Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sakalava Rail
Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Intinya sih...

  • Sakalava Rail merupakan burung endemik Madagaskar, dengan populasi yang kian menurun.

  • Bulunya didominasi warna abu-abu dan cokelat tua, serta memiliki sayap pendek sehingga lebih suka berjalan daripada terbang.

  • Mereka dikenal sebagai spesies yang teritorial, pemakan invertebrata sejati, dan statusnya sangat mengkhawatirkan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah bentang alam Madagaskar yang kaya akan spesies endemik, terdapat seekor burung air yang keberadaannya kerap luput dari perhatian, yaitu Sakalava Rail (Zapornia olivieri). Hidup di rawa-rawa dan lahan basah yang tertutup vegetasi lebat, burung ini dikenal pemalu dan sulit diamati, sehingga informasinya relatif terbatas. Padahal, Sakalava Rail menyimpan banyak keunikan, mulai dari gaya hidupnya yang lebih suka berjalan daripada terbang hingga asal usul namanya yang membuat penasaran. Untuk memahami betapa istimewanya burung ini, mari kita telusuri fakta-fakta menarik tentang Sakalava Rail yang jarang dibahas.

1. Spesies Endemik yang Hanya Hidup di Madagaskar

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Sakalava Rail merupakan burung endemik Madagaskar, yang artinya mereka tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain di dunia. Mereka tersebar luas di Madagaskar bagian barat yang dapat ditemukan di habitat dengan vegetasi lebat dan tinggi, tepi sungai, danau, serta rawa. Dilansir dari Oiseaux Birds, biasanya mereka dapat ditemukan di sepanjang aliran sungai dan rawa dengan hamparan air terbuka dan petak-petak vegetasi termasuk bunga teratai, pakis air, rumput teki, dan rumput-rumputan tempat ia mencari makan. Selain itu, vegetasi lebat dan tinggi sangat dibutuhkan oleh mereka untuk berlindung. Kini mereka tersebar di danau Bemamba, rawa Amboropotsy, Lac Ampandra, Lac Kinkony, sungai Betsiboka, sungai Mangkony, Lac Amparhy, Lac Sahapy, hingga Lac Mandrozo. Sayangnya kini populasinya kian menurun, diperkirakan jumlah populasinya sekitar 250 hingga 999 ekor saja.

2. Warna Bulunya Sederhana tapi Eksotis

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Bulunya didominasi dengan warna abu-abu dan cokelat tua. Bulu berwarna abu-abu membentang dari ujung kepala, hingga bagian bawah tubuh. Sementara bulu berwarna cokelat tua terdapat pada bagian atas tubuh, penutup sayap atas, hingga ujung pantatnya. Selain itu, mereka memiliki paruh berwarna kuning dan mata berwarna merah yang mencolok. Memiliki ukuran yang relatif kecil, yaitu sekitar 19 cm.

Mereka juga mengalami dimorfisme seksual, yang di mana betina memiliki ukuran yang lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan jantan. Tidak hanya dari ukurannya saja, dilihat dari warna bulu bagian atas pada jantan dan betina pun berbeda – jantan memiliki bulu bagian atas berwarna cokelat kemerahan, sedangkan betina memiliki bulu bagian atas berwarna cokelat kehijauan. Selain itu, pada warna kakinya juga terdapat perbedaan pada keduanya, yang di mana jantan memiliki kaki berwarna merah cerah, sementara betina berwarna merah muda pucat.

3. Lebih Suka Berjalan daripada Terbang

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Mereka bukan burung migrasi, hal ini dipengaruhi oleh kondisi sayap yang mereka miliki. Mereka memiliki sayap yang pendek, sehingga mereka tidak bisa terbang dengan jarak panjang seperti burung pada umumnya. Dengan begitu, mereka akan mengandalkan kaki mereka yang panjang untuk bergerak. Mereka lebih suka berjalan dan berlari dibandingkan dengan terbang. Dengan ini, mereka juga dapat dengan mudah untuk mencari makan di vegetasi terapung. Namun jika mereka terancam, mereka akan berlari dan terbang pendek untuk bersembunyi di vegetasi yang lebat. Semua ini merupakan sebuah bentuk adaptasi untuk bisa bertahan hidup di habitat yang mereka tinggali.

4. Si Paling Setia Terhadap Pasangan

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Mereka dikenal sebagai spesies yang teritorial, artinya mereka lebih menyukai hidup sendirian dibandingkan hidup berkelompok. Perilakunya yang teritorial ini berpengaruh terhadap sistem perkawinannya, yang di mana mereka 'menganut' sistem perkawinan monogami – artinya mereka hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.

5. Si Pemakan Invertebrata Sejati

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Hampir setengah dari pola makanannya adalah laba-laba. Laba-laba menjadi bagian terpenting dari makanan mereka. Selain laba-laba, mereka juga memakan serangga, krustasea, hingga moluska. Untuk mencari makan biasanya mereka akan berjalan perlahan di atas vegetasi terapung yang lebat. Mereka menggunakan paruhnya untuk menyingkirkan tanaman guna menemukan invertebrata yang tersembunyi di dalamnya.

6. Asal-usul Nama yang Unik

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Tidak hanya perilakunya saja yang unik, asal-usul namanya pun tidak kalah uniknya. Nama 'Sakalava' diambil berdasarkan nama salah satu suku yang ada di Madagaskar barat, yaitu Suku Sakalava. FYI, Suku Sakalava ini merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di Madagaskar. Nama ini diambil bukan tanpa alasan, burung ini dinamai demikian karena habitat utama mereka berada di wilayah yang secara geografis terkait dengan wilayah tempat tinggal suku tersebut.

7. Statusnya Sangat Mengkhawatirkan

Sakalava Rail (commons.wikimedia.org/Anai171)

Sungguh disayangkan, mereka kini telah menyandang status terancam punah atau Endangered oleh IUCN, dan masuk dalam the IUCN's Red List of Threatened Species. Hal ini bukan tanpa sebab, hilangnya habitat menjadi faktor utama atas terancam punahnya spesies ini. Habitatnya banyak yang alih fungsikan menjadi lahan pertanian hingga pembangunan manusia. Selain itu, gangguan dari nelayan atau penduduk setempat dapat mengancam kelangsungan hidup mereka. Tindakan konservasi telah dilakukan oleh pemerintah Madagaskar sendiri, dengan melindungi beberapa lahan basah serta dengan meningkatkan langkah-langkah konservasi untuk lahan basah.

Sakalava Rail merupakan salah satu contoh betapa unik dan rapuhnya keanekaragaman hayati Madagaskar. Sifatnya yang tertutup, wilayah sebaran yang terbatas, serta ketergantungannya pada habitat rawa membuat burung ini mudah terancam oleh perubahan alam dan aktivitas manusia. Mengenal Sakalava Rail bukan hanya soal menambah pengetahuan tentang spesies langka, tetapi juga mengingatkan kita bahwa masih banyak satwa dunia yang hidup jauh dari sorotan. Tanpa upaya perlindungan yang serius, burung misterius ini berisiko menghilang sebelum kisah hidupnya benar-benar dipahami.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team