Aghlabid Basins (commons.wikimedia.org/Mietek Ł)
Kairouan berada di wilayah semi-kering yang rentan mengalami kekeringan dan tidak memiliki sungai atau sumber air alami di dekat kota. Kondisi tersebut membuat penyediaan dan penyimpanan air menjadi persoalan penting. Pada abad ke-9, Dinasti Aghlabid membangun Aghlabid Basins sebagai bagian dari sistem pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota.
Aghlabid Basins terdiri atas dua kolam yang saling terhubung. Air terlebih dahulu masuk ke kolam yang lebih kecil untuk membantu mengendapkan sedimen sebelum dialirkan ke kolam yang lebih besar. Air di dalamnya mendapat pasokan melalui akuaduk dari wilayah perbukitan di luar kota. Peninggalan tersebut menjadi salah satu contoh kemampuan teknik pengelolaan air pada masa lalu dan membantu menyediakan cadangan air bagi masyarakat Kairouan.
Kairouan menunjukkan bagaimana sebuah kota bisa memiliki peran penting dalam sejarah, agama, ilmu pengetahuan, dan budaya. Masjid berarsitektur khas, tradisi pembuatan karpet, hingga peninggalan sistem pengelolaan air menjadi bagian dari identitas kota yang masih terlihat hingga kini. Karena itu, Kairouan tidak hanya dikenal sebagai kota suci, tetapi juga sebagai salah satu tempat penting dalam jejak peradaban Islam di Afrika Utara.