Tidak sedikit orang yang mengernyit saat mendengar ada relawan yang menerima gaji bulanan. Di satu sisi, pekerjaan mereka memang membantu menjalankan program sosial atau pelayanan publik. Namun, di sisi lain, kata relawan selama ini lekat dengan kesediaan bekerja tanpa mengharapkan bayaran.
Mengapa Masih Disebut Relawan jika Menerima Gaji Tiap Bulan?

- Istilah relawan dipersoalkan karena banyak yang kini bekerja dengan jadwal tetap, target, dan gaji bulanan sehingga dianggap lebih mirip pekerja formal.
- Sebagian masyarakat menilai penyebutan relawan terasa janggal bagi mereka yang menerima penghasilan rutin, sebab gaji bulanan identik dengan pekerjaan berbayar.
- Perdebatan utama bukan soal bayaran, melainkan kejelasan istilah; publik menginginkan penyebutan yang sesuai antara tanggung jawab kerja dan status sebenarnya.
Karena itu, penggunaan istilah tersebut sering memunculkan perdebatan, terutama ketika nominal penghasilannya setara bahkan melebihi sebagian pekerja formal. Lalu, mengapa masih disebut relawan jika menerima gaji tiap bulan? Sebenarnya, di mana letak batas antara relawan dan pekerja yang dibayar? Berikut beberapa sudut pandang yang membuat perdebatan ini terus muncul hingga sekarang.
1. Nama relawan tidak lagi sesuai dengan cara kerjanya

Banyak orang tidak mempermasalahkan adanya upah dalam program sosial. Melainkan, yang dipersoalkan justru penggunaan kata relawan untuk pekerjaan yang memiliki jadwal tetap, target kerja, serta gaji bulanan. Jika seseorang diwajibkan hadir setiap hari dan menjalankan tugas tertentu, publik cenderung melihatnya sebagai pekerja atau bahkan pegawai, bukan relawan.
Kebingungan muncul karena kata relawan membawa ekspektasi yang berbeda. Saat mendengar kata guru, dokter, atau petugas kebersihan, masyarakat langsung memahami bahwa profesi tersebut dibayar. Sebaliknya, kata relawan selama puluhan tahun identik dengan kegiatan sukarela. Ketika realitasnya berbeda, wajar jika muncul pertanyaan mengenai ketepatan istilah yang digunakan.
2. Banyak pekerja bergaji rendah merasa istilah ini terasa janggal

Di berbagai daerah, masih banyak pekerja yang menerima upah setara UMR atau bahkan di bawahnya dengan jam kerja penuh. Karena itu, muncul rasa janggal ketika seseorang disebut relawan tetapi memperoleh penghasilan rutin lengkap dengan perlindungan ketenagakerjaan. Perdebatan ini sering muncul bukan karena iri, melainkan karena logika bahasa yang dianggap tidak sesuai.
Bagi sebagian masyarakat kelas bawah, gaji bulanan merupakan ciri utama sebuah pekerjaan. Mereka tidak terlalu memikirkan struktur organisasi atau status administrasi. Sebab yang terlihat sederhana, ada tugas, ada jam kerja, dan ada penghasilan. Dari sudut pandang itu, istilah relawan terasa kurang pas untuk menggambarkan kondisi sebenarnya.
3. Program besar membutuhkan tenaga profesional

Di sisi lain, ada alasan mengapa sejumlah program tetap memberikan kompensasi kepada orang yang terlibat. Program berskala besar tidak bisa berjalan hanya mengandalkan niat baik. Dibutuhkan tenaga yang hadir setiap hari, mengelola operasional, menyusun laporan, hingga memastikan layanan berjalan sesuai aturan.
Masalahnya, kebutuhan tenaga profesional sering berbenturan dengan penggunaan istilah relawan. Ketika tanggung jawab sudah menyerupai pekerjaan penuh waktu, publik lebih mudah memahami jika posisi tersebut disebut staf, petugas lapangan, atau pegawai. Penyebutan yang lebih jelas biasanya mengurangi kesalahpahaman sejak awal.
4. Kata relawan kadang dipakai untuk membangun citra program

Tidak dapat dimungkiri, kata relawan memiliki kesan positif di mata masyarakat. Istilah ini identik dengan kepedulian, pengabdian, dan semangat membantu sesama. Karena alasan itu, beberapa program lebih nyaman menggunakan sebutan relawan meskipun para pelaksananya menerima kompensasi.
Pilihan kata semacam ini sering memunculkan kritik karena dianggap mencampurkan dua hal berbeda. Seseorang tetap bisa memiliki niat baik sekaligus menerima upah. Tidak ada yang salah dengan kondisi tersebut. Namun banyak orang berpendapat bahwa niat membantu tidak harus dibungkus dengan istilah relawan jika hubungan kerjanya sudah menyerupai pekerjaan biasa.
5. Perdebatan ini sebenarnya soal kejelasan, bukan soal gaji

Banyak kritik yang muncul seolah menolak relawan menerima bayaran. Padahal inti perdebatan sering kali bukan pada nominal penghasilannya. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa orang yang bekerja setiap hari memang layak mendapatkan upah. Apalagi jika tanggung jawabnya besar dan menyita waktu.
Namun, yang dipersoalkan adalah konsistensi antara nama dan kenyataan di lapangan. Jika seseorang bekerja layaknya pegawai, sebagian orang merasa lebih tepat jika statusnya disebut pekerja atau tenaga operasional. Penyebutan yang jelas membuat publik lebih mudah memahami posisi tersebut tanpa perlu menebak-nebak arti kata relawan yang digunakan.
Perdebatan seseorang disebut relawan jika menerima gaji tiap bulan kemungkinan akan terus muncul, selama penggunaan istilahnya masih dianggap kurang tepat oleh sebagian masyarakat. Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar soal uang, melainkan soal kejelasan makna di balik sebuah sebutan. Jika tugas, tanggung jawab, dan kompensasinya sudah menyerupai pekerjaan penuh waktu, masih tepatkah menyebutnya sebagai relawan?











![[OPINI] Benarkah Era Emas Drakor Sudah Berakhir?](https://image.idntimes.com/post/20260504/ezgif-2556f88541f3702d_88dd81c5-1f9c-484d-8863-12693da682d4.jpg)
![[OPINI] Mengapa Pikiran Kita Sering Keliru Memahami Kebenaran?](https://image.idntimes.com/post/20260305/upload_5cf51353f5431a6e798f2b0e795d499a_52bc9cc4-4746-457b-9a8e-610265658781.jpg)
![[OPINI] Kritik Eksistensialis Eka Kurniawan dalam Novel O](https://image.idntimes.com/post/20260414/img_20260414_101621_2eeabc49-bb57-4058-84c6-ad8fc19ed18f.png)
![[OPINI] Normalisasi Calo: Apakah Kita Sedang Merawat Budaya Korupsi Kecil?](https://image.idntimes.com/post/20260408/booking-hotel-reservation-travel-destination-concept_fb3e0906-0b68-4c99-925f-ca9afd578bae.jpg)
![[OPINI] Saat Family Man Diapresiasi, Kenapa Independent Woman Dipertanyakan?](https://image.idntimes.com/post/20260414/kenapa-family-man-dipuji-tapi-independent-woman-tidak_453012d5-3693-49b6-a09c-51af06d52b7b.jpg)
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)