TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Cara Mengobati Kucing Cacingan yang Tepat dan Efektif

Jangan sembarangan, lho!

ilustrasi kucing kurang sehat (freepik.com/freestockcenter)

Tidak hanya pada manusia, kucing juga bisa mengalami cacingan. Mengetahui kucing kesayangan kita cacingan pasti sangat akan mengejutkan. Karena itu, kita perlu menanganinya dengan benar agar kucing selamat. 

Nah, untuk mengatasi kucing yang cacingan, kita perlu mengetahui gejalanya terlebih dahulu. Untuk itu, simak ulasan lengkap cara mengobati kucing cacingan berikut ini, ya.

Gejala kucing cacingan

Bruce Kornreich, direktur asosiasi Pusat Kesehatan Cornell Feline pada Petco menjelaskan bahwa semua kucing berpotensi terjangkit cacing. Namun, kucing tertentu mungkin berpotensi lebih besar, seperti anak kucing, anabul yang berinteraksi dengan pengerat, dan hidup dengan banyak kucing lain. 

Jenis cacing yang umum ada pada kucing biasanya menyerang pencernaan dan ususnya. Meski sifatnya asimtomatik atau tidak bergejala, tetapi terkadang kucing cacingan akan menunjukkan tanda berikut:

  • Muntah, terkadang ada cacing di muntahnya
  • Kotoran lembek
  • Berat badan terus berkurang
  • Diare
  • Perut buncit
  • Lesi kulit
  • Kondisi tubuh menurun dan bulu kusam.

Pada tingkat lebih parah, kucing juga akan lemah, dehidrasi, anemia yang ditandai dengan gusi dan bibir pucat, serta tekanan darah rendah. Apabila tidak segera mendapat pengobatan, cacing dapat menyebabkan kucing mati, lho. Untuk itu, perhatikan anabulmu, ya.

Baca Juga: 4 Perbedaan Scabies dan Jamur pada Kucing, Jangan Keliru!

Jenis cacing yang menginfeksi kucing

ilustrasi kucing tidak semangat main karena demam (unsplash.com/lodewijk hertog)

Mengetahui jenis cacing yang menginfeksi anabul membantumu memahami cara mengobati kucing cacingan dengan lebih tepat. Sebab, tidak semua jenis cacing bisa diobati dengan obat biasa. Lebih lanjut, beberapa jenis cacing pun mungkin menyebabkan efek samping berbeda atau gejala kesehatan serius. Dilansir Small Door Vet, berikut merupakan jenis cacing yang menginfeksi kucing:

  • Cacing gelang: merupakan parasit paling sering dijumpai pada kucing. Cacing jenis ini mencuri nutrisi dari makanan yang dimakan oleh kucing. Bentuknya tipis memanjang sekitar 3-5 sentimeter serta mudah terlihat di kotoran
  • Cacing pita: cacing ini berbentuk pipih dan tinggal di usus kucing. Namun, segmen cacing yang keluar melalui kotoran dan muntahan kucing biasanya berbentuk bulir kecil, seperti biji wijen berwarna putih. Anabul mungkin tertular cacing pita saat tidak sengaja menelan kutu yang mengandung telur cacing. Potensi penularan parasit ini semakin besar jika anabul menghabiskan waktu di kawasan pengerat
  • Cacing tambang: jenis cacing ini jarang dijumpai pada kucing, tetapi bukan berarti tidak menjangkit. Gigi cacing tambang berbentuk serupa kait yang digunakan menempel pada usus dan mengambil nutrisi langsung dari darah kucing. Larva cacing tambang menginfeksi kucing melalui saluran pencernaan, menembus kulit, atau diturunkan melalui induk. Cacing tambang sulit dilihat secara kasatmata. Gejala paling terlihat dari kucing yang terinfeksi cacing tambang adalah anemia
  • Cacing jantung: sesuai namanya, cacing ini menyerang jantung, paru-paru, dan pembuluh darah. Penularan cacing hati melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Belum ada obat untuk menangani infeksi satu ini, pengobatan rutin bulanan dapat mencegah penularannya
  • Cacing paru-paru: kucingmu bisa tertular cacing paru-paru ketika meminum air kontaminasi hewan pengerat yang juga terinfeksi parasit. Setelah melewati usus, cacing akan bergerak ke paru-paru dan berkembang hingga dewasa di sana. Kucing yang terinfeksi parasit ini mungkin mengalami batuk-batuk untuk mengeluarkan cacing atau melalui kotoran
  • Cacing cambuk: parasit ini menular melalui apa yang dikonsumsi kucing dan mengandung larva cacing cambuk. Telur cacing cambuk bisa bertahan di lingkungan hingga 5 tahun, 11 minggu untuk bertumbuh, dan hidup dalam tubuh inang hingga 16 bulan. Tanda-tanda infeksi cacing cambuk pada kucing yakni penurunan berat badan, masalah pencernaan, hingga diare berdarah
  • Cacing perut: penularan parasit cacing perut terjadi melalui muntahan kucing lain yang terinfeksi. Gejalanya meliputi gangguan nafsu makan, muntah kronis, penurunan berat badan, dan kekurangan gizi
  • Cacing hati: cacing jenis ini memengaruhi usus kecil, hati, saluran pankreas, dan saluran empedu. Cacing hati hidup di air dan menginfeksi kucing melalui perantara hewan lain. Misalnya, cacing menginfeksi siput darat, lalu siput dimakan kadal sebagai inang sekunder. Nah, kadal inilah yang akan menularkan cacing hati pada kucing.

Cara mengobati kucing cacingan

ilustrasi kucing ke dokter hewan (freepik.com/tonodiaz)

Penanganan pertama pada kucing cacingan yakni membawanya ke dokter hewan. Terlebih, jika kucing belum pernah diberikan obat cacing. Saat mengajak anabul ke dokter, bawa serta sampel kotoran atau muntahan kucing yang mengandung cacing untuk dicek dengan tes tinja.

Jangan tunda ke dokter hewan apabila kucing sudah mengalami diare parah, tidak nafsu makan, bahkan lemas. Anabul perlu segera mendapatkan cara mengobati kucing cacingan karena bisa berakibat fatal. 

Umumnya, dokter akan memberikan resep sesuai kebutuhan kucing. Bentuk obat cacing yang diresepkan bisa beragam. Untuk mengatasi cacing gelang dan cacing tambang misalnya, dokter mungkin memberikan obat pirantel palmoat dan milbemycin oxime secara oral dan selamectin yang diberikan secara topikal.

Adapun obat untuk mengatasi infeksi cacing pita biasanya mengandung praziquantel dan epsiprantel. Ingat, jangan gunakan sembarang obat tanpa resep dokter!

Namun, apabila anabul rutin minum obat cacing, bisa menggunakan obat yang dijual bebas, tapi tetap sesuai rekomendasi dokter, ya. Biasanya, obat cacing diberikan 2,5-3 bulan sekali secara rutin guna menghindarkan kucing dari infeksi parasit. Pastikan dosisnya sesuai, ya.

Pemberian obat cacing pada anak kucing usia kurang dari 8 minggu atau 2 bulan serta sedang hamil berbeda dengan kucing dewasa. Jika anabulmu masih kecil atau sedang hamil, konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu guna menghindari risiko gangguan kesehatan. 

Kamu juga perlu mewaspadai efek samping dari pengobatan ini. Kucing mungkin mengalami diare atau muntah selama beberapa saat. Hal ini terjadi karena obat bereaksi racun pada cacing, makanya kamu perlu berkonsultasi pada ahli medis hewan agar tidak berubah menjadi racun bagi anabul. 

Jangan lupa untuk membawa kucing kembali ke dokter jika dianjurkan. Hal ini penting guna memastikan anabul benar-benar bebas dari infeksi cacing atau perlu mendapatkan perawatan tambahan. 

Baca Juga: 5 Cara Meredakan Demam pada Kucing yang Tepat dan Efektif

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya