5 Fakta Kukang Kerdil, Primata yang Beracun untuk Manusia

- Kukang kerdil memiliki tampilan khas dengan ciri-ciri fisik yang unik, seperti warna bulu dan ukuran tubuhnya.
- Perilaku unik kukang kerdil termasuk berjalan dengan tangan membentang, mengandalkan makanan dari cadangan lemak, dan kemampuan memproduksi racun.
- Kukang kerdil adalah hewan omnivora yang memanfaatkan matanya untuk mendeteksi mangsa, serta memiliki sistem reproduksi yang unik.
Kukang kerdil ( nycticebus pygmaeus ) adalah spesies primata yang tersebar di sebagian Asia seperti Timur dan Tenggara khususnya Kamboja, Laos, Vietnam dan China. Primata ini ditemukan di Sungai Mekong, hutan hujan primer dan sekunder, hutan pegunungan tropis, hutan bambu dan semak belukar yang lebat.
Penduduk setempat di Provinsi Mondulkiri, Kamboja menyebut bahwa kukang kerdil tinggal di hutan lebat penuh bambu dan hutan campuran gugur. Primata ini umumnya tinggal pada ketinggian 3-12 m di kanopi pohon.
Kamu harus tahu walaupun kukang kerdil memiliki wajah yang lucu, mereka diam-diam merupakan predator cukup gesit untuk menangkap mangsa. Faktanya mereka adalah hewan omnivora. Simak lebih lanjut fakta kukang kerdil yang gak kalah menarik.
1. Tampilan khas kukang kerdil

Ahli zoologi JL Harrison menggambarkan kukang kerdil seperti boneka beruang anak-anak. Ciri khas kukang ini berwarna coklat muda hingga kemerahan tua dengan bagian bawah berwarna putih atau abu-abu. Kukang kerdil berwajah gelap dengan bercak berwarna terang.
Kukang kerdil termasuk primata kecil dengan ekor dan moncong pendek, mata bulat serta bulunya yang pendek dan lebat. Kukang kerdil memiliki panjang 25 cm dan berat 120-400 g di mana jantan lebih besar daripada betina. Saat musim dingin, bercak-cak kukang menjadi keperakan.
2. Perilaku unik

Keseharian kukang kerdil adalah berjalan dengan tangan membentang dari cabang ke cabang. Kukang kerdil bergerak terus menerus selama malam hari saat periode bulan lebih hangat.
Sebaliknya, selama bulan musim dingin, kukang kerdil mengandalkan makanan dari cadangan lemak untuk bertahan hidup. Di saat yang sama, mereka juga mengurangi aktivitas dan menurunkan laju metabolisme.
Kukang kerdil dapat memproduksi racun dari kelenjar keringat yang telah dimodifikasi terletak di dekat sikunya. Mereka akan menjilati kelenjar ini ketika merasa terancam. Gigitan menimbulkan efek berbahaya bagi manusia. Walaupun jarang, ada laporan bahwa seorang wanita dewasa yang tergigit mengalami syok anaflaksis, jelas animal diversity.
3. Kukang kerdil yang omnivora

Kukang kerdil memanfaatkan matanya yang besar untuk mendeteksi mangsa. Ia diberkahi sel batang retina di mata memiliki kedalaman yang tajam. Mangsa kukang kerdil terdiri dari semut, kadal, rayap dan telur. Tumbuhan yang dimakan meliputi buah-buahan lunak, hingga pucuk muda.
Giginya juga dapat digunakan untuk menggores pohon agar meransang keluarnya getah bening dan cairan untuk dikonsumsi. Kudang kerdil hidup di habitat yang dikeliingi oleh daun, namun mereka hanya menjilatnya untuk mendapatkan kelembapan.
4. Sistem reproduksinya

Kukang kerdil sebagian hidupnya dihabiskan secara soliter kecuali saat kawin. Jantan melakukan pendekatan pada betina dengan bersiul kepada betina. Setelah kawin, betina biasanya melahirkan dengan bergelantungan di dahan dan duduk di pohon.
Betina cenderung melahirkan 1 bayi yang biasanya berjenis kelamin jantan dibandingkan betina. Anak kukang menemukan makanan melalui ciuman karena induk menandai tempat itu melalui aroma seperti kelenjar nektar bunga dan luka yang mengeluarkan getah di pohon. Kematangan seksual betina mencapai 9 bulan, sementara jantan hingga 20 bulan.
5. Sisi gelap kukang kerdil

Pemburu mengetahui kelemahan kukang kerdil yakni cahaya dapat membuat primata ini stres dan ada celah untuk ditangkap. Pemburu liar menargetkan kukang dengan menyinari pepohonan menggunakan lampu sorot. Perburuan besar-besaran untuk tujuan pembuatan obat-obatan tradisional.
Selain itu, kukang kerdil terancam perdagangan oleh perusakan habitat akibat pembakaran dan penebangan hutan. Oleh karena itu, kukang kerdil diklasifikasikan sebagai primata yang terancam punah pada 2020.
Meskipun dianggap lambat, kukang kerdil sering kali berjalan cepat dan mampu bergerak sejauh 8 km/jam. Kukang termasuk kukang kerdil terpisah sekitar 40 juta tahun lalu dari kerabat terdekatnya, kera semak afrika. Dari banyaknya fakta, ternyata kukang kerdil berbahaya bagi manusia.


















