Bayangkan suatu pagi kamu bangun dan menyadari ada sesuatu yang berbeda di tubuhmu. Kamu memiliki sebuah ekor yang lentur, berotot, bisa digerakkan, bahkan digunakan untuk menggenggam benda ringan. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, ya? Namun, secara biologis, ide ini tidak sepenuhnya mustahil.
Faktanya, saat masih berbentuk embrio, manusia memang sempat memiliki struktur mirip ekor. Sekitar minggu keempat kehamilan, terbentuk tonjolan kecil lengkap dengan ruas dan saraf. Namun, menjelang kelahiran, struktur ini menyusut dan menyisakan tulang kecil yang kita kenal sebagai tulang ekor atau coccyx. Lalu bagaimana jika proses itu tidak pernah terjadi? Bagaimana jika evolusi tidak menghilangkan ekor manusia? Yuk, kita telusuri kemungkinannya.