Ada naga yang tidak hidup dalam dongeng, tidak menyemburkan api, dan tidak menjaga harta karun di dalam gua. Ia hidup di antara cabang-cabang pohon hutan tropis Pulau Batanta, Raja Ampat, dengan tubuh hitam yang ditaburi bintik-bintik biru terang seperti serpihan langit malam. Namanya Varanus macraei, atau blue tree monitor. Penampilannya begitu mencolok sampai-sampai sulit percaya bahwa satwa ini benar-benar berasal dari alam Indonesia. Namun, di balik tubuhnya yang memesona, biawak ini menyimpan cerita yang jauh lebih rumit. Persebarannya sangat terbatas, pengetahuan ilmiah tentang kehidupan alaminya masih belum lengkap, dan perdagangan satwa peliharaan menjadi salah satu ancaman yang terus diperhatikan para konservasionis. IUCN Red List of Threatened Species 2017 mencatat Varanus macraei berstatus endangered (EN), dengan ancaman berupa pengambilan untuk perdagangan satwa peliharaan serta kerusakan habitat hutan di Batanta.
Biawak ini juga menarik, karena evolusi seolah-olah memberinya seperangkat peralatan khusus untuk kehidupan di atas pohon. Kaki dengan jari-jari panjang dan cakar tajam membantunya mencengkeram permukaan, sementara ekornya yang sangat panjang dan dapat menggenggam cabang membuatnya begitu berbeda dari bayangan umum tentang biawak yang berkeliaran di tanah. Dokumen identifikasi Treubia mencatat individu jantan dapat mencapai panjang total sekitar 110 sentimeter, sedangkan betina sekitar 89 sentimeter; ekornya dapat mencapai kira-kira dua kali panjang tubuh dari moncong hingga kloaka. Berikut tujuh fakta yang membuat Varanus macraei layak disebut sebagai salah satu “naga” paling unik dari Raja Ampat. Cek, yuk!
