Gunung bisa menjadi tempat untuk melepas penat setelah kamu dihantam dengan pekerjaan atau berbagai permasalahan hidup. Dewasa ini kegiatan mendaki juga menjadi hobi baru yang sangat populer di kalangan anak muda. Tak hanya melihat alam, para pendaki juga kerap bertemu berbagai spesies burung ketika mendaki.
5 Burung yang Kerap Dijumpai Pendaki Indonesia, Pernah Ketemu?

- Pendaki di Indonesia dapat menjumpai anis merah dan anis gunung di jalur, semak, pepohonan, hingga area gunung; anis gunung dikenal sebagai ikon beberapa gunung.
- Elang ular bido, yang memakan berbagai jenis ular, dapat terlihat dari kaki gunung sampai basecamp dan kerap bertengger di atas pohon.
- Merak hijau sering dijumpai di Gunung Argopuro dan Tanggamus, sedangkan kutilang dapat ditemukan di jalur serta sekitar tenda; pendaki diminta tidak mengusiknya.
Anis gunung, burung merak, dan burung kutilang merupakan beberapa burung yang kerap dijumpai pendaki Indonesia. Kamu bisa menemukannya di berbagai daerah, mulai dari kaki gunung, track, camping ground, hingga area puncak. Mau kenalan dengan semua burung tersebut? Yuk, simak artikel berikut.
1. Anis merah bisa ditemukan di jalur pendakian

anis merah di atas pohon (inaturalist.org/Kai Squires) Anis merah (Turdus javanicus) secara khusus hidup di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Dilansir GBIF, penyebaran anis gunung cukup luas karena mencakup Pulau Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan. Kamu bisa menemukan spesies ini di berbagai lokasi, mulai dari pinggir sungai, semak-semak, pepohonan, hingga jaur pendakian yang ramai. Ia juga dibagi menjadi tujuh subspesies, yaitu Turdus javanicus fumidus, Turdus javanicus indrapurae, Turdus javanicus javanicus, Turdus javanicus loeseri, Turdus javanicus seebohmi, Turdus javanicus stresemanni, dan Turdus javanicus whiteheadi.
2. Anis gunung dijuluki burung pemandu

anis gunung (commons.wikimedia.org/Bill Bacon) Anis gunung (Turdus poliocephalus) merupakan kerabat dekat dari anis merah, bahkan ciri fisik keduanya hampir tak bisa dibedakan. Namun, penyebaran spesies ini cukup luas mulai dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Filipina, hingga Pulau Papua. Spesies ini juga terkenal dan menjadi ikon di beberapa gunung seperti Gunung Merapi, Ciremai, dan Lawu. Berbagai sumber juga menerangkan bahwa anis gunung merupakan burung "pemandu" yang akan berjalan bersama pendaki dan memandu mereka hingga mencapai puncak (ketika naik) atau basecamp (saat turun).
3. Elang ular bido merupakan burung pemakan ular

elang ular bido (commons.wikimedia.org/Tisha Mukherjee) Seperti namanya, elang ular bido (Spilornis cheela) adalah pemakan ular. Ia bisa memakan berbagai jenis ular, entah ular kecil, ular air, ular tidak berbisa, hingga ular berbisa. Karena itu, kehadiran spesies ini secara tak langsung membuat pendaki makin aman dari ancaman gigitan ular. Burung berwarna cokelat ini juga cukup besar dengan panjang 41-75 centimeter, bentang sayap mencapai 1,6 meter, dan bobot maksimal 1,8 kilogram.
Dilansir Animal Diversity Web, elang ular bido menghuni berbagai habitat seperti savana, area mangrove, hingga pinggir hutan. Penyebarannya juga luas mulai dari India, China, Malaysia, Nepal, Filipina, sampai Indonesia. Untuk menemukan burung ini kamu harus menengok ke atas pohon di mana elang ular bido kerap bertengger. Tak hanya di puncak, tak jarang hewan ini juga terlihat di kaki gunung hingga basecamp.
4. Merak hijau bisa dijumpai di Gunung Argopuro

merak hijau (commons.wikimedia.org/William Stephens) Merak hijau yang adalah salah satu burung paling indah di Indonesia ini juga bisa kamu temukan ketika mendaki. Ia kerap terlihat di Gunung Argopuro, khususnya di Sabana Cikasur yang luas dan asri. Selain itu, hewan dengan nama ilmiah Pavo muticus ini juga bisa ditemukan di gunung lain seperti Gunung Tanggamus. Namun, merak hijau adalah spesies pemalu yang akan kabur ketika berjumpa dengan manusia.
Laman Animalia menerangkan bahwa merak hijau biasanya akan berkumpul pada malam hari. Di siang hari, burung ini cenderung mencari makan dalam kelompok kecil. Ukurannya juga besar dengan panjang mencapai 3 meter dan bobot maksimal 5 kilogram. Karena itu, ia merupakan penerbang yang buruk dan lebih sering berkeliaran di atas tanah. Di Indonesia sendiri merak hijau hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa.
5. Burung kutilang mudah dikenali dari ciri fisiknya

burung kutilang (commons.wikimedia.org/Rushen) Pycnonotus aurigaster atau burung kutilang mudah dikenali dari badannya yang gemuk, kepala hitam, jambul kecil, dan perut berwarna abu-abu. Ukurannya juga tak terlalu kecil dengan panjang maksimal 21 centimeter. Melansir iNaturalist penyebaran burung kutilang di Indonesia mencakup beberapa daerah, yaitu Pulau Jawa dan Bali. Ketika mendaki kamu bisa menemukannya bertengger di pepohonan, mencari makanan di pinggir jalur pendakian, bahkan tak jarang mendekat ke tenda pendaki. Selain di gunung burung kutilang juga gemar menjelajah ke kebun sampai area pemukiman.
Kehadiran berbagai burung yang kerap dijumpai pendaki Indonesia bisa membuat perjalananmu makin menyenangkan. Kamu tak hanya dimanjakan oleh pemandangan luar biasa dan alam yang asri, tapi kamu juga ditemani oleh burung yang merupakan warga lokal di gunung. Kamu juga tak boleh mengusik kehidupan burung. Jika bertemu mereka saat mendaki kamu harus membiarkannya dan dilarang menangkapnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















