tentang peristiwa yang saya anggap penting. Dalam bahasa almarhum Pak Adi Sasono, “mengomentari” peristiwa pekan itu.

Saya merangkum kebijakan-kebijakan Pak Rachmat sebagai menteri perdagangan. Semuanya bagus. Bahkan untuk kali pertama dalam sejarah, harga sembako cukup stabil selama Ramadan, Lebaran, dan Natal. Namun kebijakannya soal menolak impor beras, menolak impor pakaian bekas, memerangi penyelundupan, melarang impor tekstil bermotif batik, dan membatasi peredaran miras telah membuat para bandit ekonomi marah. Itulah yang membuat beliau dicopot. Saya menulis begitu saja. Tak ada maksud apapun, kecuali membuat komentar atas pencopotannya sebagai menteri.

Setelah sekian berlalu, beliau menelepon. Beliau meminta agar tulisan itu diprint khusus dan dibingkai dan ada tanda tangan saya. Sesuai permintaan, Republika mencetak dan membingkainya. Staf di Republika mengirimkannya ke rumahnya. Beberapa bulan kemudian, beliau menelepon lagi. Katanya barang itu hilang. Maka beliau meminta lagi. Staf di Republika pun mengirim lagi ke rumahnya. Setelah saya menjadi stafnya, dan mengetahui karakternya, saya paham maksud beliau, yang belum saya pahami saat itu. Mungkin beliau berharap saya sendiri yang mengantarkannya.

*Bagian II

“Senyum Mereka, Kebahagiaan Saya”

Kepada Pak Rachmat diperlihatkan video anak-anak berlarian di Taman Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang baru ia tata ulang. Bahkan ada ibu-ibu yang mengasuh anak-anak tersebut tidur nyenyak menunggu anaknya yang asyik bermain dengan teman-temannya. “Saya bahagia sekali melihatnya,” katanya tiba-tiba kepada saya.

Pak Rachmat baru saja menata Taman Limboto menjadi lebih baik. Menara Pakaya yang dibangun pada 2001 dan diresmikan pada 2003 itu dipercantik. Lampu-lampunya diperindah. Lima lantai di menara tersebut juga akan dibangun menjadi kafe berkelas VIP. Tamannya dipasang videotron berbentuk bola berdiameter tiga meter, ini satu-satunya di Indonesia. Di sekeliling videotron dipasang rumput sintetis kualitas premium.

Pak Rachmat selalu menyampaikan bahwa di dunia ini cuma ada tiga menara yang dihiasi lampu: Eiffel, Tokyo, dan Pakaya. Menara tersebut juga dipercantik dengan dimasang lempengan tembaga berukir yang dipesan khusus dari Yogyakarta. Sehingga menara ini tak hanya indah saat malam, juga tampak anggun berkelas di saat siang. Kini kawasan itu menjadi sangat ramai.

Pentadio, kawasan mata air panas, juga ditata. Di sini beliau letakkan patung kucing yang cantik dan lucu, ayunan lampu, dan berbagai ornamennya. Jangan tanya berapa biayanya. Sudah pasti miliaran. Videotron bola ia pesan khusus dari China. Demikian pula dengan ayunan lampu. Menurut rencana, ia juga akan menghias Pantai Bolihutuo, Boalemo, dan bundaran di Kabupaten Pohuwato dengan aneka hiasan lampu beragam bentuk. Beliau sudah ke China untuk memesan semuanya.

Sebelumnya ia sudah menata Danau Perintis, Pantai Tamendao, dan Torosiaje. Danau Perintis yang sepi di tepi hutan diletakkan kapal layar dari tembaga, lengkap dengan dermaganya. Di pinggir danau dihias lampu berbentuk tanaman gandum/padi. Juga diletakkan ayunan lampu, patung-patung tokoh kartun, dan macam-macam. Danau ini menjadi ramai. Tumbuh kafe-kafe. Pantai Tamendao yang kumuh pun menjadi tempat kongkow yang bagus kala malam dan sore hari. Di sini menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan sunset.

Kampung terapung suku laut Bajo di Torosiaje juga ia tata. Suku Bajo adalah suku laut di Asia Tenggara. Mereka membangun perkampungan di atas laut. Mereka mampu menyelam dan berjalan di dasar laut untuk berburu ikan dengan tombak untuk waktu belasan menit. Genetikanya sudah beradaptasi, denyut jantungnya bisa melemah untuk mengurangi konsumsi oksigen, dan limfanya sudah membesar. Suku ini menjadi inspirasi sutradara James Cameron untuk membuat sekuel Avatar kedua yang berjudul The Way of Water. Perkampungan Torosiaje sudah ditata menjadi lebih rapi dan ada hiasa lampu di tengah laut yang berbentuk hati. Harapannya, kampung Torosiaje akan menjadi destinasi wisata.

Selain membangun tempat wisata, Pak Rachmat juga membuat berbagai event festival. Pertama, Festival Ikan Tuna. Gorontalo menjadi penghasil ikan tuna sirip kuning. Namun potensi ini belum pernah digemakan sebagai modal untuk menggerakkan ekonomi secara lebih luas.

Selama ini cukup dengan menjual ikannya atau membuat kulinernya. Padahal ini juga bisa dimaksimalkan menjadi arena wisata. Melalui festival, maka ekonomi ikan tuna juga mencakup aspek wisata. Ia bahkan mendatangkan Raja Ikan Tuna dari Jepang: Kiyoshi Kimura. Ia pemilik jaringan restoran sushi terbesar di Jepang, Sushi Zanmai. Ia kondang karena membeli seekor tuna sirip biru seharga Rp 54,5 miliar. Di Gorontalo, ia memulai dengan mengikuti lelang ikan tuna sirip kuning. Lalu, dengan pakaian tradisional Jepang, Kimura mendemonstrasikan kemahirannya mencincang ikan tuna dengan samurai hingga menjadi sushi. Ia berdiri di atas panggung, di hadapannya, di atas meja tersaji ikan tuna. Para dayangnya berjajar berdiri di belakangnya, dengan pakaian chef warna putih. Kemudian sushi dibagikan ke para pengunjung.

Kedua, Festival Balon Udara. Ia mengundang komunitas penggemar balon udara dari Wonosobo untuk melakukan festival di Gorontalo. Keliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Tentu saja penontonnya membludak. Langit Gorontalo dihiasi aneka balon ukuran raksasa dengan aneka warna. Memang balonnya tidak bisa berkelana seperti di Cappadocia, Turki. Namun keindahan dan kesemarakannya tetap meriah. Ketiga, Festival UMKM. Festival ini menampilkan para pengusaha UMKM untuk menampilkan aneka kreasinya. Keempat, Festival Musik Milenial. Ini murni acara panggung hiburan selama beberapa hari. Kelima, Festival Pantai Bolihutuo. Potensi pantai yang luas belum tergarap dengan baik. Karena itu ia menciptakan keramaian agar masyarakat bisa menghidupkan potensi wisata di Bolihutuo.

Tentu saja pembangunan lokasi wisata dan penyelenggaraan festival tersebut memiliki tujuan ekonomi, yaitu menggerakkan ekonomi rakyat melalui UMKM yang tumbuh, seperti kuliner, transportasi, dan oleh-oleh, juga menaikkan pendapatan asli daerah melalui tiket masuk maupun pajak. Namun ada satu hal yang menjadi motivasi utamanya yang jarang ia kemukakan. Katanya, “Rakyat Gorontalo tak punya tempat hiburan. Mereka butuh hiburan.” Menurutnya, orang yang bahagia bisa menciptakan masyarakat yang sehat. Karena itu, jika pun secara ekonomi bisa gagal, namun senyum rakyat Gorontalo yang miskin dan tertinggal sudah mengembang. “Senyum rakyat Gorontalo adalah kebahagiaan saya. Itu yang tak ternilai, Pak Nasihin,” katanya.

*

Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel. (IDN Times/Herka Yanis)

Bagian III

Hati Tulus Berbalaskan Doa

Suatu waktu, saya menyampaikan kepada Pak Rachmat: “Pak, biaya politik Bapak terlalu besar.” Pak Rachmat bukan hanya membangun lokasi wisata dan mengadakan berbagai festival, tapi juga sangat cepat bertindak jika rakyat Gorontalo menghadapi masalah. Jika ada bencana banjir, longsor, dan beragam musibah lainnya, ia segera mengirimkan bantuan. Ada jembatan yang putus dan rusak, segera ia memperbaikinya. Belum lagi bantuan-bantuan lainnya, termasuk untuk mengurus partai selaku ketua DPW Partai Nasdem. Sedangkan Pak Rachmat tidak pernah main proyek, main anggaran, main fee, dan sebagainya. Ia memang mendapatkan dana reses dan berbagai dana resmi lainnya. Tapi semua itu tak mencukupi. Tetap kurang. Kurangnya jauh lebih besar.

“Politik harus menjadi bagian dari ibadah. Jadi ini soal nawaitu, Pak Nasihin,” katanya. Obrolan semacam ini selalu dalam suasana santai dan saat berdua saja.

Sikap dermawan Pak Rachmat memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jadi bukan hanya di politik. Suatu waktu, ada yang meminta bantuan. Ia memberikan dengan nominal tertentu, lalu diketahui orang sekelilingnya. Orang itu berujar, “Terlalu besar itu Pak.” Lalu ia marah, “Jangan menghalangi rezeki orang. Itu sudah menjadi rezekinya.” Lain waktu, ia bercerita tentang kebiasaannya menerima pesan via whatsapp yang meminta sumbangan. Katanya, “Kok banyak banget orang minta sumbangan.” Saya jawab, “Itu penipuan, Pak.”

Rupanya ia rutin mentransfer orang-orang yang meminta sumbangan. Gara-gara seperti itu, akhirnya, jika ada yang minta sumbangan lewat pesan WA dan lokasinya terjangkau, saya diminta untuk mengecek. Saya pun mendatangi pemilik nomor itu, setelah dipastikan benar, maka ia akan mentransfer. Tapi itu cuma sesekali saja. Selebihnya saya tak tahu. Apalagi tindakannya selalu mengikuti kata hati.

Namun terkadang saya tak tahan untuk berkomentar tentang ringannya ia membantu orang, khususnya orang-orang yang memang sengaja ngakali beliau. Bahasa Jawanya “mbujuki”. Apa katanya? “Itu artinya memang rezekinya lewat saya. Gapapa,” katanya.

Karena ia menempatkan politik sebagai bagian dari ibadah, maka ia sangat menolak money politics alias serangan fajar di hari pencoblosan. Kali pertama ia ikut pemilu 2019, pada malam hari sebelum pencoblosan, anggota timnya khawatir ia tak lolos menjadi anggota DPR. Ini karena ia tak menyebar uang. Namun malam itu di hadapan timnya ia menyampaikan, “Malam ini tidur yang nyenyak. Silakan pulang. Kita serahkan semuanya kepada Yang di Atas. Jika memang saya tidak terpilih ya tidak apa-apa. Berarti memang jalan saya bukan di politik.”

Saat berkampanye, di hadapan massa, ia memang selalu menyampaikan bahwa ia tak akan melakukan politik uang. “Jika ingin uang, jangan pilih saya. Tapi jika percaya sama saya, mari kita jalan bersama. Bapak dan Ibu memberi kehormatan pada saya, maka saya akan memberikan kehormatan pada Bapak dan Ibu,” katanya. Menurutnya, politik uang berarti telah menjual hak politik rakyat. Padahal hak politik rakyat telah dijamin undang-undang. Tak heran jika ada politisi yang tak pernah menemui pemilihnya setelah terpilih, dan akan datang menemui lagi pada pemilu berikutnya. “Tapi jika saya terpilih, saya akan datang lagi dan akan memberikan lebih banyak,” katanya.

Ia pun mengajak rakyat Gorontalo berhitung. “Berapa besarnya amplop? Katakan Rp500 ribu. Berarti tiap tahun Rp100 ribu, karena periodenya lima tahun. Lalu bagi 360 hari. Satu liter beras pun tak dapat. Sekarang saya tanya berapa harga satu ekor kambing? Harga kambing jauh lebih besar daripada martabat Bapak dan Ibu,” katanya. Lebih lanjut ia menyatakan, politik uang itu haram dan dilarang. Pertama, politik uang itu melanggar undang-undang. Kedua, manusia itu sudah dimuliakan Tuhan. Saat lahir diazankan, saat meninggal dikomatkan. Lalu mengapa manusia menghinakan diri sendiri dengan menjual martabatnya. Ketiga, politik uang itu berarti menjual hak politik rakyat, padahal undang-undang sudah menjamin hak politik rakyat. Keempat, nilainya tak seberapa. Kelima, orangtua Pak Rachmat tidak mengajarkan menghormati dan menilai orang dari materi.

Dengan segala langkah politiknya, Ipang Wahid dan Arifin Asydhad, dalam podcastnya, mempertanyakan untuk apa langgam politik Pak Rachmat tersebut. “Kalau kita bermanfaat buat masyarakat, kita mati didoain. Itu yang paling penting kan. Kalau kita manfaat buat masyarakat dan masyarakat menerima dengan bahagia, kita didoain lah,” katanya. Sesederhana itu harapannya.

“Apa yang paling nikmat dari politik? Saya bisa bantu orang. Kalau di perusahaan kan cuma sekian ribu orang. Menjadi politisi saya punya kesempatan mengenali masyarakat. Kita menjadi bersyukur atas apa yang kita miliki dan apa yang harus saya lakukan. Jadi [harus dilihat] apa manfaatnya, bukan berapa triliun nilainya,” katanya.

Rachmat Gobel bukan konglomerat besar, bukan pula tokoh besar, juga bukan pejabat yang viral. Namun kami sebagai stafnya kaget melihat respons publik yang luar biasa atas kepergiannya. Hal itu bisa dilihat di sosial media dan doa-doa yang dipanjatkan serta ramainya takziyah di beberapa tempat. Rupanya getaran hati memang senyap, dan beresonansi pada saat yang tepat. Hati yang tulus berbalaskan doa, seperti yang beliau harapkan.

*

Bagian IV

Rapi, Detail, Bercita Rasa

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu dilakukan Pak Rachmat: menata apa saja secara detail dan disiplin.

Kali pertama menjadi stafnya, setelah selesai rapat, saya bangun dari duduk dan pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Tentu saja letak kursi dan lain-lain berantakan. Toh nanti ada office boy yang akan merapikan. Bukankah begitu di semua kantor? Eh, tidak demikian dengan beliau. Pak Rachmat akan merapikan meja dan kursi terlebih dahulu. Bukan hanya kursi yang beliau duduki, tapi semua kursi yang diduduki stafnya. Semua ditata secara presisi. Beliau akan melihat lurus atau tidak, simetris atau tidak. Tentu saja saya jadi malu hati. Akhirnya saya ikut menata jika selesai rapat. Namun beliau tetap akan mengecek ulang. Tutup toples, letak toples, juga akan ia tata.

Bukan hanya meja-kursi-toples yang ia perhatikan. Beliau juga memperhatikan pakaian para stafnya. Sebagai wartawan, saya sudah merasa selalu rapi. Maklum, wartawan itu mirip seniman. Makin awut-awutan makin bangga. Namun tidak demikian dengan saya. Ibu saya berharap saya bukan menjadi wartawan, tapi menjadi pegawai kantoran yang selalu rapi dan parlente. Karena itu ketika kali pertama saya diterima kerja sebagai wartawan, ibu saya membeli tiga setel pakaian. Semuanya lengan panjang dan polos serta celana bahan. Padahal wartawan biasanya cuma mengenakan kaos, celana jins, dan sepatu sandal. Ini fenomena wartawan sebelum tahun 2000-an. Namun saya selalu rapi. Itu semacam wasiat dari ibu saya. Namun saat menjadi staf Pak Rachmat, rupanya saya dinilai masih kurang rapi. Sehingga saya didandani lebih rapi lagi.

Namun jangan dikira bahwa kerapian yang ia maksudkan harus mahal. Tidak. Dalam tata ruang, ini juga menjadi kegemarannya menata ruangan, beliau lebih menyukai konsep yang sederhana, modern, minimalis, dan ergonomis. Ada yang bilang, itu selera yang Jepang banget. Namun jika diperhatikan, itu juga menjadi ciri arsitektur tradisional Nusantara. Rumah Betawi, rumah joglo, rumah adat Gorontalo, dan sebagainya itu sangat efisien dan efektif. Tidak rumit dan tidak berlika-liku. Keluarga besar Gobel memiliki dua rumah adat Gorontalo. Rumah pribadi Pak Rachmat juga efisien dan ergonomis.

Rupanya kebiasaannya pada hal kecil, detail, dan rapi merupakan bagian dari filosofi hidupnya. Menurutnya, dalam bisnis, keuntungan perusahaan dimulai dari hal kecil yang berada di ujung, yaitu pekerjaan pegawai tingkat paling bawah. Salah satunya adalah kebersihan dan kerapian. Karena itu, saat hendak melakukan kerja sama dengan perusahaan lain, beliau akan melakukan kunjungan ke kantor atau pabriknya. Sambil diskusi ini-itu, matanya selalu menyapu semua hal. Pak Rachmat akan memperhatikan kerapian, tata letak, kebersihan, juga perilaku karyawannya. Justru hal kecil itu merupakan ruh sesungguhnya dari perusahaan tersebut. Karena itu, katanya, “Memperhatikan orang kecil itu menjadi ukuran sangat penting.”

Demikian pula untuk urusan politik dan kenegaraan. Beliau tak begitu percaya dengan narasi besar di pidato, di presentasi, dan pernyataan di media massa. Pak Rachmat selalu menyatakan, “Kita lihat bagaimana di lapangan. Itu yang menentukan.” Ini ada satu cerita tentang keberhasilannya mengendalikan harga sembako saat ia menjadi menteri. Saya menanyakannya belakangan setelah menjadi stafnya. Karena selama 25 tahun saya menjadi wartawan, tiap kali hari besar keagamaan harga sembako selalu melonjak. Rupanya itu hasil kerja lapangan yang tak diketahui publik. Tiap malam ia datang ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Bahkan ia sahur bersama dengan para pedagang grosir, para kuli, dan pedagang kecil. Berhari-hari ia lakukan. Pak Rachmat ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Beliau pun memborong dagangan dan dibagikan kepada mereka. “Akhirnya seseorang datang, ia pedagang kecil di situ. Katanya, Pak Rachmat sudah tak perlu lagi datang ke sini. Saya sudah tahu Bapak bekerja tulus. Saya jamin tidak akan ada kenaikan harga. Begitu dia bilang,” katanya. Rupanya, yang membuat harga melonjak adalah karena truk-truk yang mau masuk ke Pasar Induk dilarang masuk.

Demikian pula keberhasilannya mencegah penyelundupan. Ia rajin turun ke lapangan, ke pelabuhan-pelabuhan. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa sorot kamera. Ia bekerja dalam sunyi.

Kerja-kerja detail semacam itu juga dilakukan sebagai orang yang ingin membangun Gorontalo. Beliau rajin mengajak orang-orang Gorontalo pergi ke luar negeri. Seeing is believing, jika tak melihat sendiri orang tak akan percaya. Kira-kira begitu maksudnya. Pak Rachmat ingin memajukan Gorontalo, yang saat ini tertinggal – salah satu provinsi termiskin di Indonesia dan salah satu provinsi dengan skor IPM terendah di Indonesia. Untuk itu ia mengusung narasi “politik pembangunan dan politik kesejahteraan” dalam rangka membangun “peradaban baru Gorontalo”. Semua itu gagasan besar. Tak semua orang bisa mencernanya.

Padahal dalam teori, ide perubahan akan diterima dan didukung publik jika publik merasa terlibat. Maka beliau tak mau repot melalui seminar dan diskusi, yang itu pasti sudah dilakukan para akademisi dan pemerintahan. Karena itu ia praktis saja, beliau mengajak mereka melihat seperti apa negara maju itu: tata kota, perilaku sehari-harinya, kebersihannya, kegiatan UMKM-nya, industrinya, pemerintahannya. Pak Rachmat mengajak anggota DPRD, aktivis, akademisi, ulama, kepala desa, camat, kepala dinas, bupati, dan sebagainya. Semua dengan biaya pribadi. Dan itu dilakukan hampir tiap tahun. Mereka diajak ke Eropa, ke Jepang, ke Turki, dan sebagainya. Sekali berangkat jumlahnya bisa belasan hingga puluhan. Beliau tak mengajak mereka umroh.

Gagasan besar akan terwujud dari kerja-kerja kecil yang sunyi. Kerja-kerja teknokratis, kerja-kerja lapangan. “Kesuksesan atau keuntungan dimulai dari pekerjaan terbawah yang ada di ujung,” katanya.

*

Editorial Team

Related Article

Mattiyah Rachmat Gobel10 Jul 2026, 11:56 WIBOpinion