Shinkansen seri N700 di Stasiun Hiroshima, Jepang (commons.wikimedia.org/Eric Salard)
Tahukah kamu? Bentuk paruh burung dari keluarga kingfisher, termasuk cekakak batu, telah menginspirasi salah satu teknologi transportasi paling terkenal di dunia, yaitu Kereta Cepat Jepang bernama Shinkansen. Dilansir American Association for the Advancement of Science, konsep ini dikenal sebagai Biomimikri, yaitu meniru atau mengambil inspirasi dari alam untuk memecahkan masalah rekayasa manusia. Inspirasi ini digunakan untuk mendesain bagian moncong kereta Shinkansen, yang sering disebut kereta peluru.
Saat kereta Shinkansen pertama kali beroperasi dengan kecepatan tinggi lebih dari 320 km/jam dan memasuki terowongan, kereta ini mendorong udara di depannya, sehingga menyebabkan dua masalah serius, yaitu gelombang kejut dengan suara keras yang dapat terdengar hingga 400 meter jauhnya, sekaligus mengganggu penduduk sekitar; serta hambatan udara yang mengurangi efisiensi dan kecepatan kereta. Oleh karena itu, Eiji Nakatsu, seorang insinyur Jepang, mengamati bagaimana burung kingfisher menyelam. Dari situlah, moncong kereta Shinkansen dirancang ulang dengan meniru bentuk paruh kingfisher. Hasilnya, ia berhasil merancang desain moncong baja sepanjang 50 kaki yang dapat meningkatkan kecepatan kereta dan pengurangan suara bising, serta peningkatan efisiensi sebesar 15%.
Fakta-fakta ini menegaskan betapa uniknya cekakak batu dalam keluarga raja udang (kingfisher). Dengan dimorfisme seksual yang memesona, adaptasi paruh yang menginspirasi teknologi modern, dan peran pentingnya sebagai pemburu serangga di ekosistem hutan. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga hutan, agar burung berparuh merah ini tetap memiliki rumah yang aman dan memastikan suara “cekakak” mereka yang khas terus terdengar di alam liar.