Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Burung kolibri violet-tailed sylph
Burung kolibri violet-tailed sylph (flickr.com/Andy Morffew)

Intinya sih...

  • Violet-tailed sylph hidup di hutan Andes barat Kolombia dan barat laut Ekuador pada ketinggian 900‒2.100 meter di atas permukaan laut.

  • Jantan memiliki ekor ungu panjang yang penting dalam seleksi pasangan, dan burung ini akhirnya diakui sebagai spesies mandiri setelah sebelumnya disangka subspesies.

  • Violet-tailed sylph menerapkan teknik trap-lining dalam mencari makan, aktif bersarang, namun tidak selalu bertelur di sarang yang dibuat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kolibri memang identik dengan tubuh mungil, warna metalik, dan kepakan sayap super cepat. Namun, di antara ratusan spesies kolibri, ada satu yang langsung mencuri perhatian begitu melintas. Namanya violet-tailed sylph (Aglaiocercus coelestis), kolibri dengan ekor panjang berkilau ungu biru yang tampak seperti perhiasan hidup di udara.

Keindahannya bukan sekadar soal warna, sebab burung kecil ini menyimpan banyak keunikan yang jarang disadari banyak orang. Dari kisah evolusinya, strategi mencari makan, hingga perannya di hutan awan Andes, violet-tailed sylph adalah spesies yang jauh lebih menarik dari sekadar tampilannya. Penasaran apa saja fakta menarik di balik burung menawan ini? Yuk, kenali lebih dekat lewat lima fakta berikut!

1. Burung spesialis dari hutan Andes barat

Burung kolibri violet-tailed sylph (flickr.com/Mike's Birds)

Violet-tailed sylph bukanlah spesies kolibri yang bisa ditemui di sembarang tempat. Spesies ini memiliki wilayah hidup yang sangat terbatas, yakni hanya di Andes barat Kolombia dan barat laut Ekuador. Persebarannya yang sempit membuat burung ini tergolong spesialis habitat, bukan burung kosmopolit yang mudah beradaptasi di banyak lingkungan.

Habitat utamanya adalah hutan montana lembap dan hutan awan, terutama pada ketinggian sekitar 900‒2.100 meter di atas permukaan laut. Lingkungan ini menawarkan suhu sejuk, kelembapan tinggi, serta kelimpahan bunga yang menjadi sumber nektar utama bagi violet-tailed sylph.

Meski paling sering ditemukan di hutan lebat, burung ini juga dapat terlihat di pinggiran hutan dan area semi-terbuka yang masih memiliki vegetasi alami. Namun, ketergantungannya terhadap tutupan hutan tergolong sedang hingga tinggi, sehingga deforestasi dan fragmentasi hutan dapat berdampak langsung pada kelangsungan hidupnya.

2. Jantan punya ekor ungu panjang yang krusial dalam seleksi pasangan oleh betina

Burung kolibri violet-tailed sylph (flickr.com/Mike's Birds)

Ciri paling mencolok dari violet-tailed sylph jantan adalah ekor panjang berwarna ungu metalik. Panjang total tubuhnya bisa mencapai 18‒21 cm, dan lebih dari separuh ukuran tersebut berasal dari bulu ekornya. Bukan ungu biasa, warna ekor ini memantulkan kilau biru iridesen yang berubah mengikuti sudut cahaya, membuatnya tampak mencolok saat terbang di hutan awan.

Dalam konteks evolusi, ekor ungu panjang ini berperan sebagai alat seleksi seksual. Jantan dengan ekor paling panjang dan berkilau cenderung lebih menarik bagi betina karena menandakan kondisi fisik yang prima. Sebaliknya, betina memiliki ekor yang jauh lebih pendek dan warna tubuh yang lebih kalem, menunjukkan dimorfisme yang sangat jelas pada spesies kolibri ini.

3. Pernah disangka subspesies, sebelumnya akhirnya diakui sebagai spesies mandiri

Burung kolibri violet-tailed sylph (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Status violet-tailed sylph sebagai spesies tersendiri ternyata tidak langsung diakui sejak awal. Burung ini sempat dianggap sebagai subspesies dari long-tailed sylph (Aglaiocercus kingi), karena kemiripan bentuk tubuh dan gaya terbangnya. Angaapan tersebut bertahan cukup lama sebelum akhirnya ditinjau ulang melalui pengamatan ilmiah yang mendalam.

Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan menemukan perbedaan konsisten pada warna ekor, perilaku, serta wilayah sebaran kedua burung ini. Jantan violet-tailed sylph memiliki ekor ungu dengan ujung biru yang khas, sementara long-tailed sylph cenderung menampilkan warna biru kehijauan.

Selain perbedaan visual, perilaku mencari makan juga menjadi pembeda penting. Violet-tailed sylph lebih sering mencari nektar di dekat permukaan tanah, sedangkan kerabatnya kerap beraktivitas di ketinggian yang berbeda. Kombinasi perbedaan inilah yang akhirnya membuat violet-tailed sylph diakui sebagai spesies mandiri, bukan sekadar variasi dari spesies lain.

4. Ahli trap-lining, teknik mencari makan yang terencana

Burung kolibri violet-tailed sylph (flickr.com/Andy Morffew)

Berbeda dari kolibri agresif yang mempertahankan satu bunga sebagai wilayahnya, violet-tailed sylph memilih strategi yang lebih efisien. Burung ini menerapkan teknik trap-lining, yaitu teknik mengunjungi rangkaian bunga yang sama secara berulang dalam rute tertentu untuk mengumpulkan nektar secara optimal.

Dalam praktiknya, violet-tailed sylph mengisap nektar sambil melayang di depan bunga, lalu berpindah ke bunga berikutnya yang jaraknya berjauhan. Pola ini memungkinkan bunga-bunga tersebut memiliki waktu untuk kembali menghasilkan nektar sebelum dikunjungi lagi. Tak hanya mengandalkan nektar, burung ini juga melengkapi asupan makanannya dengan serangga kecil dan laba-laba sebagai sumber proteinnya.

5. Terlihat aktif bersarang, padahal tak selalu berarti sedang bertelur

Burung kolibri violet-tailed sylph (flickr.com/Alejandro Bayer Tamayo)

Musim berkembang biak violet-tailed sylph umumnya berlangsung antara Oktober hingga Februari. Pada periode ini, betina membangun sarang berbentuk kubah kecil dari lumut dan sutra laba-laba, lengkap dengan lubang samping sebagai pintu masuknya. Sarang tersebut biasanya diletakkan di area terlindung, seperti rumpun lumut atau tumbuhan epifit.

Uniknya, sarang ini tidak selalu digunakan untuk bertelur. Di luar musim kawin, violet-tailed sylph tetap membangun sarang yang berfungsi sebagai tempat beristirahat pada malam hari. Kebiasaan ini kerap menimbulkan kesan bahwa burung ini berkembang biak sepanjang tahun, padahal kenyataannya tidak demikian.

Bagaimana, menarik kan fakta-fakta dari si kolibri ekor panjang ini? Violet-tailed sylph membuktikan bahwa keindahan dan keunikan tidak selalu datang dari spesies yang populer. Dengan ekor ungu yang mencolok, perilaku makan yang terencana, serta ketergantungan tinggi pada hutan awan Andes, kolibri ini menjadi contoh sempurna betapa kompleksnya kehidupan burung tropis. Meski saat ini masih berstatus Least Concern, ketergantungannya pada hutan membuat kelestarian habitat tetap menjadi kunci. Tanpa hutan yang utuh, keindahan violet-tailed sylph bisa saja hanya tinggal cerita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team