5 Fakta Menarik Kepiting Domba, Telurnya Bisa Berubah Warna

- Kepiting domba (Loxorhynchus grandis) dari California dan Meksiko utara bertubuh besar, sering ditumbuhi alga seperti bulu domba, serta memiliki capit ramping yang tetap bisa melukai manusia.
- Spesies ini aktif bergerak di dasar laut sedalam 6–150 meter, menghuni area berpasir atau berbatu, dan bermigrasi antara perairan dangkal serta dalam mengikuti suhu lingkungan.
- Kepiting domba adalah pemakan sisa yang mengonsumsi beragam organisme; betinanya menghasilkan 125–500 ribu telur dengan warna berubah dari jingga, merah, hingga cokelat menjelang menetas.
Take a Deeper Reads

Nama kepiting pasti sudah tak asing di telinga banyak orang, tapi apa kamu tahu spesies bernama kepiting domba (Loxorhynchus grandis)? Tentunya, kepiting tersebut tidak memiliki kekerabatan dengan domba yang hidup di daratan. Nama tersebut disematkan karena tubuhnya sering ditumbuhi alga yang sekilas serupa dengan bulu domba.
Selain tubuhnya yang "berbulu", kepiting domba juga punya ciri khas lain seperti berukuran besar dan ia punya capit yang relatif kecil. Kepiting yang berasal dari California dan Meksiko utara tersebut juga memiliki banyak fakta menarik, entah itu terkait makanan, kebiasaan, hingga reproduksinya. Yuk, kita ulik berbagai fakta menarik kepiting domba di bawah ini.
1. Kepiting domba punya capit berukuran kecil

kepiting domba (inaturalist.org/Mary Wholey) Kepiting domba sebenarnya merupakan spesies dengan ukuran yang cukup besar. Dilansir Sea Grant California, diameter kepiting jantan sekitar 10-24,4 centimeter sementara kepiting betina bisa tumbuh hingga berdiamater sekitar 10-17,3 centimeter. Kaki dan capit kepiting jantan umumnya juga lebih panjang dari betina. Menariknya, capit kepiting domba bentuknya tidak besar, membulat, atau kokoh. Sebaliknya, capit hewan ini punya bentuk yang ramping, memanjang, dan ujungnya relatif kecil. Meski begitu, cakar tersebut tetap berbahaya karena bisa melukai manusia.
2. Merupakan kepiting yang aktif dan gerakannya gesit

kepiting domba (inaturalist.org/Charlotte Seid) Kepiting domba adalah spesies yang cukup aktif dan terbilang gesit. Studi pada 1999 mengungkap fakta bahwa kepiting domba bisa bergerak dengan kecepatan sekitar 0,4 kilometer per jam. Gerakan yang cepat tersebut merupakan hal yang masuk akal mengingat kepiting domba punya kaki yang panjang dan kuat. Biasanya, kepiting domba akan beraktivitas di dasar laut, khususnya di kedalaman sekitar 6-150 meter. Habitat favoritnya adalah dasar laut berpasir hingga area berbatu. Ia juga termasuk hewan migrasi yang berpindah dari perairan dangkal ke perairan dalam tergantung suhu lingkungan.
3. Perkembangan telurnya ditandai oleh perubahan warna

kepiting domba (inaturalist.org/CallieSanDiego) Laman iNaturalist menjelaskan bahwa kepiting domba bisa memproduksi sekitar 125 hingga 500 ribu butir telur dalam satu masa reproduksi. Uniknya, perkembangan telur hewan ini ditandai dari perubahan warnanya. Warna jingga menandakan telur yang baru saja dikeluarkan oleh indukan. Jika warnanya berubah menjadi merah artinya telur kepiting domba sudah berada di masa pertengahan. Saat warna telurnya berubah menjadi cokelat dan mulai terlihat dua mata artinya telur hewan ini sudah mencapai masa perkembangan akhir dan siap menetas.
4. Kepiting domba merupakan scavenger

kepiting domba (inaturalist.org/saulejuskelyte) Melansir Monterey Bay Aquarium kepiting domba adalah scavenger atau hewan yang mencari makan dengan mengais. Makanan kepiting domba cukup beragam, mulai dari organisme berukuran kecil yang hidup di dasar laut, bangkai hewan, hingga sisa-sisa makanan hewan lain. Ia juga termasuk spesies generalis yang artinya bisa memakan apapun entah itu ikan kecil, bintang laut, moluska, alga, hingga kepiting lain yang ukurannya lebih kecil. Kepiting domba juga menjadi santapan bagi beberapa predator, khususnya gurita, berang-berang, singa laut, anjing laut, ikan hiu, dan ikan pari.
5. Kepiting domba merupakan hewan konsumsi di Amerika

kepiting domba (inaturalist.org/Darrell K. Moore) Nama kepiting domba memang tidak harum di Indonesia, bahkan kepiting ini tidak dijual di Tanah Air. Meski begitu, di Amerika utara yang merupakan wilayah penyebaran alaminya hewan ini cukup populer sebagai makanan dan kerap diperjualbelikan. Puncaknya terjadi pada era 1970 hingga 1990-an di mana penangkapan kepiting domba bisa mencapai angka 48 ton pada satu waktu. Kepiting domba juga kerap ditangkap dalam keadaan baycatch (ditangkap secara tidak sengaja). Hewan ini sering masuk ke perangkap lobster dan para nelayan biasanya akan melepaskannya ke laut.
Itulah beberapa fakta menarik kepiting domba, yaitu kepiting berukuran besar yang berasal dari Amerika. Kehadiran kepiting domba adalah bukti bahwa kepiting merupakan hewan yang sangat beragam. Tiap spesies memiliki ukuran, ciri fisik, dan bentuk tubuh yang benar-benar berbeda. Perbedaan tersebut merupakan hasil adaptasi dan evolusi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.






















